jump to navigation

Bertobat Dan Berbuah Desember 11, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Adven III, 14 Desember 2008

Nas: Lukas 3: 7 – 14

 

BERTOBAT DAN BERBUAH

 

 

1.   Minggu-minggu adven (minggu 14 Des adalah adven III) adalah minggu-minggu bagi orang-orang percaya menurut kelender gereja sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Di satu sisi minggu-minggu adven dipergunakan sebagai persiapan untuk perayaan Natal peringatan hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu di Betlehem. Persiapan-persiapan perayaan Natal dengan membentuk kepanitiaan adalah penting, tetapi yang lebih penting adalah minggu-minggu adven menjadi waktu dan persiapan bagi orang-orang percaya menantikan Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang keduakalinya (meskipun setiap hari dan disetiap waktu kita harus selalu siap dan mempersiapkan diri).  

2.  Kalau kita membaca nas Lukas 3: 7 – 14 ini kita menemukan tiga hal yang menjadi cara kita mempersiapkan diri dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Keduakalinya sekaligus juga sebagai bukti nyata akan sukacita kita merayakan peringatan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dunia ini 2000 tahun yang lalu (artinya sukacita kita tidak hanya dalam acara ritual-ritual saja yang menghabiskan tidak sedikit dana, daya dan pikiran).

 

a. Hidup dalam pertobatan (ay.7-9)

Orang Yahudi sangat membanggakan status mereka sebagai keturuan Abraham dan umat pilihan Allah. Mereka tidak ragu sedikit pun bahwa merekalah bangsa yang dikasihi Allah. Menurut mereka Allah hanya akan menghakimi bangsa-bangsa lain sedangkan mereka akan diselamatkan atau tidak akan dihakimi karena mereka orang Yahudi, karena mereka keturunan Abraham (umat pilihan Allah). Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa hak istimewa yang di dasarkan atas ras sama sekali tidak berarti apa-apa dihadapan Allah (ay.8); penghakiman Allah berlaku baik untuk orang Yahudi maupun non-Yahudi. Selamat dari penghakiman Allah adalah dengan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya (bnd. Yoh.14:6); dalam hidup di dunia ini membuahkan buah pertobatan (bnd. Yak.2:17) sebab setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya dimana kapak sudah tersedia setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (bnd. Wahyu 14:13).

  

b.  Hidup harus saling menolong (ay.10-11)

     Orang banyak bertanya: “apakah yang harus kami perbuat”? Pertanyaan ini muncul setelah Yohanes Pembaptis menegaskan hak istimewa sebagai keturuan Abraham sama sekali tidak berarti apa-apa dihadapan Allah. Yang harus mereka lakukan adalah mereka menunjukkan cara hidup yang berkenan dihadapan Tuhan, cara hidup yang dikehendaki Tuhan yaitu mengasihi sesama manusia. Injil sosial yang diamanatkan Yohanes Pembaptis disini yaitu bahwa Allah tidak akan membebaskan seseorang yang mempunyai terlampau banyak sementara yang lainnya hampir tidak mempunyai apa-apa. Dalam hal ini dituntut hidup di dalam berkeadialan melalui hidup yang mau berbagi dengan sesama.

 

c.  Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik (ay.12-14)

     Dalam menantikan kedatangan Tuhan yang keduakalinya kita tidak diperintahkan untuk meninggalkan pekerjaan atau kesibukan yang sudah kita lakukan selama ini seperti yang dilakukan kelompok tertentu (kelompok Sdr. Manampin Sibuea di Bandung). Sebaliknya kita diperintahkan untuk tetap mengerjakan pekerjaan kita dengan baik. Seorang pemungut cukai jadilah pemungut cukai yang baik (jangan korupsi); seorang serdadu jadilah serdadu yang baik (jangan merampas); seorang parhalado jadilah parhalado yang baik (sahat ula tohonanmi) dst, bersukacita dengan apa yang kita dapatkan dari bekerja dengan baik. Tugas dan kewajiban manusia adalah melayani Allah melalui pekerjaan dimana Allah telah menempatkan kita. 

 

3.  Renungan

     a.   Bagaimana Yesus menjumpai kita apabila Dia datang keduakalinya? Bila kita belum siap, inilah saatnya mempersiapkan diri. Kita perlu mengambil keputusan untuk bertobat artinya berubah di dalam hati dan pikiran; dari seseorang yang tidak percaya menjadi percaya, dari seseorang yang  melakukan hal yang jahat menjadi seseorang yang melakukan perbuatan yang baik.

     b.   Pertobatan akan menjadi pertobatan yang berkenan dihadapan Tuhan jika pertobatan itu menghasilkan buah yang baik yaitu dengan hidup saling menolong dan melakukan pekerjaan kita dengan baik.

Memberikan Persembahan Dengan Benar November 17, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Minggu XXVI Setelah Trinitatis, 16 Nopember 2008

 

Nas: Keluaran 25 : 1 – 9

 

MEMBERIKAN PERSEMBAHAN DENGAN BENAR

 

1.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus:

      Nas ini adalah petunjuk Tuhan kepada umat-Nya melalui Musa mengenai mendirikan Kemah Suci dan persembahan khusus. Waktu itu bangsa Israel masih di padang gurun dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, tanah Kanaan. Dalam bahasan ini secara khusus akan dibicarakan mengenai persembahan. Mengapa kita harus memberikan persembahan? Dalam Keluaran 23:15 dikatakan “…janganlah orang menghadap hadirat-Ku dengan tangan hampa”. Artinya ketika kita menghadap Tuhan harus dengan membawa ucapan syukur sebab Tuhan telah berkarya dalam kehidupan kita. Tetapi dalam membawa ucapan syukut atau persembahan kepada Tuhan harus dilakukan dengan benar, sehingga persembahan kita menjadi dupa yang harum di hadapan Tuhan.

2.   Kalau kita membaca nas Keluaran 25: 1 – 9 ini, ada tiga hal yang sangat penting kita perhatikan dan renungkan mengenai memberikan persembahan dengan benar: 

      I.    Berikan Persembahanmu Karena Pengenalan Akan Tuhan

            Umat Israel diperintahkan Tuhan untuk memungut bagi-Nya persembahan khusus dari setiap orang yang terdorong hatinya. Orang yang tergerak hatinya karena pengenalan akan karya Tuhan di dalam hidupnya. Karya Tuhanlah yang menggerakkan hati kita memberikan persembahan bukan karena terpaksa atau dipaksa, bukan pula memberikan dengan bersungut-sungut tetapi memberikan persembahan dengan sukacita (2 Korintus 9:7).

            Persembahan kita bukanlah supaya kita memperoleh beberapa kali lipat dari Tuhan tetapi kita memberikan persembahan karena kita telah menerima dari Tuhan. Nyanyian KJ.No. 289 bait 8 mengatakan: “Pemb’rian kami s’lamanya dari tanganMu asalnya; yang Kauterima itulah yang Kauberi”. Oleh sebab itu, hendaklah kita selalu menghitung berkat Tuhan yang telah kita terima yang melahirkan kekaguman kita kepada Tuhan, sehingga hati kita terdorong atau tergerak untuk memberikan persembahan kepada Tuhan.

 

      II.   Berikan Persembahan Yang Terbaik Untuk Tuhan

            Dalam nas ini dari ayat 3 – 7, Tuhan memberkan daftar yang harus dipersembahkan umat Israel kepada-Nya. Semua yang didaftar tersebut adalah perbendaharaan yang terbaik dan berharga  yang dimiliki umat Israel. Demikianlah kita saat ini, dituntut untuk memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan sebab kita pun sudah menerima yang terbaik dari Tuhan. Apa yang terbaik dari perbendaharaan yang kita miliki itulah yang harus kita persembahkan. Berbicara persembahan yang terbaik bukanlah melulu berbicara mengenai berapa banyak yang harus kita berikan, tetapi yang paling penting adalah apakah kita memberikan persembahan tersebut karena dorongan pengenalan akan karya Tuhan di dalam hidup kita atau tidak. Sebab dengan mengenal akan karya Tuhan dan berkat-Nya dalam kehidupan kita pastilah hati kita tergerak untuk mempersembahkan yang terbaik.

  

      III.  Persembahkanlah Hidupmu Sebagai Tempat Kudus Bagi Tuhan

            Tuhan memerintah supaya umat-Nya membuat tempat kudus bagi-Nya sebab hanya dengan demikian Tuhan berdiam ditengah-tengah umat-Nya (bnd. Roma 12:1). Hidup kita hendaknya hidup yang dikhususkan untuk melakukan kehendak Allah, melakukan yang berkenan dihadapan-Nya yaitu dengan melakukan hidup ber-koinonia (bersekutu), ber-marturia (bersaksi) dan ber-diakonia (hidup melayani) dengan baik. Hanya gereja dan orang percaya yang menunaikan tugas dan panggilannyalah, ditengah-tengah mereka Tuhan  akan tinggal dan berdiam. Tubuh kita adalah Bait Allah, sebab itu pakailah hidupmu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang berkenan di hadapan-Nya. “Betapa hatiku berterimakasih Yesus. Kau mengasihiku, Kau mencintaiku. Hanya ini Tuhan persembahanku, terimalah Tuhan permohonanku. Pakailah hidupku sebagai alatMu, seumur hidupku” demikian syair nyayian rohani yang mengajak kita untuk mempersembahkan hidup kita sebagai tanda terimakasih dan syukur kita kepada Tuhan.

3.         Dalam setiap ibadah yang kita ikuti terdapat seruan untuk memberikan persembahan. Kita sangat penting untuk tetap merenungkan makna dari memberikan persembahan sehingga hal tersebut tidak menjadi sesuatu yang rutinitas kita lakukan tanpa makna. Oleh sebab itu, dalam setiap memberikan persembahanmu ingat dan renungkanlah bahwa: persembahan itu didasari dorongan hati akan pengenalah karya Tuhan di dalam hidup kita sehingga kita mempersembahkan yang terbaik dan mempersembahkan hidup kita menjadi tempat kudus bagi Tuhan. Amin.

SIKAP HIDUP ORANG KRISTEN Oktober 25, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Minggu XXIII Setelah Trinitatis, 26, Oktober 2008

 

Nas: Amsal 20: 22 – 27

 

SIKAP HIDUP ORANG KRISTEN

 

1.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus:

      Kitab Amsal ini berisikan banyak nasehat dan pengajaran yang menuntun setiap pembaca untuk hidup lebih baik, hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, hidup yang takut akan Tuhan. Dalam kitab Amsal ini hampir setiap ayat memberi pesan dan pengajaran yang berbeda-beda dan berdiri sendiri.

