jump to navigation

Siapa Memandang Tuhan Akan Tetap Hidup Januari 31, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
2 comments

Renungan Malam Sabtu 31 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Siapa Memandang Tuhan

Akan Tetap Hidup

(Bilangan 21: 4 – 9)

 

“Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup” (ay.9)

           

            Perjalanan umat Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian, tanah Kanaan bukanlah perjalanan yang mudah tetapi perjalanan yang membutuhkan ketaatan kepada perintah dan tuntunan Tuhan. Umat Israel seringkali tidak tahan menjalani jalan yang ditunjukkan Tuhan, tidak setia akan tuntutan Tuhan dan akhirnya mereka bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan. Hal itulah yang terjadi ketika mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengeliling tanah Edom sehingga perjalanan ke tanah Kanaan semakin jauh dan melelahkan. Menjalani rute perjalanan tersebut umat Israel tidak dapat lagi menahan hati sehingga mereka bersungut-sungut kepada Allah dan kepada Musa yang memimpin mereka dalam perjalan tersebut. Mereka menyalahkan Allah dan Musa bahwa membawa dan memimpin mereka keluar dari Mesir adalah pilihan yang salah sebab mereka akan mati kelaparan di padang gurun tersebut.

Tuhan murka mendengar sungut-sungut umatNya dan untuk menghukum umatNya Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu yang memangut mereka sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Untunglah orang Israel menyadari kesalahannya dan mendatangi Musa mengaku bahwa mereka telah berdosa sebab kata-kata (sungut-sungut) mereka telah melawan Tuhan. Mereka meminta kepada Musa supaya berdoa kepada Tuhan untuk menjauhkan ular-ulat tedung tersebut; lalu Musa berdoa kepada Tuhan mewakili orang Israel.  Tuhan mendengarkan doa Musa dan memerintahkan kepada Musa untuk membuat ular tedung dan menaruhnya pada sebuah tiang. Musa melakukan apa yang diperintahkan Tuhan dengan membuat ular dari tembaga dan menempatkan pada sebuah tiang, jika seseorang dipangut ular tedung dan ia memandang ke ular tembaga maka dia akan hidup. Ular tembaga yang ditempatkan Musa di sebuah tiang merupakan protetipe Yesus Kristus yang tersalib untuk menyelamatkan orang-orang yang percaya kepadaNya dari kuasa dosa dan kematian.

Dalam dunia ini sangat banyak ular-ular tedung yang mengancam jiwa kita. Godaan-godaan duniawi selalu mencoba menjauhkan kita dari persekutuan dengan Tuhan, kesetiaan kita akan perintah Tuhan selalu di uji oleh pergumulan dan penderitaan yang menerpa kehidupan kita. Nas ini mengingatkan kita untuk memandang kepada salib Yesus sehingga kita selamat dan hidup meskipun kita dipangut oleh ular-ular tedung dunia ini. Oleh sebab itu, arahkanlah marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Yesus Kristus supaya kita hidup. Artinya percaya akan kuasa salib yang menyelamatkan dan kita mau berserah hanya kepada kuasa Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan hidup disini bukan saja hanya dapat bernafas tetapi hidup yang dimaksud adalah hidup di dalam Tuhan dan berkarya untuk kemuliaan nama Tuhan.

 

Doa:    Ya Tuhan ampuni kami dari dosa dan kesalahan kami. Jangan biarkan kami hidup di bawah murkaMu tetapi kasih sayangMu yang memelihara hidup kami. Dalam dunia yang penuh dengan ular-ular tedung ini kami berseru kepadaMu supaya Engkau menyelamatkan kami.  Amin.

Celaka Karena Memberontak Januari 30, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Jumat 30 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Celaka Karena Memberontak

(1 Raja-Raja 18: 16 – 19)

 

“Jawab Elia kepadanya: Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah Tuhan dan engkau ini telah mengikuti para Baal” (ay.18)

 

            Sering dalam kehidupan ini kita menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan pemerintah, menyalahkan mekanisme atau system yang berlaku ketika kita mengalami sesuatu yang sulit atau permasalahan dalam hidup. Padahal tidak jarang kita tidak menyadari bahwa kita sudah melakukan yang tidak benar atau melanggar aturan-aturan yang berlaku atau yang sudah ditetapkan.  

            Demikianlah yang dialami Samaria di bawah pimpinan Raja Ahab. Samaria mengalami masa-masa kelaparan berat, karena musim kemarau yang panjang. Atas kejadian tersebut Ahab menuduh dan menyalahkan bahwa nabi Tuhan yang bernama Elia-lah menyebab kecelakaan yang terjadi di Israel (Samaria). Elia menjawab bahwa bukan dia yang mencelakakan Israel, tetapi kecelakaan (kelaparan) tersebut terjadi karena Ahab dan keluarganya telah melakukan pemberontakan terhadap Tuhan. Ahab dan seluruh kaum keluarganya telah meninggalkan perintah-perintah Tuhan dan mereka telah mengikuti para Baal. Dalam 1 Raja-Raja 16:29-34 dapat kit abaca bahwa Ahab telah melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Dia mengambil Izebel putri raja orang Sidon menjadi isterinya dan dia menyembah Baal yang disembah orang Sidon. Perbuatannyalah yang membuat Samaria mengalami kecelakaan tersebut. Dalam ayat-ayat berikuta setelah nas ini di gunung Karmel Elia menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang paling berkuasa atas allah orang sidok yang disembah oleh Ahab dengan meninggalkan Tuhan.

            Nas ini hendak mengingatkan kita untuk tetap setia kepada perintah-perintah Tuhan. Dan ketika kita mengalami sesuatu yang sulit yang harus kita selidiki adalah perilaku kita, jangan-jangan kita telah menyeleweng dari firman dan perintah Tuhan. Atau mungkin yang terjadi itu adalah untuk lebih menguatkan iman dan pengharapan kita hanya kepada Tuhan. Artinya dalam segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita mari kita menyikapinya dengan melakukan permenungan dan mengoreksi diri kita daripada sibuk menyalahkan orang lain dan keadaan yang terjadi. Tentu saja kita berdoa memohon kekuatan, hikmat dari Tuhan untuk melewati dan menghadapi semua yang kita alami.

 

 

Doa:    Bapa di dalam sorga, kalau kami melanggar perintah-perintahMu ampunilah kami dan ingatkan kami untuk kembali ke jalan yang Engkau kehendaki dan jangan biarkan kami celaka oleh karena kebodohan kami. Curahkan Roh Kudus kepada kami sehingga kami mempunyai kekuatan untuk menghadapi pergumulan-pergumulan hidup di dunia ini. Amin.

Hati-Hati Gunakan Mulutmu Januari 29, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 29 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Hati-Hati Gunakan Mulutmu

(Amsal 10: 17 – 21)

 

“Bibir orang benar menggembalakan banyak orang,

tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi” (ay.21)

 

 “Hati-hati gunakan mulutmu. Hati-Hati gunakan mulutmu. Kar’na Bapa di sorga melihat ke bawah, hati-hati gunakan mulutmu”. Nyanyian yang sering dinyanyikan anak-anak sekolah minggu. Nyanyian yang mengingatkan untuk hati-hati ketika berbica atau mengatakan sesuatu supaya setiap kata yang keluar dari mulut kita tidak membuat orang lain terhina, sakit hati dan membuat Tuhan yang selalu melihat dari sorga berduka karena ucapan kita. Hal ini dapat juga kita bandingkan dengan apa yang dikatakan Yakobus bahwa kita bisa menjinakkan binatang buas tetapi mulut sangatlah susah untuk kita kuasai atau kendalikan.

Dalam nas ini penulis kitab amsal mengingatkan kita untuk sungguh-sungguh menjaga hidup kita dari perbutan-perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yaitu keficikan dan kebencian. Dan secara khusus menjaga mulut kita dari dusta, kata-kata yang mengumpat, dan yang terlalu banyak bicara. Sebab di dalam banyak bicara sangat rentan terjadinya pelanggaran atau kata-kata dusa dan kebohongan. Itu sebabnya firman Tuhan mengajarka untuk banyak mendengar sedikit berbicara.  

