jump to navigation

Hiduplah Sebagai Manusia Dewasa Oktober 3, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
trackback

Renungan Harian, Kamis, 02 Oktober 2008

 

Hiduplah Sebagai Manusia Dewasa

1 Korintus 3: 3

“Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

 

  

        Seseorang yang masih anak-anak dengan seseorang yang sudah dewasa tentu mempunyai perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu salah satunya terlihat bagaimana seseorang itu merespon suatu keadaan. Biasanya seorang anak-anak merespons sesuatu yang tidak disukainya dengan menangis, marah, bersungut-sungut; jika yang terjadi itu menyukakan hatinya dia akan berjingkrakjingkrak.  Seorang anak-anak juga mempunyai sifat memaksakan kehendak atau keinginannya. Sedangkan seseorang yang sudah dewasa merespons sesuatu apakah itu suka atau duka dengan sikap yang tenang, penuh perhitungan dan dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Seseorang yang sudah dewasa tidak gampang tersinggung atau sakit hati, dia selalu akomodatif, sedapat-dapatnya seorang yang sudah dewasa selalu menghindari terjadinya komplik dan perselisihan.

Dalam nas ini rasul Paulus mengatakan: manusia itu ada yang disebut sebagai manusia duniawi yang hidup secara duniawi yaitu seseorang yang dalam hidupnya masih menyimpan iri hati dan perselisihan, tidak suka akan hidup yang damai dan rukun. Orang yang demikian dapat kita kategorikan sebagai anak-anak di dalam rohani, tidak bertumbuh, dan tidak mencapai tahap kedewasaan di dalam Kristus (1 Kor.3:1). 

Tentu kita tidak mau disebut sebagai manusia duniawi dan seseorang yang masih anak-anak yang tidak mencapai kedewasaan iman di dalam Kristus. Oleh sebab itu hiduplah sebagai manusia dewasa, tidak ada iri hati dan tidak suka akan segala bentuk perselisihan; sebaliknya berusaha menciptakan perdamaian dan kerukunan. Mari kita melihat disekeliling kita, ditengah-tengah keluarga, gereja dan masyarakat. Jika terjadi iri hati dan perselisihan hal itu disebabkan orang-orang yang ada di dalamnya masih anak-anak dimana hidupnya lebih banyak dipengaruhi hal-hal yang duniawi. Tetapi jika tercipta damai dan kerukunan, saling mengasihi hal  itu menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di dalam sudah dewasa yang hidupnya dipengaruhi hal-hal yang rohani.

Mau disebut anak-anak (manusia duniawi) atau manusia dewasa (manusia rohani)? Pohon dapat diceritakan melalui buah yang dihasilkannya, demikianlah juga manusia itu hanya dapat diceritakan apakah dia sudah dewasa atau masih anak-anak melalui kelakuannya di dalam perbuatan dan perkataan serta bagaimana dia menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Oleh sebab itu, nas ini mengingatkan kita supaya menjauhkan  iri hati dan perselisihan sebaliknya marilah kita hidup dengan rukun dan damai dengan sesama kita.

 

Doa:       Bapa di dalam sorga, bentuklah kami menjadi orang-orang yang sudah dewasa di dalam rohani sehingga kami menjadi alat di tangan Tuhan menciptakan kedamaian dan kerukunan. Amin.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: