jump to navigation

Bagi Tuhan Tidak Ada Yang Tersembunyi Oktober 31, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Jumat, 31 Oktober 2008

 

Bagi Tuhan Tidak Ada Yang Tersembunyi

 

Daniel 2 : 22

 

“Dia-lah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi,

Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya”

 

Nas ini adalah mazmur dan pujian Daniel kepada Allah semesta alam setelah kepadanya Allah menyingkapkan isi dan makna mimpin dari raja Nebukadnezar. Daniel memuji Allah dengan mengatakan: “Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya” sebab dari Dialah hikmat dan kekuatan, Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raaj dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian, Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada padaNya” (Daniel 2:20-22). Dalam ay. 22 ini secara khusus Daniel memuji Allah karena ke-mahatahuanNya; dimana bagi Allah tidak ada yang tersembunyi.

Dalam kehidupan manusia di dunia banyak hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi; yang tidak kita ketahui dan tidak dapat kita pahami. Walaupun demikian keadaannya, sebagai orang-orang percaya kita tidak perlu takut dan ragu-ragu menjalani hidup di dunia ini. Kita mempunyai Allah yang berkuasa menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi. Dia tahu apa yang ada di dalam gelap. Terang ada pada-Nya  dan terang tersebut yang menerangi perjalanan orang-orang percaya.

Ketika dalam hidup ini kita mengalami kejadian yang susah kita mengerti dan pahami, sangat sulit kita terima mengapa hal tersebut bisa terjadi; Dia akan menyingkapkan isi dan makna setiap kejadian tersebut kepada kita sehingga kita dapat menerimanya dengan sukacita dan berpengharapan. Bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi.

 

Doa:    Ya Tuhan, dalam dunia ini banyak hal yang terjadi yang tidak dapat kami pahami dan kami mengerti. Ajar kami untuk percaya bahwa Engkau akan menyingkapkan segala sesuatu kepada kami sehingga kami tetap hidup di dalam sukacita dan berpengharapan hanya kepadaMu saja. Amin.

Iklan

Berilah Dirimu Diselamatkan Oktober 30, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Epistel.
add a comment

Khotbah Epistel, Minggu XXIV Setelah Trinitatis, 02 Nopember 2008

 

Nas:  Kisah Para Rasul 2: 37 – 41

 

Berilah Dirimu Diselamatkan

 

1.   Kisah Para Rasul adalah bagian kedua dari tulisan Lukas (bagian pertama Injil Lukas). Jika pada Injil Lukas penulis menyampaikan berita tentang Yesus dan pelayanan-Nya dalam Kisah Para Rasul penulis menyampaikan berita tentang pekerjaan para rasul setelah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

      Pada saat turunnya Roh Kudus, terjadi hal yang luar biasa kepada murid-murid. Mereka yang sebelumnya hidup di dalam ketakutan sepeninggalan Sang Guru, Yesus Kristus, setelah turunnya Roh Kudus di dalam diri murid-murid ada keberanian untuk memberitakan Yesus Kristus.

2.   Nas Kisah 2: 37 – 41 ini adalah kejadian setelah turunnya Roh Kudus di mana Petrus berkhotbah di tengah-tengah orang banyak di Yerusalem pada waktu itu. Orang banyak begitu terharu mendengar pemberitaan Petrus sehingga mereka bertanya kepada murid-murid: “apakah yang harus kami lakukan saudara-saudara”? Pada saat ini 3000 orang memberikan dirinya dibaptis dan menjadi pengikut Kristus. Dengan mempercayai Yesus yang diberitakan Petrus dan memberikan dirinya dibaptis itu artinya mereka telah memberikan dirinya untuk diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.

3.   Berilah Dirimu Diselamatkan. Kalau kita membaca nas Kisah 2: 37 – 41 apa yang harus kita perbuat sebagai tanda bahwa kita Memberikan Diri Untuk Diselamatkan:

     

      Pertama:  Mendengar Firman Tuhan Dengan Sungguh-Sungguh.