2.   Dalam nas khotbah ini penulis amsal hendak mengajarkan kepada kita bagaimana sikap hidup orang kristen yang benar dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Kalau kita membaca nas khotbah ini terdapat tiga (3) hal yang sangat penting kita renungkan dalam rangka mengamalkan Sikap Hidup Orang Kristen:

 

     I.Sikap Hidup Orang Kristen: Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan/kekerasan.

 

      Dalam kehidupan kita di dunia ini, sebagai anak-anak Tuhan mungkin  kita pernah menghadapi tindak kejahatan dari orang-orang disekitar kita. Sebagai manusia biasa, dalam pikiran kita mungkin pernah terlintas untuk membalas kejahatan dan kekerasan yang terjadi dalam kehidupan kita. Sebelum hal tersebut benar-benar kita lakukan, firman Tuhan dalam amsal ini mengingatkan kita bahwa tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan. Penulis amsal berkata: “janganlah engkau berkata: aku akan membalas kejahatan”. Sebab, jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan apakah bedanya kita dengan orang yang melakukan kejahatan tersebut. Tidak ada bukan? Sama saja kita menjadi pelaku kejahatan dan kekerasan dimana sadar atau tidak sadar kita telah memasukkan kehidupan kita ke dalam belenggu dan lingkaran kejahatan itu sendiri; dimama pembalasan berlangsung terus menerus.

 

 

      Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus:

      Jika demikian, bagaimanakah kita menghadapi segala tindakan kejahatan yang terjadi dalam hidup kita? Apakah kita membalasnya? Ya kita tidak boleh tinggal diam terhadap segala bentuk kejahatan, kita harus melawannya. Hanya yang harus kita ingat adalah janganlah kita melawan atau membalasnya dengan kejahatan. Kejahatan tersebut kita lawan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Salah satu perbuatan baik tersebut adalah dengan  berserah kepada  Allah, membawa penderitaan yang kita alami kepada Tuhan dan mempercayakannya kepada-Nya supaya Dia yang bertindak (bnd. 1 Ptrs.2:23 ; 4:19). Memohon di dalam doa supaya Dia memberikan kekuatan kepada kita dan menyelamatkan kita dari situasi yang sulit yang kita hadapi. Kita juga mendoakan orang yang memusuhi kita, orang-orang yang melakukan kejahatan supaya mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Mengenai pembalasan kita serahkan kepada Tuhan sebab hanya Tuhan-lah yang berhak melakukan pembalasan. Pada saatnya Dia akan membalas semua ketidakadilan dan kejahatan yang diderita oleh orang benar yang berseru kepada-Nya siang dan malam (Lukas 8:7-8). Kita harus percaya bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu di dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Mungkin kita sulit untuk mengerti dan memahami rencana Tuhan, yang harus kita lakukan adalah mempercayai-Nya. Nyanyian NKB.No.188 mengatakan: “tiap langkahku diatur oleh Tuhan dan tangan kasihNya membimbingku. Di tengah g’lombang dunia menakutkan hatiku tetap tenang teduh. Tiap langkahku ku tahu yang Tuhan pimpin ke tempat tinggi ‘ku diangkatNya. Hingga sekali nanti aku tiba ke rumah Bapa sorga yang baka”.

 

  II. Sikap Hidup Orang Kristen: Hidup di dalam Kejujuran dan Keadilan

 

      Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus;

 

      Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi Tuhan sebab Tuhan cinta akan kejujuran dan keadilan. Dalam dunia ini manusia sering memakai alat pengukur salah satunya adalah timbangan yang sering dipakai ketika berjualan. Adalah suatu tindakan ketidak jujuran ketika kita memakai dua batu timbangan, ketika kita membeli kita memakai batu timbangan yang menguntungkan kita ketika kita menjual kita memakai batu timbangan yang merugikan pembeli. Dalam membina hubungan dengan sesama juga sering tolok ukur yang kita pakai hanya dalam rangka mendatangkan keuntungan bagi kita. Selama dari seseorang itu masih ada sesuatu yang kita harapkan dan menguntungkan bagi kita maka kita akan terus membina hubungan dengannya; tetapi kalau sudah tidak ada yang kita harapkan maka kita memutuskan hubungan dengannya. Segala tindakan tersebut adalah kekejian bagi Tuhan sebab tindakan tersebut telah mencemarkan maksud dan rencana Tuhan mendatangkan keadilan bagi setiap orang.

 

      Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus;

      Dimanapun kita berada dan apapun yang kita lakukan haruslah kita hidup di dalam kejujuran dan keadilan. Kejujuran dan keadilan harus mewarnai kehidupan kita ketika kita berhubungan kepada siapa pun. Untuk hidup jujur dan adil hendaknya kita memeteraikan di dalam hati kita bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama yang dikasihani oleh Tuhan. Amsal 15:8 mengatakan: “korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya”; dan Amsal 14:11 mengatakan: “rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar”.

     

      Saudara-saudara:

      Roh Kudus mengaruniakan kepada kita hati yang bijak yang dapat membedakan apa tidak baik dan apa yang baik yang berkenan kepada Allah. Hati yang bijak dan iman yang telah dewasa dapat mengenal segala tindakan kefasikan sehingga dia dapat menghindarinya bahkan menggilas kefasikan itu berulang-ulang; sebaliknya hati yang bijak dan iman yang telah dewasa membentuk kita menjadi orang-orang yang hidup di dalam kejujuran dan keadilan.  

 

 III. Sikap Hidup Orang Kristen: Berhati-hati ketika berbicara

 

      Saudara-saudara yang terkasih;   

      Mulut atau lidah merupakan karunia Tuhan yang seharusnya dipergunakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tetapi sering mulut dan lidah menjadi awal mula dari sebuah perpecahan. Penulis Yakobus mengatakan bahwa kita bisa menjinakkan binatang-binatang buas tetapi mulut atau lidah sangat susah untuk kita kendalikan. Mulut dan lidah yang tidak dapat dikendalikan bisa membakar hutan yang sangat luas, bisa merusak persekutuan dan mengakibatkan perpecahan. Oleh sebab itu, ketika hendak mengatakan sesuatu kita harus lebih berhati-hati jangan asal bunyi. Orang bijak mengatakan “berpikir dulu baru bicara jangan bicara dulu baru berpikir”. Sesuatu yang kita katakan bisa menjadi jerat jikalau kita mengatakannya tanpa berpikir dulu dan tanpa menimbang-nimbang dulu. Sebagai contoh: kalau kita sudah bernazar kita harus melakukannya sebab nazar itu harus di bayar., sesuatu yang telah kita janjikan harus ditepati. Kalau dipungkiri dan tidak ditepati hal tersebut bisa menjadi preseden buruk dimana kita menjadi seseorang yang tidak dapat dipercaya kata-katanya dan hal tersebut bisa merusak persekutuan dengan sesama.  

 

      Saudara-saudara:

      Penulis Surat Yakobus menganjurkan kita untuk lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara (Yak.1:9). Anjuran ini bukanlah larangan untuk berbicara, tetapi mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati jika sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu. Yang lebih baik adalah kita sedikit berbicara dan banyak bekerja dan melakukan yang baik dalam hidup. Biarlah apa yang kita kerjakan, segala sesuatu yang baik yang kita perbuat mengkomunikasihan siapa kita yang sebenarnya.

 

3.   Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus:

      Sebagai orang-orang percaya, Tuhan telah mengaruniakan roh (hati nurani) di dalam hidup kita.  Roh inilah menjadi pelita yang menyelidiki seluruh lubuk hati kita apakah yang kita lakukan baik dalam perbuatan maupun perkataan sudah sesuai atau tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh itu menjadi hakim yang mengadili setiap yang kita kerjakan, kita katakan dan yang kita pikirkan. Tentu roh yang dapat melakukan hal yang demikian adalah roh (hati nurani) yang sehat. Bagaimana supaya roh itu sehat? Hal tersebut tergantung dari berapa banyak makanan yang kita berikan untuk dikonsumsinya yaitu firman Tuhan. Amin.

Mengaku Dosa Untuk Menerima Pengampunan Oktober 18, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Minggu XXII Setelah Trinitatis, 19, Oktober 2008

 

Nas: Mazmur 51: 9 – 15

 

Mengaku Dosa Untuk Menerima Pengampuan  

 

1.   Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus,

Permasalahan terbesar yang dihadapi manusia adalah dosa. Dosa adalah pabrik atau sumber penderitaan yang dialami manusia di dunia ini. Kekacauan dunia yang mengakibatkan penderitaan, kemiskinan, kesengsaraan manusia di seluruh dunia adalah juga akibat dosa. Menyelesaikan permasalahan mengenai dosa adalah misi Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Dia datang membawa pengampunan dosa bagi orang-orang yang mau datang dan percaya kepada-Nya. Akibat dosa adalah kematian, dan kematian akibat dosa itulah yang ditaklukkan Yesus melalui kematian dan kebangkitanNya. Di dalam Yesus sudah tersedia pengampunan dosa. Persoalannya adalah: apakah kita mau mengaku dosa dan memohon pengampunanNya. Mengenai hal itulah yang kita temukan dalam pemberitaan firman yang tertulis dalam Mazmur 51: 9 – 15 ini.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Mazmur 51 ini adalah doa pribadi raja Daud yang mengaku dosa dan memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosanya ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.

Saudara-saudara,

Kalau kita membaca 2 Samuel 11 – 12, disana diberitakan bahwa raja Daud begitu tergoda akan kecantikan dan keelokan Batsyeba yang sudah bersuami bernama Uria. Daud menyuruh orang mengambil dia dan melakukan perselingkuhan dengan Batsyeba yang kemudian mengandung hasil perselingkuhan. Ketika Daud mendengar bahwa Batsyeba telah mengandung. Dengan kekuasaan yang dimilikinya Daud memerintahkan supaya Uria di tempatkan di barisan paling depan dalam pertempuran yang hebat supaya dia mati dan dengan demikian dia bisa memiliki Batsyeba karena sudah janda. Dan memang setelah Uria mati dan masa perkabungan Batsyeba telah berakhir, Daud menjadikannya menjadi Batsyeba menjadi isterinya.

Saudara-saudara yang dikasihi Yesus Kristus,

Apa yang dilakukan Daud ini adalah jahat di mata Tuhan. Tuhan mengutus nabi Natan untuk memperingatkan Daud atas kejahatan yang telah dilakukannya. Nabi Natan memperingatkan Duad dengan menceritakan sebuah cerita yang menunjukkan ketidakadilan yang dilakukan seorang yang kaya kepada seorang yang miskin. Dengan spontan raja Daud mengataka: “demi Tuhan yang hidup orang yang melakukan itu harus dihukum mati, dan harus mengganti segala kerugian yang diderita orang miskin tersebut”. Selanjutnya nabi Natan berkata: “engkaulah orang itu”. Dan hukuman Tuhan terhadap Daud adalah: “bahwa pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya”.

 

2.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

      Kita semua adalah manusia-manusia yang berdosa yang sering melakukan kesalahan di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama. Dosa dan kesalahan tidaklah baik kalau disembunyikan sebab tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Sebaliknya dosa dan kesalahan harus segera dibereskan. Dosa dapat dibereskan dengan datang menghadap Tuhan mengaku segala dosa dan kesalahan kita serta memohon pengampunan-Nya; seperti yang dilakukan raja Daud dalam nas ini.  Kalau kita membaca Mazmur 51: 9 -15 ini, kita dapat mempelajari bagaimana raja Daud dalam hal memohon pengampunan dosa:

 

      a.   Mengaku Dosa dan Memohon Pengampunan

                  Mengenal diri sebagai manusia berdosa sangat penting dalam rangka memohon pengampunan dosa. Banyak orang yang merasa dirinya benar dan tidak berdosa, tetapi ada juga orang yang tidak tahu lagi bahwa yang dilakukannya adalah dosa karena sudah terlalu sering dilakukan, sudah menjadi kebiasaan. Ada juga yang menutupi dosanya dengan mencari kambing hitam atau melemparkan kesalahan dan dosa kepada orang lain. Orang-orang yang demikian tidak akan mau memohon pengampunan dosa sebab merasa tidak berdosa.

            Saudara-saudara,

                  Hanya yang mengaku bahwa dia seorang yang berdosa dan sadar bahwa dia berdosa yang mau memohon pengampunan dan orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan dan membutuhkan untuk diampuni. Hal itulah yang ditunjukkan raja Daud, dia tidak membenarkan dirinya atau mencari kambing hitam, tetapi dia mengaku bahwa dia seorang yang berdosa. Dalam Mzm.51:5-7 raja Daud mengaku: “aku sadar akan pelanggaranku, aku bergumul dengan dosaku, terhadap Engkau aku berdosa, aku melakukan apa yang Kau anggap jahat, dalam kesalahan aku dilahirkan dan dalam dosa aku dikandung ibuku”. Memang tidak dijelaskan secara rinci apa saja dosa-dosa yang dilakukan Daud, tetapi secara khusus dosa yang dilakukannya adalah perbuatannya kepada Uria untuk mendapatkan Batsyeba.

                  Seseorang yang memiliki kesadaran yang begitu mendalam akan dosanya melahirkan pengakuan dosa yang dilanjutkan dengan mohon pengampunan dosa. Pertama; memohon agar Tuhan melepaskannya dari dosanya dengan hisop, agar menjadi tahir kembali. Hisop adalam semacam semak. Di Palestina, hisop biasanya tumbuh di atas tanah yang berbatu, karena baunya yang harum digunakan sebagai alat pemercikan dan pentahiran ritual. Pemazmur ingin bersih kembali lebih putih dari salju (bnd. Rat. 4:7). Kedua: memohon agar ‘dapat mendengar lagi kegirangan dan sukacita’. Keadaan di dalam dosa adalah keadaan seperti orang yang tulang-tulangnya diremukkan oleh Tuhan, tidak ada kegirangan dan sukacita yang ada adalah penderitaan dan kesusahan. Dengan memohon pengampunan dosa pemazmur menginginkan kegirangan dan sukacita ada di dalam hidupnya. Ketiga; memohon agar Tuhan menyembunyikan wajahNya terhadap dosanya. Artinya Tuhan tidak memandang dosanya yang menjadi alasan untuk menghukumnya.

                 

            Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,

                  Apakah kita sudah menyadari dan mengaku bahwa kita adalah manusia berdosa? Jika sudah akuilah segala dosa dan kesalahan dihadapan Tuhan dan mohonlah pengampuna-Nya. Jangan pernah merasa malu mengaku dosa sebab hanya orang yang mengaku dosa yang akan diampuni.  

           

      b.   Keinginan untuk bertobat                       

                  Pertobatan belumlah sempurna  hanya dengan memohon pengampunan, itu baru separoh perjalanan. Dalam ay.12-14, pemazmur sampai pada kepenuhan pertobatan. Pemazmur memohon supaya batinnya diperbaharui dengan roh yang teguh. Permohonan supaya batinnya diperbaharui adalah keinginan untuk bertobat dan keinginan untuk menjadi seorang yang taat dan setia kepada Tuhan. Roh yang teguh adalah roh yang tidak lagi dikuasai dan diperhamba dosa tetapi roh yang dengan rela melakukan kehendak Tuhan. Dengan melakukan kehendak Tuhan dia tidak akan dibuang dari hadapan Tuhan sebaliknya dia akan diselamatkan dimana Roh Kudus akan berdiam di dalam diri pemazmur yang menentukan arah dan kehidupannya. Intinya dengan permohonannya ini pemazmur tidak mau dipisahkan dari Tuhan sebab dengan kehadiran Tuhan dia akan dikuatkan untuk menjadikan dirinya seluruhnya hidup bagi Tuhan.

                 

            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

                  Mengaku dosa dan memohon pengampunan dosa tidaklah lengkap tanpa adanya keinginan untuk bertobat.         Pertobatan adalah kembali kepada Allah dan melakukan kehendak Allah dengan taat dan setia. Untuk menjadi taat dan setia tentu membutuhkan pembaharuan dan pembaharuan itu hanya berasal dan bersumber dari Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus membina hubungan dan persekutuan yang baik dengan Tuhan sehingga RohNya yang kudus menguatkan kita melakukan segala perintahNya dengan taat dan setia sebagai buah dari pertobatan.

     

      c.   Menjadi alat di tangan Tuhan

                  Bersyukur merupakan respon kita atas pengampunan dosa dan pembaharuan hidup yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Sebab hanya dengan pengampunan dan dengan pembaharuan yang dilakukan Tuhan kita mendapatkan kembali kegirangan dan sukacita yang karena dosa sempat hilang dari kehidupan kita. Sebagai tanda hati yang bersyukur karena karya Tuhan yang mengampuni dan membaharui hidupnya pemazmur menyatakan janjinya bahwa dia akan mengajarkan jalan Tuhan kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang yang berdosa berbalik kepada Tuhan. Pemazmur tidak mendiamkan kasih setia Tuhan tetapi dia membagikannya kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran; pemazmur menjadi alat di tangan Tuhan untuk memanggil setiap orang kepada pertobatan (berbalik kepada Allah dengan meninggalkan jalan hidup yang salah).

 

            Saudara-saudara yang dikasihi Yesus Kristus,

                  Tuhan Yesus mengatakan: “demikian juga ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Lukas 15:7; lih. Lukas 15: 10, 32). Sebagai orang-orang yang sudah menerima kasih karunia dan pengampunan dari Allah di dalam kematian dan kebangkitan AnakNya Tuhan Yesus Kristus kita diberi tanggungjawab untuk membuat di sorga ada sukacita dengan memberitakan kasih setia dan jalan Tuhan kepada orang-orang yang masih di dalam kegelapan, yang masih dikuasai oleh perbuatan-perbuatan pelanggaran. Kita terpanggil untuk turut serta mengambil bagian dalam program HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di tahun 2008 ini yang ditetapkan sebagai tahun marturia (bersaksi) dengan membawa satu orang (mamboan sadanari) kepada Kristus.  

           

5.   Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus,

            Dosa bukanlah sesuatu yang harus ditutup-tutupi atau disembunyikan. Langkah yang terbaik adalah datang kepada Yesus Kristus. Dengan berani mengaku dosa dihadapan takhta kasihNya dan memohon pengampunan. Percayalah, kegirangan dan sukacita akan mewarnai kehidupan kita dan kita akan Tuhan pakai untuk memberitakan dan mengajarkan kasih setia-Nya kepada orang-orang disekitar kita. Ingatlah, bahwa lumbung Tuhan tidak pernah penuh selalu ada tempat bagi orang yang mau bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Orang-orang percaya adalah pekerja Tuhan untuk memanen tuai dan memasukkannya ke lumbung Tuhan. Amin.

Dibenarkan Karena Iman Oktober 12, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, XXI Setelah Trinitatis, 12 Oktober 2008

 

Nas: Roma 3: 23 – 28

 

Dibenarkan  Karena Iman

 

1.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

      Jemaat Roma alamat surat rasul Paulus ini bukanlah hasil dari penginjilan yang dilakukan oleh rasul Paulus. Namun biarpun demikian rasul Paulus mempunyai keinginan yang besar dan meluap-luap ingin secepatnya dapat mengunjungi jemaat di Roma. Keinginan tersebut selalu gagal karena berbagai hal sehingga rasul Paulus mengirim surat ini untuk memperkenalkan dirinya kepada  jemaat di Roma yang di dalamnya kita menemukan pemikiran teologis rasul Paulus.

     

      Salah satu pemikiran teologis Paulus dalam surat Roma ini adalah masalah pembenaran. Bagaimanakah manusia itu dibenarkan? Manusia dibenarkan bukan karena melakukan hukum taurat tetapi karena iman kepada kasih karunia Allah di dalam penebusan AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Jalan Allah bukanlah jalan hukum melainkan jalan anugerah; bukan didasarkan pada apa yang dapat kita perbuat tetapi didasarkan atas apa yang telah diperbuat Allah untuk kita manusia berdosa. Namun kita harus mengingat kalau manusia berdosa dibenarkan karena iman bukan berarti hukum taurat menjadi tidak perlu dalam kehidupan kita. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk meniadakan hukum taurat tetapi untuk menggenapinya. Hukum taurat itu tetap perlu dan berguna bagi hidup umat manusia. Hukum taurat sangat penting untuk menyadarkan manusia akan dosa dan pelanggarannya. Hukum taurat berguna memperlihatkan kepada manusia kelemahannya dan keadaannya yang penuh dosa.

 

2.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

      Dalam nas ini ada beberapa hal yang sangat berharga dan penting untuk kita pelajari dan kita renungkan:

     

      Pertama:    Yang dibenarkan dan diselamatkan adalah yang mengakui bahwa dia manusia berdosa

      Suatu hari, seorang Gubernur mengunjungi penjara dimana orang-orang yang melakukan tindakan kejahatan dipenjarakan dan dibina. Pada kunjungan tersebut sang gubernur bertanya kepada orang yang dipenjarakan: Kenapa mereka dipenjarakan? Orang pertama berkata: bahwa dia tidak bersalah bahwa dia difitnah. Orang kedua menjawab: bahwa  hakim salah mengambil keputusan yang memutuskan dia bersalah. Orang ketiga menjawab: bahwa dia bersalah dan dia mengaku bahwa dia layak dihukum. Kepada orang yang ketiga tersebut sang gubernur berkata: saya memberikan pengampunan kepadamu. Hari itu juga dia dibebaskan dari penjara.

