jump to navigation

Kasih Sebagai Tanda Hidup Baru Oktober 15, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Epistel.
trackback

Khotbah Epistel, Minggu XXII Setelah Trinitatis, 19 Oktober 2008

 

KASIH SEBAGAI TANDA HIDUP BARU

 

Nas:  1 Yohanes 3 : 11 – 15

 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus;

Penulis Surat 1 Yohanes ini adalah Yohanes salah seorang dari duabelas murid Tuhan Yesus, dan salah seorang murid yang paling dekat dengan Yesus. Surat ini disebut surat edaran karena alamat suratnya tidak jelas, hanya surat ni dialamatkan kepada jemaat-jemaat yang mempunyai persoalan yang sama yaitu munculnya pengajar-pengajar sesat. Pengajar-pengajar sesat ini dari segi dogtrin mereka menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (1 Yoh. 2:22 ; bnd. 1 Yoh. 5:1), menyangkal bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia (1 Yoh. 4:2-3). Sedang dari segi etika, ajaran sesat ini mengajarkan bahwa hidup yang menaati Kristus (1 Yoh. 2:3-4 ; 1 Yoh. 5:3), hidup kudus, (1 Yoh. 3:7-12), hidup yang terpisah dari dosa dan dari dunia (1 Yoh. 2:15-17) tidak diperlukan untuk iman yang menyelamatkan (bnd. 1 Yoh. 1:6 ; 1 Yoh. 5:4-5). Tujuan Yohanes menulis surat ini ada dua: 1) menyangkal doktrin dan etika yang salah dari guru palsu, dan 2) untuk menasihati anak-anak rohaninya (jemaat) agar mengejar kehidupan persekutuan dengan Allah di dalam kebenaran (1 Yoh. 4:1) dan di dalam kepastian akan hidup kekal (1 Yoh. 5:13) melalui iman yang taat kepada Yesus sebagai Anak Allah (1 Yoh. 4:15 ; 1 Yoh. 5:3-5, 12), dan dengan kehadiran Roh Kudus (1 Yoh. 2:20 ; 1 Yoh. 4:4+13). Salah satu pengajaran Yohanes untuk menyangkal ajaran sesat yang mengatakan bahwa menaati Kristus tidak diperlukan untuk iman yang menyelamatkan adalah melalui nas 1 Yohanes 3: 11 – 15 ini. Yohanes mengingatkan jemaat untuk mengamalkan imannya melalui Hidup Saling Mengasihi.

 

Saudara-saduara

“Firman mengajarkan untuk Hidup saling mengasihi”. Sebelum nas ini Yohanes telah menjelaskan mengenai apa yang menjadi tanda anak-anak Allah, yaitu hidup dalam kebenaran, siapa yang tidak hidup di dalam kebenaran dia tidak berasal dari Allah (ay.10). Kalau ingin menceritakan tentang sebatang pohon, caranya adalah dengan menunjukkan buahnya, dan tidak ada cara lain untuk menceritakan    seseorang     selain    dari menunjuk kepada tingkah lakunya. Hanya dengan mengasihi sesama kita menunjukkan bahwa kita berasal dari Allah dan  telah hidup baru. Hidup saling mengasihi adalah kewajiban dimana kita tidak mempunyai keragu-raguan sedikitpun untuk  melakukannya. Perintah untuk mengasihi begitu sentral dalam kehidupan pengikut Kristus, sejak seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka sejak itu juga ia menempatkan kasih sebagai dorongan utama dalam kehidupannya dan kita tidak  perlu heran kalau dunia membenci orang-orang yang menjadikan kasih sebagai dorongan utama dalam hidupnya (bnd. Yohanes  15:18-19). Yohanes menyebutkan Kain yang membunuh adiknya menjadi contoh yang berasal dari si jahat. Kenapa Kain membunuh? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Artinya Kain menempatkan yang jahat menjadi dorongan utama dalam hidupnya sedang adiknya menempatkan kebenaran yaitu hidup mengasihi menjadi dorongan utama dalam hidupnya.

 

Saudara-saudara,

“Siapa tidak hidup di dalam kasih, ia tetap di dalam maut”. Orang-orang percaya adalah orang-orang yang dipanggil dari kegelapan (maut) kepada terang (kehidupan). Mengasihi sesama adalah bukti bahwa  seseorang telah melewati kematian dan masuk ke dalam kehidupan. A.E. Brooke mengatakan: “Kehidupan adalah suatu kesempatan untuk belajar bagaimana mengasihi”. “Kehidupan tanpa kasih adalah kematian (maut)”. Siapa yang tidak hidup di dalam kasih berarti menjadi seorang pembunuh. Ketika kebencian berkuasa dalam hati manusia maka hal tersebut berpotensi kepada pembunuhan, dan tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Mengijinkan kebencian menduduki hati adalah sama dengan memutuskan hubungan dengan perintah Yesus untuk hidup saling mengasihi. Jadi setiap orang yang hidup di dalam kasih adalah pengikut Yesus dan dia berada di dalam hidup, sedang seseorang yang membenci yang tidak hidup di dalam kasih bukanlah pengikut Yesus dan dia tetap di dalam maut.              

 

Saduara-saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus:

Apa yang hendak kita pelajari dan renungkan dari pemberitaan firman ini:

1.   Kita  adalah anak-anak Allah yang telah dibaharui di dalam roh dan pikiran dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efs.4:23-24), hendaknya kita menunjukkan tanda bahwa kita telah hidup baru melalui hidup di dalam kasih karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh.4:19). 

2.   Melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib Dia telah menunjukkan arti kasih secara penuh dan sempurna. Sebagai orang-orang percaya, kehidupan kita adalah kehidupan yang meniru Kristus (bnd. Flp.2:5 ; 1 Ptrs.2:21). Kalau kita sudah memandang kepada Yesus Kristus, memeteraikan di dalam hati kita penderitaan dan kematianNya di kayu salib, tidak akan mungkin timbul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan kehidupan Kristen. Sebab jawabannya sudah jelas yaitu panggilan untuk hidup di dalam kasih.

3.   Di tengah-tengah kehidupan yang semakin sulit yang mendorong seseorang itu bertindak lebih banyak didominasi keinginan dan kebutuhan diri sendiri; dorongan kasih semakin menurun. Dalam situasi yang demikian, kita terpanggil untuk menyuarakan dan menyegarkan kembali perintah firman Tuhan untuk hidup saling mengasihi.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: