jump to navigation

Tiap Langkahku Diatur Oleh Tuhan Maret 19, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
3 comments

Renungan Malam Kamis 19 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

TIAP LANGKAHKU DIATUR OLEH TUHAN

 ( Yeremia 10: 23 – 25 )

 

Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”. (ay.23)

                                                                                              

 

            Sebelum nas ini, dalam Yeremia 10:17-22 Yeremia telah menubuatkan kepada umat Israel untuk mempersiapkan diri menjalani pembuangan yang sebab Tuhan telah memutuskan bahwa Yerusalem akan dikalahkan tentara Babel sebagai akibat dari pemberontakan mereka kepada Tuhan. Atas nubuatan tersebut baik Yeremia maupun penduduk Yerusalem menjadi khawatir. Dalam situasi yang demikian Yeremia menaikkan doa memohon belas kasihan Tuhan, doa yang disampaikan atas nama Yehuda dan Yerusalem. Dalam doanya Yeremia mengaku bahwa TIAP LANGKAH MANUSIA DIATUR OLEH TUHAN, manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. Pengakuan ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia itu ditetapkan Tuhan dan meskipun perjalanan tersebut harus melewati penderitaan dan dituntut kerendahan hati tetapi orang harus menerimanya. Selanjutnya, Yeremia memohon agar Israel dihajar dengan selayaknya jangan dengan murka supaya mereka tidak binasa. Karena pemberontakan, mereka layak dihajar hanya Yeremia memohon belas kasihan Tuhan supaya mereka tidak dibinasakan. Kiranya kemarahan Tuhan ditumpahkan kepada bangsa-bangsa lain yang telah menjadikan Yerusalem menjadi puing-puing.

            Saudara-saudara, satu hal yang sangat penting kita renungkan dari nas ini adalah bahwa TIAP LANGKAH KITA DIATUR OLEH TUHAN. Hal ini sangat penting kita percayai sehingga dalam dunia yang penuh dengan pergumulan dan penderitaan ini kita tetap kuat dan teguh. Untuk merasakan bahwa tiap langkah kita diatur oleh Tuhan dibutuhkan ketaatan dan kesetiaan. Kita taat dan setia di jalan yang ditunjukkanNya meskipun jalan yang ditunjukkan Tuhan tersebut kadang-kadang tidak seperti yang kita harapkan. Kita akan selamat dan sampai ke tujuan sebab Dia tidak hanya menunjukkan jalan tetapi Dia juga yang akan menyertai dan memelihara kita menjalaninya.

Dalam langkah yang kita tempuh dan dalam tujuan perjalanan yang kita tempuh, kadang-kadang kita mendapat hajaran dari Tuhan, dan mungkin kita sendiri memohon untuk dihajar oleh Tuhan, tetapi yang pasti hajaran Tuhan tidak pernah membawa kita kepada kebinasaan. Sebaliknya hajaran Tuhan akan membentuk dan menjadikan kita menjadi manusia yang tangguh, kuat serta menjadi manusia yang dengan baik mempergunakan hidup hanya untuk kemuliaan nama-Nya.

 NKB.No.188 “Tiap Langkahku”

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan dan tangan kasihNya membimbingku. Di tengah badai dunia menakutkan hatiku tetap tenang teguh. Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin. Ke tempat tinggi ku dihantarNya. Hingga sekali nanti aku tiba di rumah Bapa sorga yang baka.

 

Doa:    Ya Tuhan tuntunlah kami dalam setiap langkah yang kami tempuh. Jauhkan dari kami segala mara bahaya dan kecelakaan. Bentuklah kami menjadi anak-anakMu yang setia berjalan di jalan yang Engkau tunjukkan. Amin.

Hiduplah Di Bawah Kuasa Tuhan Maret 18, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Uncategorized.
add a comment

Renungan Malam Rabu 18 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

HIDUPLAH DI BAWAH KUASA TUHAN

(Yesaya 40: 12 – 17)

 

“Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? ” (ay.14)

           

Yesaya 40 termasuk dalam deutro Yesaya yaitu nabi yang bernubuat di tengah-tengah umat yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Ketika Nabi menubuatkan bahwa umat Israel akan dibebaskan dari pembuangan, timbul perdebatan dan keragu-raguan baik dikalangan Israel maupun dikalangan orang Babel. Mereka memperdebatkan dan meragukan: “mungkinkah Tuhan bangsa Israel sanggup melepaskan mereka?” atau “masih sudikah Tuhan menolong umatNya yang terbuang karena pemberontakannya?”. Dalam Yesaya 40:27 sangat jelas disebutkan bagaimana sang nabi menegor umat yang tidak percaya atau ragu-ragu akan kuasa Tuhan: “Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

Untuk meyakinkan umat, nabi menyampaikan pertanyaan retorika yang jawabannya sudah pasti yaitu TUHAN. Pertanyaan tersebut adalah: 1) “Siapakah yang menakar air laut…….” (ay.12) ; 2) “Siapa yang mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk….” (ay.13); 3) “Kepada siapa Tuhan meminta nasihat….” (ay.14). Jawaban untuk semua pertanyaan tersebut adalah TUHAN sebab Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan umat Israel / Yahudi mengetahu hal tersebut dengan baik dan pasti.

Kemahakuasaan Tuhan ditekankan nabi Yesaya dengan mengatakan bahwa dihadapan Tuhan bangsa- bangsa adalah setitik air dalam timba dan pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya artinya seperti tidak ada dan dianggap sebagai yang hampa dan sia-sia. Bahkan ketika Libanon dibuat menjadi kayu api dan seluruh margasatwa menjadi korbannya tidak cukup dan tidak berarti dihadapan Tuhan.

Memahami kemahakuasaan Tuhan, maka kita akan tetap berpengharapan kepadaNya seperti apa pun kehidupan yang sedang kita alami saat ini. Sepanjang mata kita tetap terarah kepada Tuhan maka kita akan menjadi bagian dari kuasa-Nya yang menyelamatkan. Sebab itu kita tidak perlu takut akan masa depan kita, sebab segala sesuatu berada di bawah kuasa Tuhan.  Seperti apa pun persembahan yang kita persembahkan itu tidak cukup dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang memilihara kehidupan kita. Yang penting kita lakukan adalah tetap memujiNya dan mempersembahkan segala sesuatu yang ada pada kita untuk kemuliaan nama-Nya. 

  

           

Doa:    Terpujilah namaMu, ya Allah Bapa kami di dalam sorga; sebab Engkaulah Tuhan yang mahakuasa. Kami memohon kiranya kami Tuhan berikan tempat di dalam kuasaMu. Amin.

Hidup Dalam Tuntunan Tuhan Maret 17, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Selasa 17 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Hidup Dalam Tuntunan Tuhan

( Yesaya 42: 14 – 17 )

 

“Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan”. (ay.16)

 

 

Yesaya 42 secara khusus ayat 10 – 17 berisikan nyanyian pujian, dimana dalam nyanyian pujian tersebut ada 4 hal yang akan Tuhan lakukan. Pertama: Tuhan akan melakukan penghukuman suatu tindakan yang sudah lama Dia didiamkan. Untuk menggambarkan hal tersebut, Yesaya mengambil gambaran seorang ibu yang mengandung dan akan melahirkan. Beberapa jam sebelum melahirkan perut si ibu sakit, sang anak masih di dalam dan belum lahir, si ibu harus menunggu. Selama masa menunggu tersebut si ibu membisu, sedapat-dapatnya berdiam diri dan menahan hatinya. Setelah liang peranakan terbuka dan keluar air, maka kepala si anak turun ke dalam liang peranakan dan sang ibu harus membulatkan segala tenaga buat menekan, mendorong sang bayi keluar, pada saat itu sang ibu mengerang, mengah-mengah, dan mengap-mengap. Demikianlah “krisis” yang sejakdahulukala hendak Tuhan nyatakan yaitu penghukuman-Nya, sekarang tidak tertahan lagi, melainkan segera akan “lahir” dan menjadi nyata, umatNya yang memberontak akan di hukum. Kedua: Tuhan bertindak sebagai hakim, dimana kehangatan amarahNya tercurah seperti api dan gunung-gunung batu menjadi roboh dihadapanNya. Segala tumbuhan menjadi layu dan sungai-sungai serta telaga-telaga menjadi tanah kering. Ketiga: Tuhan bertindak memimpin orang-orang buta sebagaimana Dia menuntun kawanan dombaNya. Di antara segala orang-orang yang miskin, yang tertekan, yang cacat, yang tuli dan sebagainya, maka orang butalah yang paling memerlukan pertolongan dan kepadanya pula sering dijanjikan pertolongan Tuhan (bnd. Yes.29:18 ; 35:5 ; 42:7 ; Mzm.146:8). Gambaran ini menunjukkan keadaan sisa Israel yang dikasihani Tuhan (Yer.31:8); dimana Tuhan membawa umatNya berjalan “bersama-sama Dia” (Yes.40:10). Keempat: Perbuatan-perbuatan Tuhan di atas membuat orang-orang yang menyembah patung-patung berhala akan menyadari bahwa yang mereka sembah adalah angin dan kesia-siaan.

Saudara-saudara, Tuhan segera datang, kerajaan Allah sudah dekat. Para nabi-nabi bahkan Yesus sendiri memberitahukan bahwa Tuhan segera datang untuk menghakimi bumi. Sebelum hari penghakiman tersebut terjadi firman ini mengingatkan kita bahwa hidup yang kita hidupi saat ini adalah hidup dalam tuntutan Tuhan. Dengan tuntutan Tuhan orang-orang percaya terpanggil menjadi saksi di antara bangsa-bangsa bahwa “Tuhan itu Raja”; terpanggil memenuhi fungsinya yaitu membimbing segenap bumi, hingga bumi ini dan setiap yang bernyawa bernyanyi dan memuji bagi Tuhan.        

 

Doa:    Bapa kami di dalam sorga. Terpujilah namaMu yang senantiasa menyertai dan memelihara kehidupan kami. Kiranya Roh KudusMu memimpin kami untuk hidup sesuai dengan kehendakMu di tengah-tengah dunia ini; sehingga kami hidup menjadi saksi-saksiMu di dunia ini. Amin.

Tuhan Penyayang Yang Setia Maret 16, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 16 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Penyayang Yang Setia

(Ulangan 4: 30 – 35)

 

“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu”(ay.31)

 

Kitab Ulangan berisikan pidato atau kata-kata perpisahan dari Musa kepada umat Israel yang akan memasuki tanah perjanjian, tanah Kanaan. Dalam pasal 4 ini, Musa mengingatkan bangsa Israel untuk setia kepada hukum Tuhan, sebab ketidaksetiaan mereka akan mendatangkan murka Tuhan. Untuk lebih menekankan kesetiaan memegang peranan penting dalam hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel, Musa menerangkan bagaimana dia tidak diperbolehkan Tuhan memasuki tanah Kanaaa karena ketidaktaatannya kepada perintah Tuhan.

Sebagai seorang pemimpin yang baik pandang Musa jauh ke depan mengenai tantangan-tantangan yang akan dihadapi bangsa Israel di tanah Kanaan. Di Kanaan bangsa Israel dikelilingi bangsa-bangsa kafir yang menyembah allah buatan manusia. Keadaan yang demikian tentu dapat membahayakan hubungan mereka dengan Tuhan apabila mereka tidak kuat menghadapi godaan-godaan masyarakat sekitar mereka. Selain itu, Musa juga mengenal umat Israel yang mempunyai  karakter suka memberontak. Itu sebabnya Musa mengingatkan jika keadaan demikian terjadi sehingga keadaan mereka terdesak, mereka harus segera kembali kepada Tuhan dan kembali mendengarkan-Nya suara-Nya artinya melakukan pertobatan. Bukan berarti Musa mengharapkan bangsa Israel memberontak tetapi jika hal tersebut terjadi mereka tahu apa yang harus mereka lakukan supaya terbebas dari keadaan yang mendesak tersebut.