      Dalam sebuah pemberitaan memang pemberita firman mempunyai peranan penting sehingga dibutuhkan pemberita firman yang baik. Tetapi firman Tuhan dapat menyentuh tidak hanya ditentukan oleh pemberita firman, tetapi juga ditentukan oleh pendengar firman itu sendiri. Pendengar firman harus pendengar yang baik, yang mempersiapkan hati dan pikirannya untuk menerima firman sehingga firman dapat menyentuh hatinya dan membawa pembaharuan di dalam hidupnya. Seperti apa pun baiknya pemberita firman jika pendengarnya tidak dengan sungguh-sungguh mendengar, firman yang diberitakan tidak akan membawa pembaharuan di dalam hidupnya. Dalam nas ini orang banyak yang mendengar Petrus adalah pendengar yang baik sehingga mereka terharu mendengar pemberitaan rasul Petrus dan bertanya: “Apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus mereka lakukan supaya mereka diselamatkan.

 

      Kedua:  Bertobat dan memberi diri untuk dibaptis

      Apa yang harus kami lakukan? Petrus menjawab: Bertobatlah. Bertobat dalam hal ini adalah karena firman yang di dengar di dalam diri seseorang harus ada perubahan pikiran dan perubahan tindakan. Pertobatan akan menghasil penghapusan dosa-dosa di masa lalu, termasuk dosa warisan dimana seseorang itu menjadi benar di hadapan Tuhan. Dan kepada orang yang mau bertobat akan  dikaruniakan Roh Kudus yang akan menuntunnya di masa yang akan datang, menghadapi pencobaan-pencobaan.  Hanya orang yang mengaku dosa dan bertobatlah yang diselamatkan dan dikaruniakan Roh Kudus yang akan menuntun ke dalam kebenaran. Memberi diri dibaptis di dalam nama Kristus Yesus menjadi tanda bahwa seseorang itu telah hidup baru dan hidupnya berada di dalam kasih karunia Tuhan. Sebab dengan Baptisan Kudus kita telah turut serta di dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

 

      Ketiga: Tetap menyukai tegoran, pengajaran dan nasihat

      Orang yang sudah bertobat dan memperbaharui hidupnya dalam dunia ini tetap menghadapi banyak pergumulan dan pencobaan. Oleh sebab itu, mendengar tegoran, pengajaran dan nasihat yang bersumber dari firman Tuhan harus menjadi menu utama dalam hidup orang yang sudah bertobat. Seban tegoran, pengajaran dan nasihat akan menuntunnya tetap berjalan di jalan kebenaran, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri tetap berjalan di jalan yang dikehendaki Tuhan,

 

3.   Injil Keselamatan itu diperuntukkan untuk semua orang (bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh). Itu artinya pemberitaan tentant Yesus harus tetap berlangsung, injil harus diberitakan kepada segala makhluk dan di setiap masa. Zaman para rasul sudah berakhir, tetapi pemberitaan injil tidak boleh berhenti. Orang-orang percaya yang telah diselamatkan menjadi pengemban tanggungjawab dan tugas tersebut. Kita semua, saya dan saudara-saudara. Beritakanlah injil baik atau tidak baik waktunya. Amin.

Mempercayai Tuhan Dengan Sungguh Oktober 30, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Kamis, 30 Oktober 2008

 

Mempercayai Tuhan Dengan Sungguh

 

Kejadian 15 : 6

 

“Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu

kepadanya sebagai kebenaran”

 

Dalam Kejadian 15 iman Abram di uji. Disaat dia merindukan keturunan sebagai penerus keturunannya, Tuhan menunjukkan kepadanya bintang di langit. Seperti banyaknya bintang di langit demikianlah banyaknya keturunan Abram. Apa yang difirmankan Tuhan itu dipercayai oleh Abram dan hal itu diperhitungkan Allah kepadanya sebagai kebenaran.

Dalam Perjanjian Lama iman memiliki dua pengertian, 1) “percaya” atau “bergantung pada” dan 2) “taat” atau “kesetiaan”. Jadi percaya berarti bertekun dalam mempercayai dan yakin dengan menyatakan kesetiaan yang bersifat taat. Inilah iman yang dimiliki Abram. Hatinya terarah kepada Allah dalam kepercayaan, ketaatan dan penyerahan yang tetap. Allah melihat sikap hati Abram yang beriman dan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran. Istilah kebenaran berarti mempunyai hubungan yang benar dengan Allah dan kehendak-Nya.

Bagaimana dengan iman kita? Apakah iman kita sudah merupakan kebenaran artinya iman kita hasil dari hubungan yang benar dengan Allah dan kehendak-Nya. Dalam situasi sulit yang kita hadapi, apakah hati kita sudah terarah kepada Allah; kita percaya, taat dan berserah kepada-Nya? Hanya dengan mempercayai Tuhan dengan sungguh kita dapat tenang dan tentram bahkan disituasi yang sulit sekalipun. Oleh sebab itu, milikilah  iman yang timbul dari hubungan yang baik dengan Tuhan. Hubungan yang baik dengan Tuhan akan menghasilkan sikap hidup yang mempercayai Tuhan dengan sungguh dan membentuk kita menjadi manusia-manusia yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap pergumulan hidup di dunia ini.

 

Doa:       Ya Tuhan, ajar kami senantiasa mempercayaiMu dengan sungguh dalam kehidupan kami di dunia ini. Sehingga kami dikuatkan dan diteguhkan di dalam menghadapi pergumulan-pergumulan hidup di dunia ini. Amin.

Basuh dan Bersihkanlah Dirimu Oktober 29, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Rabu, 29 Oktober 2008

 

Basuh Dan Bersihkanlah Dirimu

 

Yesaya 1 : 16

 

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu

yang jahat dari depan mataKu. Berhentilah berbuat jahat”

 

Sesuatu yang kotor pasti mengurangi penampilan dan tidak menarik di pandang mata. Misalnya: pakaian yang kotor, halaman yang kotor, ruangan yang kotor dll. Nah untuk mengembalikan penampilan yang baik dan menarik yang dilakukan adalah dengan membasuh dan membersihkan. Dalam nas ini Tuhan melalu nabi Yesaya berfirman:  ‘basuhlah, bersihkanlah dirimu’. Mengapa Tuhan berfirman supaya umat-Nya melakukan ‘pembasuhan’ dan ‘pembersihan’? Tentu saja di tengah-tengah umat Israel ada sesuatu yang membuat penampilannya kurang menarik bagi Tuhan; ada sesuatu yang mengotori umat Israel sebagai umat Tuhan. Di tengah-tengah umat Israel terdapat tindakan yang jahat, keliru dan sia-sia yang mengotorinya.  Umat Israel dituntut menjauhkan perbuatan-perbuataan jahat. Mereka harus berhenti berbuat jahat.

Mari kita menyelidiki hati, pikiran dan kehidupan kita. Jangan-jangan penampilan kita juga sudah tidak menarik perhatian Tuhan karena perbuatan-perbuatan kita yang jahat yang mengotori penampilan kita. Jika demikian, kita harus segera melakukan pembasuhan dan pembersihan. Dengan apakah kita membasuh dan membersihkannya? Sabun atau detergen apa yang harus kita pergunakan untuk membersihkan dan membasuhnya? Pembasuhan dan pembersihan hanya oleh darah Yesus Kristus. Oleh sebab itu, marilah kita datang kehadirat Yesus Kristus memohon pengampunan dosa dan pembaharuan hidup. Kita juga harus berhenti dan putus hubungan dengan segala perbuatan-perbuatan jahat dan kembali hidup menurut firman-Nya. Stop berbuat jahat; lakukanlah perbuatan-perbuatan baik sebagai bukti bahwa kita telah dibasuh dan dibersihkan oleh darah Tuhan Yesus Kristus.