Selanjutnya penulis amsal mengajak kita untuk hidup di dalam kebenaran sebab lidah orang benar seperti perak artinya orang yang hidupnya di dalam kebenaran kata-katanya sangat berharga dan sangat dinanti-nantikan orang untuk mendengarnya. Setiap yang keluar dari mulutnya tidak ada sia-sia selalu bermamfaat dan berguna untuk memimpin dan menggembalakan banyak orang. Kata-katanya menghibur dan menguatkan banyak orang, memberikan semangat bagi orang yang putus asa, mendamaikan orang-orang yang mengalami perpecahan dll. Marilah kita mempergunakan kehidupan kita, khususnya mulut kita menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan dan sukacita bagi sesama kita.    

 

Doa:    Bapa di dalam sorga, ampuni kami karena kami sering mempergunakan mulut kami tidak sesuai dengankehendakMu. Tuntun kami dengan Roh Kudus agar kehidupan kami, khususnya mulut kami, hanya untuk kemuliaan namaMu saja. Kiranya hati dan mulut kami hanya untuk memuji dan memuliakan Engkau saja. Amin.

Keputusan Tuhan Yang Terlaksana Januari 28, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Rabu 28 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Keputusan Tuhan Yang Terlaksana

(Amsal 19: 18 – 21)

 

“Banyaklah rancangan di hati manusia,

tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (ay.21)

             

Setiap manusia menginginkan masa depan yang baik, termasuk masa depan dari anak-anak yang dititipkan Tuhan di tengah-tengah keluarga. Untuk masa depan yang baik tersebut dituntut dari orangtua tanggungjawab untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilah kebaikan kepada anak-anaknya atau kepada generasi muda. Penulis amsal menasihatkan orangtua untuk menghajar anaknya selama masih ada kesempatan artinya selama si anak hidup dia harus diberikan pengajaran. Bahkan  dalam memberikan pengajaran tersebut orangtua bisa saja menghajar hanya harus diingat jangan menginginkan kematiannya. Jadi disini bukanlah maksudnya orangtua diperbolehkan melakukan tindakan kekerasan yang dapat menimbulkan kematian tetapi menghajar untuk membangun, untuk membentuk seorang anak menjadi anak yang memiliki masa depan yang baik.

Dari pihak si anak dituntut untuk mendengar dan menerima  nasihat dan didikan. Hajaran dan didikan serta nasihat akan membuat seseorang menjadi bijak di masa depan apabila didengar dan diterima serta dihidupi dengan baik. Untuk itu dibutuhkan hati yang terbuka terhadap pengajaran dan didikan dan menghindari hidup yang cepat marah baik dari yang memberi pengajaran maupun yang menerima pengajaran. Sebab seseorang yang memiliki sifat yang cepat marah tidak akan senang jika diberi didikan dan hajaran sebaliknya marahnya semakin bertambah. Demikian juga seseorang pengajar dan pendidik jika memiliki sifat yang cepat marah akan mengalami kesusahan di dalam memberikan pengajaran.  Apabila yang diajar dan dididik tidak mau mendengar akan semakin marah sehingga pengajaran dan didikan tidak berjalan dengan baik. Itu sebabnya penulis kitab amsal mengatakan: “orang yang cepat marah akan kena denda”.

Untuk masa depan yang lebih baik tersebut banyak rancangan-rancangan yang kita lakukan. Hal tersebut sangat baik, sebab ketika kita mempunyai rancangan itu sudah setengah dari apa yang akan kita lakukan mengenai masa depan. Namun demikian kita harus mempercaya seperti apa pun rancangan yang kita buat, kita susun dengan rapi, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana mengenai masa depan kita. Oleh karena itu segala rancangan yang kita buat haruslah kita serahkan kepada Tuhan maka Dia akan berkarya dalam rancangan kita itu untuk kebaikan dan masa depan kita.

 

Doa:    Ya Tuhan, dalam kehidupan kami ini kami mengharapkan masa depan yang baik untuk keluarga, gereja dan masyarakat. Dan untuk itu kami membuat rancangan-rancangan yang kami harapkan dapat membawa kami ke masa depan yang baik tersebut. Ya Tuhan, kami menyerahkan seluruh rancangan dan masa depan kami kepadaMu supaya Engkau berkarya di dalamnya karena kami yakin bahwa Engkau pasti merancangkan rancangan kebaikan bagi kami. Amin.