Dalam nas ini kita menemukan beberapa alasan Musa memerintahkan mereka untuk bersegera kembali kepada Tuhan: 1) Tuhan adalah Allah Penyayang; 2) Allah tidak pernah melupakan perjanjian atau janji yang diikrarkan-Nya; 3) Allah mau tinggal di tengan-tengah umat-Nya dan berbicara kepada umatNya yang tidak dapat dilakukan allah lain; 4) Allah berkuasa melakukan tanda-tanda mujizat  untuk melepaskan dan menyelamatkan umat-Nya yang tidak dapat dilakukan allah lain. Dengan memahami dan mengetahui hal tersebut maka bagi hidup bangsa Israel tidak ada Allah kecuali Tuhan yang dipercayai nenek moyang mereka.

Dalam hidup kita di dunia ini, bisa saja kita mengalami situasi-situasi yang sulit dan membahayakan. Nas ini mengingatkan kita bahwa Tuhan Penyayang dan setia, Dia tidak akan meninggalkan kita dan tidak melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah ke nenek moyang. Kalau situasi yang sulit dan mengancam tersebut adalah karena kelalaian dan dosa-dosa kita, maka yang harus kita lakukan adalah datang kehadapan-Nya dan bertobat.

 

 

Doa:    Bapa di dalam sorga. Tuhan Penyayang dan setia. Kami puji dan muliakan namaMu karena Engkau tidak membiarkan kami binasa dan musnah. Amin.

Nyanyian Kekecewaan Tuhan Maret 12, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
1 comment so far

Renungan Malam Kamis 12 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Nyanyian Kekecewaan Allah

( Yesaya 5: 1 – 4 )

 

“Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam” (ay.2)

                                                                                              

            Pasti seorang petani akan mengalami kecewa berat ketika hasil panennya tidak baik atau tidak sesuai dengan harapannya; padahal dia sudah mengerjakannya dengan baik, dipilih benih yang baik, tanah diolah dengan baik, pupuk yang baik dan setiap hari dibersihkan dari rumput-rumput dan airnya dijaga dengan baik. Si Petani pasti mengalami kecewa berat. Demikian jugalah yang kita temukan dalam nas ini. Dalam nas ini kita menemukan nyanyian kekecewaan Tuhan terhadap umatNya, bangsa Israel. Bangsa Israel digambarkan sebagai kebun anggur dan Tuhan adalah pemiliknya. Kebun anggur tersebut terletak di tempat strategis di lereng bukit yang subur, si empunya kebun mencangkul tanahnya dan membuang batu-batunya, kebunnya ditanami dengan pokok anggur pilihan,  menara jaga dibangun di tengah-tengahnya dan tempat memeras anggur telah disediakan sebab si empunya kebun anggur mengharapkan hasil yang baik. Tapi apa yang terjadi, kebun anggurnya tidak menghasilkan buah yang baik yang dihasilkannya buah yang asam.

            Si empunya kecewa akan kebun anggurnya. Tuhan kecewa melihat umatNya yang memberontak dan karena kekecewaan tersebut Tuhan berperkara dengan umatNya di mana penduduk Yerusalem dan orang Yehuda diundang sebagai hakim atau yang mengadili. Siapakah yang salah yang empunyakan atau kebun anggurnya, Tuhankah atau umatNya. Yang pasti yang empunya kebun anggur sudah melakuka semuanya untuk bisa menghasilkan buah yang baik, tidak ada lagi yang tidak diperbuatnya. Tuhan sudah melakukan yang terbaik kepada umatNya, Tuhan sudah menunjukkan kuasaNya dan penyertaanNya kepada umatNya tetapi umatNya tidak bersyukur malah memberontak. Tidaklah berlebihan kalau Tuhan bernyanyi tetapi nyanyianNya adalah nyanyian kekecewaan.

            Gereja dan orang percaya adalah Tubuh Kristus di tengah-tengah dunia ini. Kita telah dipanggil dan dipilih menjadi umatNya untuk tujuan supaya kita menghasilkan buah-buah yang baik. Untuk tujuan menghasilkan buah yang baik tersebut Tuhan sudah melakukan yang terbaik untuk kita. Dia telah mengutus AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan kematian dengan penderitaan, kematian dan kebangkitanNya. Tuhan menantikan buah yang baik dari kita. Sekarang mari kita renungkan buah apakah yang telah kita buahkan? Buah yang baikkah atau buah yang asam. Jika buah yang baik maka Tuhan akan menyanyikan nyanyian sukacita: “Sungguh indah anakKu ungkapan syukurmu”; sebaliknya jika kita menghasilkan buah yang asam nyanyian kekecewaan Tuhan-lah yang akan kita dengarkan. Selamat menghasilkan buah yang baik.

 

  

Doa:       Ya Tuhan kami memohon supaya Tuhan mengampuni kami jika sampai saat ini kami belum menghasilkan buah yang baik. Berilah kami kesempatan dan kekuatan untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Hubungan Bapa Dan Anak Maret 11, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Rabu 11 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Hubungan Bapa Dan Anak

(Yesaya 63: 7 – 9)

 

Bukankah Ia berfirman: “Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang,” maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka” (ay.8-9a)

           

            Nas Yesaya 63 ini berisikan mazmur (nyanyian) atas perbuatan kasih setia Tuhan kepada umatNya. Kasih setia Tuhan merupakan satu-satunya jaminan untuk masa depan umat yang sedang mengalami penderitaan karena pembuangan. Kasih setia, Tuhan terbukti di dalam tindakan-tindakanNya yang senantiasa menunjukkan kasih sayangNya kepada umatNya meskipun umatNya itu sering memberontak. Umat yang memberontak itu terbuang ke Babel tetapi Tuhan dengan kebajikan, kasih sayangNya yang besar membawa kembali pulang umatNya ke tanah airnya, menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat kembali seperti sedia kala. Hal tersebut dilakukan Tuhan karena mereka adalah umatNya dan Tuhan telah mengangkat mereka menjadi anak-anakNya.

Dalam nas ini kita menemukan perbuatan yang dilakukan Tuhan sebagai Bapa bagi umatNya: 1) Tuhan dengan rela dan sabar menantikan umatNya bertindak benar, jujur dan tidak berlaku curang; 2) Tuhan menjadi Juruselamat bagi mereka dalam kesesakan mereka; 3) Tuhan tidak mengutus orang utusan untuk menyelamatkan umatNya tetapi Dia sendiri yang menebus mereka dengan kasihNya dan belas kasihanNya; 4) Tuhan mengendong dan mendukung  mereka selama zaman dahulu kala artinya Tuhan akan melakukannya turun temurun. Melihat dan menyadari semua perbuatan Tuhan tersebut sang nabi ber-mazmur dengan menyebut-nyebut atau menyaksikan kasih setia, kasih sayang dan belas kasihan Tuhan yang nyata di dalam kehidupan umatNya.

Saat ini, di dalam dunia yang penuh dengan pergumulan ini, karena Tuhan menyatakan diriNya sebagai Bapa kita, maka dapatlah kita curahkan isi hati kita kepadaNya; segala hal boleh kita bawa kehadapan Tuhan di dalam doa dan permohonan. Tidak perlu ada yang harus disembunyikan dihadapan Bapa kita, sebab Dia adalah Bapa yang penuh dengan kasih setai dan belas kasihan. Selain itu, sebagai Bapa, Dia menjadi Juruselamat yang menyelamatkan kita dari segala mara bahaya; Dia juga akan menggendong / mendukung kita dalam perjalanan hidup yang kita sedang dan akan jalani sehingga kita boleh tiba dengan selamat sampai pada akhirnya. Untuk menjadikan kita menjadi anak-anakNya, segala sesuatu telah diperbuat Bapa, bahkan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus dikaruniakanNya ke tengah-tengah dunia ini untuk menderita supaya kita diselamatkan dari kuasa dosa dan kematian. Sebagai anak hidup seperti apakah yang harus kita tunjukkan? Sebagai anak kita harus menjadi anak yang selalu setia dan taat kepada firmanNya dan kehendakNya. Sebab ketidaksetiaan dan ketidaktaatah kita tidak hanya membuat kita menderita tetapi juga akan mendukakan hati Bapa kita yang di sorga.    

  

           

Doa:    Bapa kami yang di sorga, kami puji dan muliakan namaMu yang telah memilih kami menjadi anak-anakMu. Sebagai Bapa kasih setiaMu dan belas kasihanMu senantiasa menyertai dan memelihara kehidupan kami. Kami memohon kiranya Tuhan mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kami sehinga kami menjadi anak-anak yang setia dan taat di hadapanMu. Amin.

Berlindung Dalam Naungan Sayap Tuhan Maret 10, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Selasa 10 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Berlindung Dalam Naungan Sayap Tuhan

( Mazmur 36: 6 – 8 )

 

Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.” (ay.8)

 

 Mazmur 36 khususnya ay.6-8 ini adalah mazmur yang berisikan renungan tentang kasih setia Allah dalam bentuk puji-pujian dan pengakuan percaya. Kalau kita membaca nas ini yang dipuji pe-mazmur adalah kasih dan setia Allah; keadilan dan hukum Allah. Kasih setia Allah yang menjamin hidup di bumi ciptaan-Nya adalah begitu luas, sehingga tak dapat dibayangkan manusia; kasih setia Tuhan sampai ke langit dan sampai ke awan-awan. Keadilah Tuhan dan hukumNya seperti gunung-gunung yang tinggi dan dalamnya sedalam samudera raya. Begitu hebatnya kasih setia Tuhan dan begitu mulianya keadilan dan hukumNya segala sesuatu diselamatkan olehNya. Itulah sebabnya pemazmur dengan rasa kagum mengungkapkan pengakuan percaya : “betapa berharganya kasih setiaMu, ya Allah. Anak-anak  manusia berlindung dalam naungan sayapMu”.

Dalam menapaki perjalanan kita di dunia ini, kepada siapakah kita berlindung? Dalam naungan siapakah kita merasa aman meskipun disaat kita menghadapi pergumulan-pergumulan hidup. Nas ini mengingatkan kita untuk senantiasa berlindung dalam naungan sayap Tuhan. Dengan demikian kita harus melihat bahwa kasih setia Tuhan itu sangat berharga di dalam kehidupan kita; sehingga kita percayainya meskipun sulit kita pahami dan mengerti sebab kasih setia Tuhan itu tingginya sampai ke langit dan sampai ke awan-awan. Kita tidak dapat memahaminya tetapi kita dapat mempercayainya. Demikian juga kita bersandar kepada keadilan dan hukum Tuhan. Dia akan selalu bertindak adil kepada orang-orang yang senantiasa percaya kepada-Nya. 

Dengan berlindung dalam naungan sayap Tuhan, pergumulan-pergumulan hidup di dunia ini dapat kita lewati. Dia akan membawa kita melintasi setiap badai kehidupan dan memberikan kepada kita keselamatan.

Teks sebuah nyanyian rohani mengatakan: Aku ingin selalu berada dalam naunganMu. Aku ingin selalu berlindung dalam naunganMu. Di bawah kepak sayapMu, Kau bawaku terbang tinggi melintasi langit biru bagaikan rajawali. Bagai rajawali melintasi langit biru, bagai rajawali melintasi badai hidup di bawah kepak sayapMu, Kau bawa ku terbang tinggi melintasi langit biru bagaikan rajawali.

 

 

Doa:    Ya Tuhan, ajar kami untuk melihat betapa berharganya kasih setiaMu serta datang kehadiratMu dan mau berlindung dalam naungan sayapMu. Dan yakinkan kami bahwa dengan tinggal dalam naunganMu segala macam badai kehidupan akan dapat kami lalui dengan damai dan sukacita. Amin.

Jangan Takut. Kita Kepunyaan Tuhan Maret 10, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
1 comment so far

Renungan Malam Senin 09 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Jangan Takut. Kita Kepunyaan Tuhan

(Yesaya 43: 1 – 7)

 

“Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel. Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku”(ay.1)

 