 

Doa :      Ya Tuhan, dengan kuasa Roh Kudus kuatkan kami untuk menjauhkan diri kami dan berkata tidak terhadap perbuatan-perbuatan jahat. Amin.    

Koyakkanlah Hatimu Oktober 28, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Selasa, 28 Oktober 2008

 

Koyakkanlah Hatimu

 

Yoel 2 : 13a

“Koyakkanlah hatimu jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu”

 

 Tradisi mengoyakkan pakaian adalah tradisi umat Yahudi. Mengoyakkan pakaian (dan menaburkan abu di atas kepala) merupakan tanda perkabungan, tanda dukacita. Seperti yang dilakukan Yakub ketika mendengar berita mengenai kematian anaknya Yusuf,  demikian juga Ayub mengoyakkan pakaiannya ketika mendengar berita kematian anak-anaknya.

Karena dosa dan pelanggarannya manusia itu jatuh ke dalam perkabungan, sebab upah dosa adalah maut. Nabi Yoel mengajak kita berkabung karena dosa dengan mengoyakkan hati kita, bukan mengoyakkan pakaian kita.  Koyakkan hatimu artinya hati yang hancur dan patah  karena dosa (bnd. Mazmur 51:19), yang menuntun kita kepada pertobatan, berbalik kepada Tuhan. Jika kita berbalik dari dosa-dosa dan kembali kepada Tuhan, kita akan memperoleh belas kasihan Tuhan.

Tuhan memiliki sifat menunjukkan belas kasihan dan kemurahan kepada umat-Nya jikalau kita sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Dihadapan  Tuhan dengan hati yang hancur dan patah kita mengatakan seperti syair nyanyian: “’ku telah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi. Hidup ini kuletakkan pada mezbahmu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini”.

 

 

 

Doa:       Ya Tuhan, kami datang kehadiratMu memohon pengampunan dosa dengan hati yang hancur, kasihanilah kami.  Amin.

Ingatlah Akan Dosamu Oktober 27, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Senin, 27 Oktober 2008

 

Ingatlah Akan Dosamu

 

Ratapan 3 : 39

“Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya”

 

               Apa yang biasanya dikeluhkan oleh manusia (orang hidup ) di dunia ini. Biasanya yang dikeluhkan adalah masalah ekonomi, masalah pekerjaan, masalah kemiskinan, masalah jodoh, masalah anak dan banyak lagi yang dikeluhkan manusia di dunia ini. Apakah salah kita mengeluh akan kebutuhan jasmani kita? Salah. Sebab selama kita masih hidup selama itu juga masih ada harapan. Selain itu keluhan-keluhan kita akan kebutuhan jasmani tersebut menguasai kita sehingga kita menjadi lupa mengeluh akan kebutuhan rohani kita yaitu mengenai dosa-dosa kita.

               Itulah sebabnya Yeremia dalam kitab Ratapan ini bertanya-tanya: “mengapa orang hidup mengeluh?”. Dan Yeremia menganjurkan ketika kita mengeluh hendaknya kita mengeluh tentang dosa-dosanya; dosa-dsa yang menghalangi kita menerima berkat Tuhan dan menghalangi kita untuk datang kehadirat Tuhan. Mengeluh tentang dosa artinya memohon pengampunan dari Tuhan, berusaha dengan sungguh-sungguh meninggalkan dosa  dan kembali kepada Tuhan.

            Kalaupun dalam dunia ini kita menghadapi banyak pergumulan dan penderitaan, tetapi kita masih hidup, sebab itu kita masih dapat berharap akan masa depan yang penuh harapan. Yang lebih utama kita lakukan adalah menguji diri kita, mengingat akan dosa-dosa dan bertobat serta berpaling kepada Tuhan. Kita harus membaharui iman kita di dalam kita, berdoa kepada-Nya dan mempercaya bahwa Tuhan akan berkarya dalam kehidupan kita.

 

Doa:       Ya Tuhan, ajarlah kami untuk mengakui dosa-dosa kami dan mau datang kehadiratmu memohon pengampunanMu. Amin.   

SIKAP HIDUP ORANG KRISTEN Oktober 25, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Minggu XXIII Setelah Trinitatis, 26, Oktober 2008

 

Nas: Amsal 20: 22 – 27

 

SIKAP HIDUP ORANG KRISTEN

 

1.   Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus:

      Kitab Amsal ini berisikan banyak nasehat dan pengajaran yang menuntun setiap pembaca untuk hidup lebih baik, hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, hidup yang takut akan Tuhan. Dalam kitab Amsal ini hampir setiap ayat memberi pesan dan pengajaran yang berbeda-beda dan berdiri sendiri.

2.   Dalam nas khotbah ini penulis amsal hendak mengajarkan kepada kita bagaimana sikap hidup orang kristen yang benar dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Kalau kita membaca nas khotbah ini terdapat tiga (3) hal yang sangat penting kita renungkan dalam rangka mengamalkan Sikap Hidup Orang Kristen:

 

     I.Sikap Hidup Orang Kristen: Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan/kekerasan.

 

      Dalam kehidupan kita di dunia ini, sebagai anak-anak Tuhan mungkin  kita pernah menghadapi tindak kejahatan dari orang-orang disekitar kita. Sebagai manusia biasa, dalam pikiran kita mungkin pernah terlintas untuk membalas kejahatan dan kekerasan yang terjadi dalam kehidupan kita. Sebelum hal tersebut benar-benar kita lakukan, firman Tuhan dalam amsal ini mengingatkan kita bahwa tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan. Penulis amsal berkata: “janganlah engkau berkata: aku akan membalas kejahatan”. Sebab, jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan apakah bedanya kita dengan orang yang melakukan kejahatan tersebut. Tidak ada bukan? Sama saja kita menjadi pelaku kejahatan dan kekerasan dimana sadar atau tidak sadar kita telah memasukkan kehidupan kita ke dalam belenggu dan lingkaran kejahatan itu sendiri; dimama pembalasan berlangsung terus menerus.

 

 

      Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus:

      Jika demikian, bagaimanakah kita menghadapi segala tindakan kejahatan yang terjadi dalam hidup kita? Apakah kita membalasnya? Ya kita tidak boleh tinggal diam terhadap segala bentuk kejahatan, kita harus melawannya. Hanya yang harus kita ingat adalah janganlah kita melawan atau membalasnya dengan kejahatan. Kejahatan tersebut kita lawan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Salah satu perbuatan baik tersebut adalah dengan  berserah kepada  Allah, membawa penderitaan yang kita alami kepada Tuhan dan mempercayakannya kepada-Nya supaya Dia yang bertindak (bnd. 1 Ptrs.2:23 ; 4:19). Memohon di dalam doa supaya Dia memberikan kekuatan kepada kita dan menyelamatkan kita dari situasi yang sulit yang kita hadapi. Kita juga mendoakan orang yang memusuhi kita, orang-orang yang melakukan kejahatan supaya mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Mengenai pembalasan kita serahkan kepada Tuhan sebab hanya Tuhan-lah yang berhak melakukan pembalasan. Pada saatnya Dia akan membalas semua ketidakadilan dan kejahatan yang diderita oleh orang benar yang berseru kepada-Nya siang dan malam (Lukas 8:7-8). Kita harus percaya bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu di dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Mungkin kita sulit untuk mengerti dan memahami rencana Tuhan, yang harus kita lakukan adalah mempercayai-Nya. Nyanyian NKB.No.188 mengatakan: “tiap langkahku diatur oleh Tuhan dan tangan kasihNya membimbingku. Di tengah g’lombang dunia menakutkan hatiku tetap tenang teduh. Tiap langkahku ku tahu yang Tuhan pimpin ke tempat tinggi ‘ku diangkatNya. Hingga sekali nanti aku tiba ke rumah Bapa sorga yang baka”.