      Rasul Paulus mengatakan: “karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah”. Hanya orang yang mengaku dirinya berdosa membutuhkan pengampunan dosa; hanya orang yang mengaku bahwa dirinya tidak benar membutuhkan supaya dia dibenarkan; hanya orang yang mengaku bahwa dirinya lemah akan memperoleh pertolongan; hanya orang yang mengaku bahwa dirinya telah kehilangan kemuliaan Allah akan dipulihkan kemuliaannya. Untuk menunjukkan pembenaran adalah cuma-cuma rasul Paulus mempergunakan seseorang yang tidak bersalah berdiri dihadapan hakim yang memperlakukannya sebagai orang yang tidak bersalah artinya dia dibebaskan. Tetapi dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia adalah bersalah, tetapi Allah dalam kemurahanNya yang menakjubkan telah memperlakukan, memperhitungkan, menghargainya sebagai manusia yang tidak bersalah. Kesalahan dan dosa manusia tidak diperhitungkan karena manusia itu mengakui bahwa dia adalah manusia berdosa dan dia tidak berkuasa menjadi benar hanya karena perbuatannya; jadi manusia itu hanya mengandalkan kemurahan dan kasih karunia Tuhan belaka yang dapat membenarkan dan menyelamatkannya. Hanya orang yang mengaku bahwa dia berdosa akan memperoleh pengampunan dan keselamatan. Sebab Yesus datang bukan untuk orang-orang yang sehat tetapi kepada orang-orang yang sakit dan hanya orang sakitlah yang membutuhkan penyembuhan.

 

      Kedua:    Pembenaran dan keselamatan diberikan karena kasih karunia dan dengan cuma-cuma

      Orang Yahudi biasanya untuk memohon pengampunan dosa dan perdamaian adalah dengan membawa persembahan korban bakaran kepada Allah. Tujuannya adalah supaya korban itu menyingkirkan hukuman yang akan menimpanya karena dosa dan pelanggaran yang dilakukannya. Tetapi, semua korban tersebut gagal mencapai tujuan yaitu pengampunan dan perdamaian. Segala korban-korban bakaran gagal memperbaiki hubungan manusia dengan Allah. Dengan persembahan dan korban apakah manusia itu diselamatkan dan dibenarkan? Rasul Paulus mengatakan bahwa hanya dengan penebusan Yesus Kristus manusia itu dibenarkan dan diselamatkan. Allah telah menentukan Yesus Kristus menjadi korban satu-satunya untuk membenarkan dan menyelamatkan manusia sekali untuk selama-lamanya. Apa yang terjadi di kayu salib membuka kembali hubungan baik dengan Allam, suatu pintu atau jalan yang tidak dapat dibuka oleh korban-korban yang lain. Apakah dengan demikian kita tidak perlu lagi memberikan persembahan kepada Tuhan? Perlu. Tetapi bukan lagi untuk memperoleh pembenaran dan keselamatan melainkan  sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang telah dikarunia secara cuma-cuma kepada kita.

 

      Ketiga:    Dibenarkan karena iman kepada kasih karunia penebusan di dalam Yesus Kristus

      Ada satu aliran Yudaisme yang mengadakan perhitungan laba rugi dengan Allah. Pada akhirnya, orang akan sampai pada pengertian, bahwa Allah berhutang padanya. Padahal manusialah yang berdosa dan berhutang kepada Allah; tak ada seorang pun yang dapat memperbaiki hubungannya dengan Allah melalui usahanya sendiri. Oleh sebab itu, tidak ada lagi alasan untuk merasa puas atau menyombongkan usahanya sendiri. Yang dibutuhkan adalah iman kepada kasih karunia penebusan di dalam Yesus Kristus. Kasih karunia penebusan di dalam Yesus Kristus berkuasa dan berkarya jika seseorang itu mengimaninya. Iman yang dimaksud rasul Paulus adalah ketaatan, kesetiaan dan percaya akan kuasa Tuhan yang membenarkan dan menyelamatkan orang berdosa.

      Iman kepada kasih karunia penebusan di dalam Yesus Kristus harus nyata di dalam kehidupan sehari-hari; sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

 

3.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

      Kita semua adalah orang-orang yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena dosa seharusnya kita harus dihukum tetapi syukur kepada Allah yang telah membenarkan kita dengan kasih karunia dalam penebusan AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Saat ini kita dituntut supaya iman kita semakin bertumbuh dan lebih dewasa. Dan kita menunjukkan buah dari iman di dalam kehidupan kita melalui perbuatan-perbuatan yang baik. Amin.

Memberitakan Tahun Rahmat Tuhan Oktober 4, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, XX Setelah Trinitatis, 05 Oktober 2008

 

Nas: Yesaya 61: 1 – 3

 

Memberitakan Tahun Rahmat Tuhan

 

1.   Pendahuluan

      Yesaya 61 ini bagian dari trito-Yesaya atau Yesaya bagian ke-tiga, seorang nabi yang bernubuat setelah pembuangan. Pada tahun 538 sebelum masehi Raja Koresy mengizinkan orang-orang Yahudi untuk pulang ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 6:3-5). Sekelompok demi sekelompok orang-orang Yahudi mulai pulang dari pembuangan untuk bergabung dengan golongan masyarakat yang tetap tinggal di Yerusalem dan secara bersama-sama meletakkan dasar Bait Suci (Ezra 5:14-16). Tetapi yang terjadi adalah pembangunan Bait Suci tidak maju-maju, kota masih reruntuhan dan timbul berbagai ketegangan dimana orang-orang, khususnya yang berkecukupan, mengutamakan pembangunan rumahnya sendiri, sedangkan orang-orang miskin tidak dapat berbuat apa-apa untuk pembangunan bait suci dan pembangunan rumahnya sendiri.

      Jadi, walaupun mereka sudah kembali dari pembuangan, tetapi orang-orang Yahudi masih berada di dalam tahun-tahun gelap dan penuh frustasi. Dalam situasi yang demikian bangkitlah seorang nabi dan pengkhotbah yang membawakan firman Tuhan. Teguran lama yaitu untuk tetap setia kepada Tuhan di aktualkan, harapan dan kesadaran baru ditimbulkan dengan tujuan supaya umat Tuhan hidup dan percaya terus. Inti dari pemberitaan trito-Yesaya adalah menghibur umat Israel dan memberitakan keselamatan seperti yang kita temukan dalam nas Yesaya 61:1-3 ini.

 

II.    Keterangan Nas

      Nas Yesaya 61:1-3 ini  berisikan pelantikan dan tugas nabi memberitakan berita sukacita, berita keselamatan kepada umat Tuhan yang sedang mengalami masa-masa kegelapan dan frustasi.

      Tentang hamba-Nya itu Tuhan berfirman: “Aku telah menaruh Roh-Ku atasnya”. Nabi tahu bahwa Roh datang kepadanya, Roh dikaruniakan kepada nabi. Dengan demikian nabi telah diurapi. Pengurapan ini adalah proses pelantikan seseorang menjadi hamba Tuhan. Nabi yang telah dilantik menjadi hamba Tuhan ini membawa kabar baik kepada:

·        orang-orang sengsara, orang-orang yang berkekurangan, miskin dan tertekan.

·        bagi orang-orang yang remuk hati, putus asa, patah semangat

·        bagi orang-orang tawanan

Kabar baik ini menimbulkan kesukaan, kebebasan dan kesembuhan. Waktu itu akan disebut tahun Yobel atau tahun rahmat Tuhan. Dimana pada tahun rahmat Tuhan tersebut akan terjadi pembalasan Tuhan terhadap bangsa-bangsa penindas, orang-orang sombong direndahkan dan orang-orang sengsara ditinggikan Allah (1 Sam.2:1-10).

Perubahan yang akan terjadi ditengah-tengah umat yang frustasi itu digambarkan dengan kiasan yang indah: perhiasan kepala ganti abu (biasanya orang yang berduka menaruh abu di kepalanya); minyak untuk pesta ganti kain kabung, dan nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar.  

      Hamba Tuhan yang dilantik untuk memberitakan Kabar Baik digenapi di dalam Diri Tuhan Yesus Kristus. Ketika Yesus memasuki tempat pengajaran di Nazaret kepada-Nya diberikan kitab Yesaya untuk dibacaNya; Yesus membuka kitab tersebut dan menemukan nas seperti yang tertulis dalam Yesaya 61:1-3 (lih. Lukas  4:18-19). Setelah Yesus membacanya Dia mengatakan: “pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21). Yesus datang ke dunia ini membawa berita injil keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Kebebasan bagi orang miskin, orang buta, yang dipenjarakan. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menunjukkan diakoni sosial, Dia penuh dengan belas kasihan. Dan puncak kasih Tuhan Yesus adalah kematian dan kebangkitanNya yang memperdamaikan manusia berdosa dengan Tuhan, membebaskan manusia dari kuasa dan kematian, manusia telah diangkat dari kegelapan kepada terang, dari kematian kepada kehidupan.

 

III.   Refleksi

1.      Siapakah orang-orang sengsara? Siapakah orang yang remuk hati? Siapakah orang tawanan? Siapakah orang yang dipenjara? Siapakah orang yang berkabung? Kita semua, saya dan suadara. Yesus  datang ke tengah-tengah dunia ini membebaskan kita dari kesengsaraan, merawat hati kita yang remuk karena penderitaan-penderitaan di dunia ini. Dengan kematian dan kebangkitan Yesus kita dibebaskan dari tawanan dan penjara dosa dan kematian. Dia hadir untuk menghibur kita sehingga masa perkabungan kita berakhir dingantikan dengan masa-masa sukacita. Masa yang penuh pengharapan bagi anak-anak Allah.

2.      Sebagai orang-orang yang dikasihani Tuhan,  saat ini kita terpanggil untuk memberitakan tahun rahmat kepada orang-orang disekeliling kita. Saat ini sangat mendesak untuk kita hayati, renungkan dan kita menanyakan kepada diri kita sendiri: “apakah kita sudah melakukan tugas panggilan tersebut? Memberitakan tahun rahmat Tuhan, menyampaikan kabar sukacita bagi orang-orang sengsara, orang yang berduka, membebaskan orang yang tertawan dan terpenjara adalah tugas yang sangat mendesak yang perlu kita respon dengan sungguh-sungguh melalui perbuatan nyata dalam hidup kita.

Saat ini di sekeliling kita sungguh banyak orang yang berada di dalam kesengsaraan karena tekanan ekonomi, mengalami remuk hati karena persoalan-persoalan di tengah-tengah rumahtangga. Terpenjara oleh keinginan-keinginan duniawi dan orang-orang yang berduka. Orang-orang demikian merindukan pertolongan dari Tuhan dimana kitalah yang hendak dipakai Tuhan untuk melaksnakan tugas tersebut. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.