Mendengar Dan Mengucapkan Firman Yang Berasal Dari Tuhan Januari 26, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 26 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Mendengar dan Mengucapkan Firman

Yang Berasal Dari Tuhan  

(Ulangan 18: 18 – 22)

 

“Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” (ay.19)

 

Kitab Ulangan berisikan pidato perpisahan dari Musa sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, tanah Kanaan. Selain sebagai tanda perpisahan dalam pidatonya tersebut Musa juga memperlengkapi bangsa Israel mengenai tantangan-tantangan yang akan dihadapi di Kanaan dan bagaimana mereka menghadapi tantangan tersebut. Salah satu yang harus mereka waspadai adalah di Kanaan itu terdapat kepercayaan-kepercayaan yang melakukan kekejian dengan mempersembahkan anaknya menjadi korban dalam api; orang-orang Kanaan juga mempercayai penenung, peramal dan arwah-arwah  dan orang Kanaan melakukan praktek meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Kehidupan yang demikian yang harus diwaspadai bangsa Israel nantinya di Kanaan sebab jika umat-Nya melakukan hidup demikian maka perbuatan tersebut adalah adalah kekejian bagi Tuhan sebab Tuhan berfirman: “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku”. Musa mengingatkan bangsa Israel supaya mereka hidup tidak bercela di hadapan Tuhan ketika mereka telah tinggal menetap di tanah perjanjian tersebut. Untuk menjaga kemurnian iman umat-Nya dari kepercayaan yang dianut orang Kanaan, Tuhan menjanjikan akan membangkitkan seorang nabi dimana Tuhan akan menaruh firman-Nya di dalam mulut nabi tersebut dan segala sesuatu yang disampaikannnya adalah segala yang diperintahkan oleh Tuhan.

Dalam nas ini Tuhan menyoroti dua hal yaitu mengenai yang mendengar dan mengucapkan: 1) orang yang tidak mendengarkan segala firman Tuhan yang diberitakan dan diucapkan nabi demi nama Tuhan kepadanya akan dituntut pertanggungjawaban ; sebaliknya 2) seorang nabi yang terlalu berani mengucapkan sesuatu demi nama Tuhan padahal tidak diperintahkanNya atau seorang nabi yang berkata demi nama allah lain, nabi yang demikian harus mati. Bagaimana kita mengetahui kalau yang difirmankan itu tidak berasal dari Tuhan atau yang dikatakan itu demi nama allah lain? Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan tetapi perkataannya tidak terjadi itulah perkataan yang tidak difirman Tuhan.

Dalam kehidupan kita di dunia tantangan yang kita hadapi adalah godaan-godaan dunia ini yang ingin  menempatkan dirinya menjadi allah di dalam kehidupan kita dengan segala kenikmatan yang ditawarkannya. Bahkan godaan tersebut yang berkedok atas nama Tuhan (ingat si iblis yang mencobai Tuhan Yesus di padang gurun). Nas ini mengingatkan kita untuk menjadi pendengar firman yang berasal dari Tuhan. Firman yang dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih baik; firman yang membuat kita menjadi orang yang setia dan teguh kepada Tuhan dan tidak ada allah lain di dalam hidup kita; firman yang dapat menuntun kita kepada pertobatan dengan meninggalkan segala yang jahat dan mencintai segala yang berkenan di hadapan Tuhan. Nas ini juga mengingatkan kita untuk mengucapkan atau memberitakan firman Tuhan dengan benar dan sesuai kehendak Tuhan dan untuk kemuliaan nama-Nya.

 

 

Doa:       Bapa di dalam sorga yang kami sembah di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus. Tuntun kami di dunia ini untuk menjadi orang yang mau mendengar dan melakukan firmanMu. Luputkan kami dari orang-orang yang memperdengarkan firman yang tidak berasal dari Engkau supaya kami senantiasa hidup di dalam kebenaran firman-Mu. Amin.