Nas ini adalah nubuatan nabi Yesaya kepada umat Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Tujuannya untuk menenangkan dan menghibur hati mereka. Firman keselamatan ini terdiri atas dua janji keselamatan: Pertama: Tuhan berjanji bahwa Ia akan menebus Israel (ay.1-4), kemudian kedua: Tuhan akan membawa pulang orang-orang yang terbuang dan yang mengungsi (ay.5-6), dan semua itu terjadi demi kemuliaan Tuhan (ay.7).  Sebagaimana Tuhan menciptakan langit dan bumi demikianlah Dia akan menjadikan umatNya baru dan sebagaiman Dia membentuk manusia demikian pula Tuhan akan membuat umatNya. Oleh sebab itu, umat Israel tidak perlu takut di pembuangan Babel sebab mereka adalah kepunyaan-Nya. Segala bentuk bencana yang mereka hadapi tidak akan berkuasa membinasakan umatNya, sebab Tuhan sebagai Juruselamat akan memelihara, menyertai dan menyelamatkan umatNya karena mereka berharga di mata Tuhan.  

Kalau kita memiliki sesuatu yang berharga dan sesuatu itu mempunyai kenangan pasti kita akan menjaganya, merawatnya dengan baik. Kita akan bersedih jika kita kehilangannya. Demikianlah kita juga dihadapan Tuhan. Kita adalah milik Tuhan yang berharga di hadapan Tuhan. Dia yang menciptakan kita, menebus kita, memanggil kita dengan nama dan kita ini kepunyaanNya. Begitu berharganya kita dihadapan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita jalani dan hadapi Dia menyertai dan melindungi kita. Menyeberang melalui air , Dia menyertai kita; pergumulan yang semakin berat (melalui sungai-sungai) kita tidak akan dihanyutkan; ketika pergumulan semakin berat dan mengancam (melalui nyala api) kita tidak akan terbakar. Hal tersebut terjadi sebab kita berharga di mata Tuhan dan Dia menjadi Juruselamat bagi kita.

Saat ini mungkin kita sedang menghadapi berbagai macam pergumulan hidup di tengah-tengah keluarga, di tengah-tengah pekerjaan kita dan di tengah-tengah masyarakat. Badai dan topan menerpa hendak membinasakan kita. Firman Tuhan menyerukan kepada kita: Jangan takut. Kita milik dan kepunyaan Tuhan yang sangat berharga di hadapanNya. Kita akan dijaga dan dipelihara seperti biji mata asal kita senantiasa percaya dan berserah kepadaNya serta mempersembahkan   hidup kita hanya untuk kemuliaan namaNya.

 

 

Doa:       Ya Tuhan. Terpujilah namaMu yang telah menjadikan kami kepunyaan dan milikMu yang berharga. Teguhkan iman percaya kami bahwa Engkau senantiasa menyertai dan memelihara kehidupan kami. Pakailah kami menjadi alat kemuliaan namaMu. Amin.

Tuhan Sumber Kehidupan Maret 7, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Jumat 06 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Sumber Kehidupan  

 ( Kejadian 2: 7 – 9 )

 

 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. (ay.7)

 

            Dalam nas ini diperlihat Tuhan sebagai penjunan (tukang periuk) yang sedang membangun dan membentuk tanah liat itu menjadi bentuk badan manusia. Manusia itu yang dibentuk dari tanah liat itu belum mempunyai nyawa atau kehidupan; barulah setelah Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia tanah liat tersebut manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Setelah manusia diciptakan dan menjadi makhluk yang hidup, sebagai tempat kediamannya untuk mejalani hidup Tuhan mendirikan bumi disekitarnya yang diuraikan seperti taman yang diberi nama Eden. Di taman itu supaya terdapat kehidupan Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya. Di taman itu juga Tuhan menumbuhkan pohon kehidupan serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

            Dari nas ini kepada kita hendak disampaikan bahwa kita bergantung mutlak kepada Tuhan. Bagaimanapun besarnya dan mulianya kehidupan manusia, sebenarnya manusia adalah abu, debu, tanah liat, bahan yang mati, yang tidak mempunyai kehidupan dalam dirinya sendiri. Kehidupan itu hanya bersumber dari Tuhan. Sama  seperti barang-barang tanah liat seperti: periuk, kendi, belanga, mangkok dan lain-lain bergantung kepada dan dimiliki oleh penjunan (tukang periuk); demikianlah Tuhan berdaulat terhadap manusia ciptaanNya. Kehidupan yang adalah pemberian Tuhan tidaklah menjadi sifat atau milik manusia, melainkan merupakan karunia Tuhan yang diterima manusia setiap saat; pe-mazmur mengatakan: “…..,apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu” (Mzm.104:29b).

            Dengan mengetahu bahwa kita hanyalah terbuat dari debu tanah yang sangat rentan, yang pasti akan kembali menjadi debu adalah sangat memprihatinkan ketika ada orang yang menempatkan hidupnya kepada sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna. Kehidupan yang kita miliki saat ini adalah karunia Tuhan sudah seharusnyalah kehidupan ini kita pergunakan untuk melakukan hal-hal yang baik, bermamfaat dan bermakna; seharusnyalah kita taat dan setia hanya kepada penjunan dan sumber kehidupan kita yaitu Tuhan. Keinginan kita adalah melakukan kehendak Dia yang menciptakan dan mengaruniakan kehidupan kepada kita.       

 

Doa:       Jadikanlah kehidupan kami yang adalah karuniaMu kami pergunakan untuk kemuliaan namaMu. Tuntun kami dengan Roh Kudus sehingga kehidupan kami tidak berlalu begitu saja tetapi kami jalani dengan penuh arti dan makna yang sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Laksanakan Tugas Panggilanmu Maret 5, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 05 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Laksanakan Tugas Panggilanmu

( Yeremia 1: 4 – 8 )

 

“Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.  Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (ay.7-8)

 

Pemilihan dan pemanggilan Yeremia menjadi nabi sangat unik dan luar biasa. Sebelum Yeremia dibentuk dirahim ibunya, dia sudah dikenal Tuhan. Sebelum Yeremia keluar dari kandungan, Tuhan sudah menguduskan dia artinya Tuhan sudah memilih dan mengkhususkan Yeremia untuk melakukan perintah dan kehendak Tuhan. Yeremia telah ditetapkan menjadi nabi atas bangsa-bangsa.

Yeremia menyadari keberadaannya, dia yang masih muda dan kurang pengalaman mengaku bahwa tugas sebagia seorang nabi tidaklah mudah; tetapi akan menghadapi tantangan dan hambatan apalagi di tengah-tengah bangsa Israel yang sangat gemar dan senang memberontak kepada Tuhan. Itu sebabnya Yeremia mengatakan kepada Tuhan: “Ah Tuhan, sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda”. Tuhan meneguhkan Yeremia dengan mengatakan bahwa masalah usia bukanlah ukuran bisa atau tidaknya seseorang itu menjadi utusan Tuhan. Yang penting Yeremia mau diutus Tuhan untuk menyampaikan firmanNya; kepada siapa Yeremia diutus dia harus pergi, apa pun yang diperintahkan haruslah dia sampaikan. Yeremia tidak perlu takut menjalankan tugas kenabiannya sebab Tuhan akan menyertai dia untuk melepaskannya.

Dalam dunia ini, sebagai anak-anak Tuhan, kita juga diutus menjadi duta-dutaNya di tengah-tengah dunia ini. Melihat begitu banyaknya tantangan yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini, bisa saja kita takut memainkan peran kita dan menunjukkan identitas kita sebagai duta-duta Tuhan. Firman Tuhan mengatakan siapa yang mempertahankan nyawanya dia akan kehilangan nyawanya tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena firman Tuhan dia akan memperoleh kehidupan. Firman ini mengingatkan kita bahwa kita telah dipilih dan diutus oleh Tuhan dan untuk melaksanakan tugas pengutusan tersebut Tuhan akan menyertai dan memelihara kita. Sepanjang kita melaksanakan seperti yang diperintahkan dan difirmankan Tuhan kita selalu berada dibawah penyertaan dan perlindunganNya. Selamat melaksanakan tugas dan panggilan kita.  

Doa:    Ya Tuhan. Engkaulah yang telah memilih kami menjadi anak-anakMu dan duta-dutaMu ditengah-tengah dunia ini. Kami memohon kiranya Tuhan senantiasa menguatkan kami untuk melakukan dan melaksanakan tugas panggilan kami. Amin.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.