 

  II. Sikap Hidup Orang Kristen: Hidup di dalam Kejujuran dan Keadilan

 

      Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus;

 

      Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi Tuhan sebab Tuhan cinta akan kejujuran dan keadilan. Dalam dunia ini manusia sering memakai alat pengukur salah satunya adalah timbangan yang sering dipakai ketika berjualan. Adalah suatu tindakan ketidak jujuran ketika kita memakai dua batu timbangan, ketika kita membeli kita memakai batu timbangan yang menguntungkan kita ketika kita menjual kita memakai batu timbangan yang merugikan pembeli. Dalam membina hubungan dengan sesama juga sering tolok ukur yang kita pakai hanya dalam rangka mendatangkan keuntungan bagi kita. Selama dari seseorang itu masih ada sesuatu yang kita harapkan dan menguntungkan bagi kita maka kita akan terus membina hubungan dengannya; tetapi kalau sudah tidak ada yang kita harapkan maka kita memutuskan hubungan dengannya. Segala tindakan tersebut adalah kekejian bagi Tuhan sebab tindakan tersebut telah mencemarkan maksud dan rencana Tuhan mendatangkan keadilan bagi setiap orang.

 

      Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus;

      Dimanapun kita berada dan apapun yang kita lakukan haruslah kita hidup di dalam kejujuran dan keadilan. Kejujuran dan keadilan harus mewarnai kehidupan kita ketika kita berhubungan kepada siapa pun. Untuk hidup jujur dan adil hendaknya kita memeteraikan di dalam hati kita bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama yang dikasihani oleh Tuhan. Amsal 15:8 mengatakan: “korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya”; dan Amsal 14:11 mengatakan: “rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar”.

     

      Saudara-saudara:

      Roh Kudus mengaruniakan kepada kita hati yang bijak yang dapat membedakan apa tidak baik dan apa yang baik yang berkenan kepada Allah. Hati yang bijak dan iman yang telah dewasa dapat mengenal segala tindakan kefasikan sehingga dia dapat menghindarinya bahkan menggilas kefasikan itu berulang-ulang; sebaliknya hati yang bijak dan iman yang telah dewasa membentuk kita menjadi orang-orang yang hidup di dalam kejujuran dan keadilan.  

 

 III. Sikap Hidup Orang Kristen: Berhati-hati ketika berbicara

 

      Saudara-saudara yang terkasih;   

      Mulut atau lidah merupakan karunia Tuhan yang seharusnya dipergunakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tetapi sering mulut dan lidah menjadi awal mula dari sebuah perpecahan. Penulis Yakobus mengatakan bahwa kita bisa menjinakkan binatang-binatang buas tetapi mulut atau lidah sangat susah untuk kita kendalikan. Mulut dan lidah yang tidak dapat dikendalikan bisa membakar hutan yang sangat luas, bisa merusak persekutuan dan mengakibatkan perpecahan. Oleh sebab itu, ketika hendak mengatakan sesuatu kita harus lebih berhati-hati jangan asal bunyi. Orang bijak mengatakan “berpikir dulu baru bicara jangan bicara dulu baru berpikir”. Sesuatu yang kita katakan bisa menjadi jerat jikalau kita mengatakannya tanpa berpikir dulu dan tanpa menimbang-nimbang dulu. Sebagai contoh: kalau kita sudah bernazar kita harus melakukannya sebab nazar itu harus di bayar., sesuatu yang telah kita janjikan harus ditepati. Kalau dipungkiri dan tidak ditepati hal tersebut bisa menjadi preseden buruk dimana kita menjadi seseorang yang tidak dapat dipercaya kata-katanya dan hal tersebut bisa merusak persekutuan dengan sesama.  

 

      Saudara-saudara:

      Penulis Surat Yakobus menganjurkan kita untuk lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara (Yak.1:9). Anjuran ini bukanlah larangan untuk berbicara, tetapi mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati jika sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu. Yang lebih baik adalah kita sedikit berbicara dan banyak bekerja dan melakukan yang baik dalam hidup. Biarlah apa yang kita kerjakan, segala sesuatu yang baik yang kita perbuat mengkomunikasihan siapa kita yang sebenarnya.

 

3.   Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus:

      Sebagai orang-orang percaya, Tuhan telah mengaruniakan roh (hati nurani) di dalam hidup kita.  Roh inilah menjadi pelita yang menyelidiki seluruh lubuk hati kita apakah yang kita lakukan baik dalam perbuatan maupun perkataan sudah sesuai atau tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh itu menjadi hakim yang mengadili setiap yang kita kerjakan, kita katakan dan yang kita pikirkan. Tentu roh yang dapat melakukan hal yang demikian adalah roh (hati nurani) yang sehat. Bagaimana supaya roh itu sehat? Hal tersebut tergantung dari berapa banyak makanan yang kita berikan untuk dikonsumsinya yaitu firman Tuhan. Amin.

Tuhan Sangat Dekat Oktober 25, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Sabtu, 25 Oktober 2008

 

Tuhan Sangat Dekat

 

Mazmur 145 : 18

 

“Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya,

pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan””

 

Tuhan itu hanya sebatas doa jauhnya dari orang-orang percaya, demikianlah sebahagian syair sebuah nyanyian rohani Kristen. Syair itu hendak mengatakan kepada kita betapa Tuhan itu sangat dekat kepada kita. Oleh sebab itu, apa pun pergumulan hidup yang kita hadapi dalam dunia  ini berserulah kepada Allah, berteriaklah kepada-Nya, berdoalah memohon pertolongan kepada-Nya (bnd. Mzm. 50:15 “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku”).

Jika Tuhan sangat dekat kepada kita apakah yang harus kita takutkan? Kenapa kita terlalu kuatir tentang masa depan kita.  Tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan sebab Tuhan yang sangat dekat itu akan memelihara hidup kita. Dia akan mencukupkan dan akan merangkai masa depan kita masa depan yang penuh harapan.

Hanya dari kita dituntut kesetiaan dan ketekunan  di dalam berseru kepada-Nya. Kita tidak boleh putus asa dan merasa bahwa Tuhan sudah jauh dan tidak mendengar seruan dan teriakan kita minta tolong. Kalau Tuhan memperlambat pertolongan-Nya, hal itu dilakukanNya untuk melihat kesetiaan dan ketekunan kita. Ketika kita setia pertolonganNya akan datang tepat pada waktunya. Tuhan itu dekat. Oleh sebab itu, berserulah kepada Tuhan di dalam kesetiaan.

 

Doa:       Ya Tuhan, Bapa kami yang di sorga. Tuhan yang dekat kepada orang-orang yang percaya kepadaMu. Ajarlah kami untuk berseru kepadaMu di dalam kesetiaan. Amin.

Pergunakanlah Waktu Di Dalam Hidup Berkeadilan Oktober 24, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Jumat, 24 Oktober 2008

 

Pergunakanlah Waktu Di Dalam Hidup Berkeadilan

 

Pengkhotbah 3 : 17

 

“Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar

maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya”

 

Manusia yang berkenan kepada Tuhan adalah manusia yang berkelakuan adil dan benar di tengah-tengah dunia ini. Namun apa yang terjadi di dunia? Justru di tempat yang diharapkan akan terjadi keputusan yang adil dan benar, di situ terjadi penyalahgunaan dan pemutarbalikan hukum, di dunia ini kejahatan merajalela. System hukum dan peradilan sudah tidak bisa diharapkan. Yang harus diadili malah bebas sedangkan yang harus bebas malah dipenjarakan. Supremasi hukum tidak ditegakkan secara benar untuk menjaga kebenaran dan keadilan ditegakkan. Ketidakadilan tersebut membuat kesempurnaan maksud-maksud Allah tercemar dan tentu saja membuat kita gerah dan cemas akan masa depan kehidupan umat manusia.

Penulis Amsal hendak memberikan suatu kepastian bagi kita mengenai keadilah dan kebenaran. Meskipun system peradilan di dunia ini sudah bobrok ia yakin bahwa pada akhirnya keadilan dari Allah sebagai Hakim tertinggi akan berlaku. Kalau manusia tidak becus mengadili, maka masih ada Allah yang akan mengadili. Saat ini, mungkin yang tampak adalah kemenangan kejahatan, nanti pada waktunya yang menang adalah keadilan dan kebenaran. Oleh sebab itu, kita tidak boleh putus asa dan pesemis sebab segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya. Ada waktunya seakan-akan ketidakadilan dan kejahatan menjadi pemenang, tetapi pada waktunya Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya di mana segala perbuatan kejahatan dan ketidakadilan akan dikalahkan, ditaklukkan dan dihukum.

Marilah kita lebih sungguh-sungguh mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada di dalam hidup berkeadilan dan kebenaran. Sebab pada waktunya setiap orang akan diadili oleh Allah menurut perbuatan masing-masing.  

 

Doa:       Ya Tuhan, bimbing kami untuk mempergunakan waktu yang Tuhan berikan kepada kami untuk hidup di dalam keadilan dan kebenaran. Amin.

Kembalilah Kepada Allah Oktober 23, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
2 comments

Renungan Harian, Kamis, 23 Oktober 2008

 

Kembalilah Kepada Allah

 

2 Tawarikh 30 : 9

 

“Karena bilamana kamu kembali kepada Tuhan, maka saudara-saudaramu

 dan anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang

yang menawan mereka, sehingga mereka kembali ke negeri ini.

Sebab Tuhan, Allahmu, pengasih dan penyayang:

 Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu,

bilamana kamu kembali kepada-Nya”

 

Nas ini berisikan panggilan untuk kembali kepada Tuhan. Tentu saja panggilan ini ditujukan kepada setiap orang yang telah salah jalan, perjalanannya sudah menyimpang dari kehendak Tuhan. Umat Allah harus kembali kepada-Nya dengan keinginan meninggalkan dosa dan mengakui Dia sebagai Tuhan dan dengan  tulus menaati perintah-perintahNya. Dalam panggilan ini terdapat janji pemeliharaan dan penyertaan Tuhan. Dengan kembali kepada Tuhan dan hidup di dalam perintah-perintahNya maka Tuhan sendiri yang akan memelihara dan menyertai umat-Nya di dalam kasih karunia dan belas kasihan.

“Anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan, sehingga mereka kembali ke negeri ini”, dapat kita artikan bahwa dengan memilih kembali kepada Tuhan maka seseorang itu akan melalui perjalanan hidupnya dengan damai, sukacita dan tiba sampai ke tujuan dengn selamat meskipun di dalam setiap perjalanan hidup yang dilaluinya banyak hambatan dan rintangan. Dasar dari janji itu sangat jelas karena Allah itu Pengasih dan Penyayang. Hakekat Allah yang adalah Pengasih dan Penyayang menjadi jaminan bagi kita untuk menetapkan hati kembali kepada-Nya.

Pintu kasihNya selalu terbuka bagi setiap orang yang ingin mau datang dan kembali kepada-Nya. Wajah Tuhan akan selalu terarah kepada setiap orang yang kerinduannya adalah hidup di dalam ketaatan dan kesetiaan kepada perintah-perintah-Nya.

 

Doa:       Ya Tuhan, kiranya kasih setiaMu senantiasa menyertai kami di dalam perjalanan hidup kami dan wajahMu selalu terarah kepada kami. Amin.