Tuhan Mengeraskan Hati Seseorang Untuk Menunjukkan Kuasa-Nya Januari 24, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Sabtu 24 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Mengeraskan Hati Seseorang

Untuk Menunjukkan Kuasa-Nya

(Keluaran 7: 1 – 7)

 

             Musa diutus Tuhan bersama dengan saudaranya Harun untuk menyampaikan apa yang difirmankan Tuhan mengenai kebebasan umat Israel dari Mesir. Namun, Tuhan berfirman bahwa Dia akan mengeraskan hati Firaun artinya membuat Firaun tidak membiarkan umat Israel keluar dari negerinya. Mungkin kita bertanya: Kenapa Tuhan mengeraskan hati Firaun? Kalau kita membaca nas ini dijelaskan apa yang menjadi tujuan Tuhan mengeraskan hati Firaun. Tuhan mau memperbanyak tanda-tanda mujizar di tanah Mesir, Tuhan hendak mendatangkan hukuman-hukuman yang berat kepada Firaun dan Mesir. Untuk apa Tuhan melakukannya? Supaya Firaun dan orang Mesir tahu bahwa Dialah Tuhan yang mengacungkan tangan-Nya kepada orang Mesir dan membawa Israel keluar dari Mesir.

            Dalam kehidupan kita saat ini juga mungkin kita bertanya: Kenapa orang-orang yang membenci pengikut Kristus tidak pernah  berobah malah kebencian mereka semakin hebat? Kenapa kadang-kadang seseorang itu susah untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan? Apakah Tuhan tidak berkuasa melakukannya? Tuhan berkuasa membuat seseorang itu berobah dan bertobat tetapi sama seperti dalam nas ini Tuhan juga berkuasa untuk mengeraskan hari seseorang itu. Ketika itulah Tuhan akan menunjukkan kuasa-Nya, mujizat-mujizat-Nya bahkan hukuman-hukuman yang berat yang pada akhirnya seseorang itu akan memilih untuk berobah dan bertobat serta percaya kepada Tuhan dari pada hidup menentang dan tidak melakukan kehendak-Nya.

            Yang harus kita yakini adalah selama kita tetap percaya kepada Tuhan maka Dia akan berperang untuk menyelamatkan kita (Keluaran 14:14). Kita tidak akan dibiarkan celaka dan binasa oleh dunia ini dan oleh perbuatan dari orang-orang yang membenci kita. Hanya kita harus mau seperti Musa dan Harun yang berani menyatakan suara Tuhan kepada siapa pun dan dalam keadaan apa pun.

 

Doa:    Kami puji dan muliakan namaMu, ya Allah Bapa kami di dalam sorga. Karena kami sungguh-sungguh merasakan penyertaan dan pemeliharaanMu dalam kehidupan kami. Berikan kepada kami hati yang teguh dan keberanian untuk mengatakan kebenaran firmanMu di dalam kehidupan kami di dunia ini. Dan teguhkan iman percaya kami bahwa kuasaMu akan membuat orang-orang yang menentangMu bertekuk lutut kepadaMu. Amin.

Allah Menyatakan DiriNya Untuk Membebaskan Januari 24, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Jumat 23 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Allah Menyatakan DiriNya

Untuk Membebaskan

(Keluaran 3: 1 – 9)

 

            Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa di Gunung Horeb melalui nyala api yang keluar dari semak duri tetapi semak duri tersebut tidak terbakar. Kejadian tersebut bagi Musa adalah sesuati keajaiban, merupakan penglihatan yang hebat, dan dia ingin tahu mengapa semak duri tersebut tidak terbakar. Kemungkinan karena penglihatan tersebut sangat hebat membuat Musa sangat berhati-hati mendekat bahkan karena dia menganggap tempat tersebut adalah tempat yang tidak sembarangan dia menyimpang untuk memeriksanya. Allah tidak membiarkan Musa di dalam ketidaktahuan akan kejadian tersebut, Dia berseru dari semak duri: “Musa, Musa”. Dan Musa menjawab: “Ya, Allah”. Selanjutnya Musa diperintahkan untuk membuka kasutnya dari kakinya, sebab tempat dimana Musa berdiri adalah tanah yang kudus”. Allah menyampaikan kepada Musa bahwa Dia telah memperhatikan dengan sungguh penderitaan umat Israel dan telah mendengar seruan mereka. Tujuan kedatanganNya juga disampaikan kepada Musa yaitu membebaskan umat-Nya; Dia akan menuntun mereka keluar dari perbudakan dan akan membawa mereka ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya yaitu tanah Kanaan. Berita kebebasan itulah yang harus diberitahukan Musa kepada umat yang menderita karena perbudakan.

            Ketengah-tengah dunia yang penuh dengan dosa ini Allah telah menyatakan diriNya melalui AnakNya Yesus Kristus. Allah memperhatikan dengan sungguh-sungguh penderitaan dunia dan segala isinya dan di dorong kasihNya Dia mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus untuk membebaskan dunia dan umat manusia dari penderitaannya. Membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan perbudakan, terlebih dari perbudakan dosa. Kepada dunia ini Yesus Kristus memberitakan tentang Kerajaan Allah, keselamatan dan kehidupan yang kekal bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.  

            Saat ini adalah menjadi tugas dan tanggung jawab orang-orang percaya untuk membuat jawaban Tuhan atas seruan orang-orang yang menderita menjadi nyata. Kita diutus ke tengah-tengah dunia ini  untuk memberitahukan berita pembebasan dan keselamatan tersebut kepada segala mahkluk. Orang-orang percaya tidak boleh menutup mata melihat penderitaan orang-orang yang mengalami penindasan dan perbudakan dari orang-orang atau kelompok tertentu, penderitaan orang miskin, orang-orang yang dipenjara, orang-orang yang buta, bahkan orang yang hidupnya diperbudak oleh dosa.  Orang-orang percaya harus menjadi agen-agen pembebasan. Kitalah telinga Tuhan untuk yang mendengarkan seruan mereka, kitalah mata Tuhan untuk melihat penderitaan mereka, kitalah mulut Tuhan untuk menyuarakan penghiburan, kitalah tangan Tuhan untuk membantu mereka berdiri, kitalah kaki Tuhan untuk mengunjungi mereka; seluruh kehidupan kita adalah alat Tuhan untuk mewujudkan jawaban-Nya terhadap seruan orang-orang menderita.     

 

 

Doa:    Terpujilah Engkau, Ya Allah Bapa kami di dalam sorga. Yang telah menyatakan diriMu di dalam AnakMu Tuhan Yesus Kristus untuk membebaskan dan menyelamatkan kami manusia berdosa. Pakailah hidup kami menjadi alat di tanganMu untuk memberitakan dan mewartakan kebebasan dan keselamatan yang daripadaMu kepada segala mahkluk supaya nama Tuhan dipermuliakan. Amin.

Mendengar Suara Tuhan Januari 22, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Kamis 22 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Mendengar Suara Tuhan

(1 Samuel 3: 1 – 10)

 

 Samuel masih sangat muda sekali (anak-anak) ketika dia diserahkan ibunya Hana menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasan imam Eli. Itu sebabnya dia disebut belum mengenal Tuhan dan firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya (ay.7). Karena Samuel masih buta mengenai Tuhan dan firman-Nya menyebabkan dia tidak tahu bahwa yang memanggilnya adalah Tuhan, dia mengira suara yang memanggil itu adalah imam Eli, hal tersebut terjadi sampai tiga kali. Barulah setelah imam Eli mengerti bahwa Tuhan-lah yang memanggil Samuel, dia berkata kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar”. Dan Samuel melakukan apa yang diajarkan oleh Eli, ketika Tuhan memanggilnya untuk ke empat kalinya, Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”.  Apa yang dapat kita pelajari dan kita renungkan dari nas ini?

1) Kita senantiasa terjaga mendengar suara Tuhan. Meskipun Samuel sudah tertidur namun dia tetap waspada sehingga suara panggilan yang ditujukan kepadanya tidak lewat begitu saja. Dia terjaga dan mendengar meskipun dia belum mengerti bahwa yang memanggilnya itu adalah Tuhan. Bisa saja dalam hidup kita di dunia ini kita tidak menyadari suara Tuhan memanggil kita, memanggil kita untuk melayani-Nya melalui pelayanan di tengah-tengah gereja dan masyarakat. Hal tersebut boleh disebabkan oleh karena kita tenggelam dalam kesibukan-kesibukan dan rutinitas yang kita lakukan. Kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang duniawi, memikirkan kebutuhan-kebutuhan jasmani kita, sehingga suara Tuhan tidak kita dengar dan kita akhirnya melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak benar.

2) Mengenal suara Tuhan. Dalam dunia ini banyak suara-suara yang kita dengar dan tidak semua suara yang kita dengar itu baik ada juga suara-suara yang tidak baik yang mencobai iman percaya dan hendak mencelakakan kita. Karena itu kita harus selalu waspada, berjaga-jaga dan berdoa sehingga kita tidak tergoda oleh suara-suara yang tidak baik tersebut. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus mengenal dan mendengar suara Tuhan serta menyambut dengan mengatakan: “Berbicaralah hamba-Mu siap mendengar”.  

Seperti apakah suara Tuhan dalam kehidupan kita saat ini? Suara Tuhan dapat kita dengan dari pengajaran mengenai firman Tuhan, nasihat-nasihat yang baik dan membangun, dan suara minta tolong dari orang-orang yang mengalami kesusahan. Semua itu adalah suara yang berasal dari Tuhan yang harus kita dengar dan kita respon melalui perbuatan nyata di dalam kehidupan kita. Selamat mendengar suara Tuhan.  

 

KJ.No.387        “Dengar panggilan Tuhan, dan oleh kuasaNya, kau jadi anak Tuhan, pelayan umatNya”

                           “Gunakanlah bakatmu, pemb’rian kasihNya; amalkanlah karyamu, bagi manusia”

 

Doa:    Bapa di dalam sorga, dengan kuat kuasa Roh Kudus bimbing kami untuk senantiasa mendengar suaraMu di dalam kehidupan kami. Sehingga hidup kami senantiasa melakukan yang sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Menjadi Harta Kesayangan Tuhan Januari 21, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Rabu 21 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Menjadi Harta Kesayangan Tuhan

(Keluaran 19: 1 – 6)

 

             Keluarnya bangsa Israel dari Mesir menunjukkan kuasa Tuhan yang luar biasa. Disaat bangsa Israel hidup dalam penderitaan dan keputusasaan Tuhan bertindak melalui hamba-Nya Musa membawa mereka keluar dari perbudakan kepada kebebasan dan kemerdekaan menuju tanah perjanjian, tanah Kanaan.  Mengenai karya pembebasan inilah yang disampaikan Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada umat Israel; karya yang mereka lihat sendiri apa yang Tuhan lakukan kepada Mesir bangsa yang memperbudak mereka, bagaimana Tuhan telah mendukung mereka di atas sayap rajawali dan membawa mereka kepada-Nya. Dari umat Israel, Tuhan menuntut untuk sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjianNya. Dengan hidup demikian umat Israel akan menjadi harta kesayangan Tuhan dari antara segala bangsa dan mereka menjadi kerajaan iman dan bangsa yang kudus bagi Tuhan.

            Sebagaimana umat Israel dibawa keluar oleh Tuhan dengan perbuatan-perbuatan yang besar, demikianlah kita orang-orang percaya dibebaskan dari perbudakan dosa dan kuasa kematian oleh karya-Nya yang ajaib di dalam diri Tuhan Yesus Kristus yang menderita, mati di salib, turun ke dalam kerajaan maut dan bangkit pada hari yang ketiga. Karya Tuhan di dalam diri Yesus Kristus  kita telah diangkat menjadi anak-anakNya dan menjadi pewaris di dalam kerajaanNya.

            Sebagai anak-anak Allah, tentu saja kita menginginkan supaya kita menjadi harta kesayangan-Nya. Untuk menjadi harta kesayangan Tuhan kita harus menunjukkan hidup yang taat dan setia kepada-Nya dengan sungguh-sungguh mendengar firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Firman Tuhan harus menjadi pelita dan terang dalam perjalanan hidup yang kita lalui (Mzm.119:105), kita menjadi pelaku firman Tuhan (Mat.7:24-27), kesukaan kita adalah taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Mzm.1:2); artinya firman-Nya menjadi menu utama dalam kehidupan kita (bnd. Luk.4:4). Berpegang pada perjanjian-Nya yakni kita menjadi umatNya dan Dia menjadi Allah dalam hidup kita,  yang berkuasa dalam kehidupan kita.    

 

Doa:    Ya Tuhan, terpuji Engkau yang telah melakukan karya yang ajaib di dalam diri AnakMu Tuhan Yesus Kristus sehingga kami beroleh keselamatan dan kami menjadi anak-anakMu. Kami memohon kiranya kami Tuhan kuatkan dengan Roh Kudus melakukan yang sesuai dengan firmanMu dan kami setia di dalam perjanjian yang telah Engkau buat. Dalam dunia ini kami menghadapi banyak pencobaan, tapi kami percaya bersama Engkau semua itu dapat kami hadapi sehingga kami tetap menjadi harta kesayanganMu. Amin,

Dalam Masa Penantian Hiduplah Takut Akan Tuhan Januari 21, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Selasa 20 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Dalam Masa Penantian Hiduplah Takut Akan Tuhan

(Maleakhi 3: 1 – 6)

 

 Hari Kedatangan Tuhan merupakan hari yang dinanti-nantikan sejak zaman Perjanjian Lama oleh Israel yang menantikan kedatangan Mesias hingga saat ini oleh orang-orang percaya yang menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang keduakalinya. Nabi Maleakhi dalam nas ini hendak menekankan kepastian akan kedatangan Mesias. Sebelum Mesias datang, terlebih dahulu datang utusan untuk mempersiapkan jalan bagi Dia yang akan datang. Nubuatan ini digenapi ketika Yohanes Pembaptis tampil sebagai pendahulu Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis menyerukan supaya bertobat dan mempersiapkan jalan bagi Mesias yang akan datang tersebut. Secara tiba-tiba “Malaikat” Perjanjian akan datang dengan tiba-tiba. “Malaikat” tersebut adalah Yesus sang Mesias. KedatanganNya yang pertama dan kedua disatukan oleh nabi Maleakhi dalam nubuatannya. Sebab puncak kedatangan yang dinubuatkan dalam nas ini akan terjadi pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

            Nabi Maleakhi menjelaskan maksud hari Tuhan itu dari dua segi: 1) untuk menyatakan kebesaran kemuliaan dan kuasa Tuhan. Sehingga tidak seorang manusia pun yang tahan berdiri di hadapanNya; yang harus dilakukan manusia adalah merendahkan diri di hadapan Allah. Dihadapan Allah manusia itu akan menjadi seperti es di depan api. Pada hari itu Tuhan akan menjadi seperi api yang memurnikan emas dan seperti sabun yang membersihkan semua kotoran dari kain yang kotor. Dengan pentahiran yang dilakukan Tuhan setiap orang memberikan persembahan yang benar di hadapan Tuhan. 2) Hari kedatangan Tuhan kepada orang-orang yang hidupnya bercela adalah dihakimi, dihukum dan dijauhkan dari hadirat Tuhan selama-lamanya. Dari begitu banyak bentuk dosa yang membuat seseorang itu bercela dalam nas ini didaftarkan beberapa bentuk saja, yaitu: tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah, dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing. Yang mendasari semua bentuk dosa dalam diri seseorang adalah karena seseorang hidup tidak takut kepada Tuhan.

             Hari Tuhan pasti datang dan sebagai orang-orang percaya hari itulah yang saat ini kita nanti-nantikan. Setiap orang pada hari Tuhan harus bertanggungjawab kepada Tuhan sebab kita semua adalah ciptaanNya. Ketika hari kedatangan Tuhan, siapakah yang tahan berdiri dihadapan-Nya? Tidak seorang pun diantara kita yang bertahan di hadapan-Nya. Semua manusia harus merendahkan diri dihadapan-Nya dan mengharapkan belas kasihan-Nya. Marilah kita hidup di dalam takut akan Tuhan, melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan dihadapan-Nya, sehingga pada hari Tuhan kita akan memperoleh belas kasihan Tuhan

           

Doa:    Ya Tuhan, dalam hidup menantikan kedatanganMu keduakalinya kami menghadapi berbagai macam pergumulan di dunia ini. Kuatkan kami menghadapi dan melewatinya sehingga sampai pada akhirnya kami senantiasa hidup di dalam takut akan Tuhan. Amin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.