jump to navigation

Mengenal Kasih Allah Desember 24, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
2 comments

Renungan Harian, Rabu, 24 Desember 2008

 

Mengenal Kasih Allah

 

1 Yohanes 4 : 16a

 

“Kita telah mengenal dan telah percaya kasih Allah kepada kita”

           

            Tak kenal maka tak sayang demikianlah bunyi sebuah peribahasa yang mengajarkan kepada kita betapa pentingnya hidup yang saling mengenal di antara sesama sehingga dengan saling mengenal maka kasih sayang akan bertumbuh terhadap sesama. Namun, dalam hubungan manusia dengan Tuhan tidaklah persis sama dengan peribahasa tersebut. Tuhan sendirilah yang berinisiatif untuk memperkenalkan diriNya kepada manusia dan berdosa sebab Dia sungguh-sungguh mengenal kita. Dia memperkenalkan Diri-Nya bukan ketika kita berusaha untuk mengenalNya tetapi di saat kita masih hidup di dalam dosa dan jauh dari kehendak Allah.

            Di dalam Yesus Kristus, Tuhan sudah memperkenalkan DiriNya, memperkenalkan kasihNya yang menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa dan kematian. Yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah: apakah kita telah mengenal dan percaya kasih Allah kepada kita? Kalau belum, inilah saatnya kita mengenal dan menyadarinya. Kita harus mengenal kasih Allah yang menyelamatkan sebab dengan demikian kita akan didorong untuk hidup bersyukur dan memuliakan nama-Nya di dalam kehidupan kita. Seseorang yang telah mengenal dan percaya kasih Allah, dia tidak akan hidup lagi di dalam dosa sebab dosa telah dikalahkan oleh Yesus Kristus. Seseorang yang telah mengenal dan percaya kasih Allah akan hidup di dalam kasih terhadap sesamanya,  mengasihi sebab Allah telah terlebih dahulu mengasihinya.

            Jadi, sangatlah penting untuk mengenal dan percaya akan kasih Allah di dalam kehidupan kita sehingga hidup kita di dunia ini menjadi respon yang positip terhadap kasih Allah. Rasul Paulus dalam Efesus 3: 18-19 mengatakan: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”.

        

Doa :   Ya Tuhan, terimakasih karena Engkau telah memperkenalkan kasihMu kepada kami melalui AnakMu Yesus Kristus. Dengan Roh Kudus tuntun kami untuk mengenal dan percaya akan kasihMu sehingga kami di dalam dunia ini hidup untuk mengasihi sesama kami. Amin.  

Iklan

Hanya Karena Kasih Desember 23, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
1 comment so far

Renungan Harian, Selasa, 23 Desember 2008

 

Hanya Karena Kasih

 

Yohanes 3 : 16

 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan

Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya

tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”

 

            Semua perbuatan dan karya Tuhan kepada dunia dan kepada manusia berdosa adalah  karena kasih. Hanya karena kasih sajalah sehingga Tuhan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal. Kalau dari dunia ini, dari diri manusia itu sendiri sebenarnya hukuman dan murka Tuhan yang pantas diterimanya karena dunia ini penuh dengan dosa dan manusia selalu memberontak kepada Tuhan, kebinasaan adalah akhir dari dunia dan manusia. Pe-mazmur dalam Mazmur 8: 4 – 5 mengatakan: “Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan; apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusiasi, sehingga Engkau mengindahkannya?”.  Tetapi kasih yang dimiliki Tuhan mengalahkan murkaNya, hatiNya tergerak oleh belas kasihan akan ciptaanNya sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal.

            Semuanya karena kasih, tetapi kasih Tuhan harus direspon dengan percaya. Percaya artinya menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat, memberi diri untuk diselamatkan. Bertobat dengan meninggalkan hidup yang lama dan masuk ke dalam hidup baru di dalam Yesus Kristus untuk menerima kehidupan yang kekal. Semuanya  karena kasih, hanya karena kasih Allah. Apakah yang dapat kita megahkan dari diri kita? Tidak ada. Yang harus kita lakukan adalah bersyukur kepadaNya dengan memaknai hidup kita di dunia ini di dalam perbuatan-perbuatan yang baik.  

              

           

Doa:       Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau telah mengaruniakan AnakMu yang tunggal, Yesus Kristus supaya kami tidak binasa oleh karena dosa tetapi kami beroleh kehidupan yang kekal oleh karena kasihMu. Jadikanlah kami menjadi anak-anakMu yang setia dan yang suka melakukan yang sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Ketahuilah Segala Dosamu Telah Dihapus-Nya Desember 22, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
1 comment so far

Renungan Harian, Senin, 22 Desember 2008

 

Ketahuilah Segala Dosamu Telah Dihapus-Nya

 

1 Yohanes 3 : 5

 

“Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diriNya, supaya Ia menghapus segala dosa,

dan di dalam Dia tidak ada dosa”

 

                Setiap yang dilakukan dan diperbuat pasti mempunyai tujuan tertentu, baik itu tujuan yang baik atau tidak baik. Sangat jarang orang melakukan sesuatu itu tanpa tujuan tertentu; orang yang demikian kemungkinan mempunyai penyakit sebab dia melakukan sesuatu yang dia tidak tahu apa tujuannya. Dalam nas ini dituliskan supaya kita mengetahui bahwa Yesus Kristus menyatakan diri-Nya dengan datang ke tengah-tengah dunia ini meninggalkan kemuliaanNya dan mengambil rupa seorang hamba. Tentu kedatanganNya ke dunia ini mempunyai tujuan yaitu untuk menghapus segala dosa umat manusia. Walaupun Dia menjadi manusia di dalam Dia tidak ada dosa.

               Segala dosa umat manusia telah dihapus dengan kelahiran, kematian dan kebangkitanNya. Dosa adalah sikap yang menaati diri sendiri dan tidak menaati Tuhan; dosa meniadakan karya Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan kita. KJ.No. 36 “Dihapuskan dosaku hanya oleh darah Yesus; aku pulih dan sembuh hanya oleh darah Yesus. O, darah Tuhanku, sumber pembasuhku. Sucilah hidupku, hanya oleh darah Yesus”. Oleh sebab itu, seseorang yang dosanya sudah dihapus-Nya tetapi kembali hidup di dalam dosa, itu artinya seseorang itu  membawa kembali ke dalam hidupnya apa yang telah dihapus oleh Yesus Kristus dengan kedatanganNya ke dunia ini.

               Apa yang telah dilakukan Tuhan untuk menghapus segala dosa sangat penting untuk kita ketahui sehingga kita juga tahu apa yang menjadi tujuan Yesus Kristus menghapus segala dosa kita. Tujuannya adalah hidup kita menjadi milik dan kepunyaan Tuhan yang dipanggil untuk melakukan kehendak-Nya  di tengah-tengah dunia ini. Hidup yang kita hidupi saat ini adalah hidup di dalam Dia dan di dalam Dia tidak ada dosa dan dosa tidak berkuasa dalam hidup orang-orang yang hidup di dalam Dia. Dengan mengetahui bahwa segala dosa kita telah dihapus-Nya kita juga mempunyai keberanian datang kepada hadiratNya menyampaikan segala doa dan permohonan kita dan ucapan syukur.

                

 

Doa:       Bapa kami di dalam sorga. Kami mengucap syukur karena Engkau telah menyatakan Diri di dalam AnakMu Tuhan Yesus Kristus sehingga segala dosa kami dihapusNya. Jadikanlah kami menjadi milik dan kepunyaanNya yang senantiasa melakukan yang sesuai dengan kehendakMu. Amin.   

Jangan Ada allah Lain Dihadapanmu Desember 17, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Rabu, 17 Desember 2008

 

Jangan Ada allah Lain Dihadapanmu

 

Hosea 13 : 4

 

“Tetapi Aku adalah Tuhan, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku”

 

            Hosea adalah satu-satunya nabi yang berasal dari Israel Utara, arti namanya adalah: “Tuhan menyelamatkan”. Riwayat hidup yang dijalani Hosea mewarnai tugasnya sebagai seorang nabi. Atas perintah Tuhan, Hosea mengawini seorang perempuan sudal, bernama Gomer (Hos.1:2-3). Dari hubungannya dengan Gomer dilahirkan tiga anak dengan nama simbolis, yaitu: Yizreel, Lo Ruhama (Hos.1:6 ‘yang tidak disayang’), dan Lo Ami ( Hos.1:9 ‘bukan umatKu’). Semua yang dilakukan Hosea tersebut untuk menggambarkan bahwa Israel telah meninggalkan Tuhan dan bersandar kepada Baal. Tindakan itu disebut Hosea persundalan dan perzinahan yang mendatangkan murka dan hukuman Tuhan.

            Dalam nas ini Hosea menyampaikan perkataan yang berasal dari Tuhan mengenai hubungan Tuhan dengan umat Israel. Tuhan adalah Allah mereka sejak dari Mesir, mereka tidak mengenal Allah lain kecuali Tuhan. Dengan perkataan ini Tuhan mengingatkan umat-Nya bahwa Dia-lah yang membawa mereka keluar dari perhambaan di Mesir. Hanya Tuhan-lah juruselamat tidak ada allah lain yang dapat menyelamatkan mereka. Tuhan-lah yang mengutus Musa untuk memimpin umat-Nya serta melakukan tulah di Mesir. Tuhan jugalah yang menyelamatkan mereka di laut Tiberau serta yang memelihara mereka selama perjalanan di padang gurun. Dengan firman ini, umat Israel hendak diingatkan untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan allah lain yaitu Baal yang mereka sembah. Umat diingatkan untuk meninggalkan persundalan dan perzinahan rohani yang akan mendatangkan murka Allah sehingga Tuhan akan menyelamatkan mereka dari penghukuman yang akan ditimpakanNya kepada umat Israel (Hosea 11:8).

            Tuhan adalah Allah kita dari dulu hingga saat ini, tidak ada allah lain. Dia tidak pernah berubah. Dia-lah Tuhan yang menjadi manusia datang ke dunia ini di dalam diri Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan kematian. Kalau saat ini kita mencoba mencari atau beralih ke allah lain, kita membuat harta, jabatan, kekuasaan dll menjadi allah bagi hidup kita. Inilah saatnya kita bertobat dan berbalik kepada Tuhan, Juruselamat kita. Jangan ada allah lain dalam hidup kita selain dari Tuhan yang kita kenal dan sembah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.         

        

Doa :   Ya Tuhan, berilah kami kekuatan sehingga kami dapat mengalahkan keinginan-keinginan yang mendorong kami percaya  kepada allah lain. Berilah kami iman yang teguh untuk tetap percaya bahwa Engkau-lah Tuhan dan Juruselamat kami.  Amin.

Berjalan Demi Nama Tuhan Desember 16, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Selasa, 16 Desember 2008

 

Berjalan Demi Nama Tuhan

 

Mikha 4 : 5

 

“Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya,

tetapi kita akan berjalan demi nama Tuhan Allah kita untuk selamanya dan seterusnya”

 

           

            Seorang diri melakukan perjalanan bagia kebanyakan orang merupakan hal yang sangat membosankan, tidak ada teman berbicara atau bercerita dan perjalanan yang ditempuh bisa terasa jauh dan lama. Sebaliknya perjalanan yang dilakukan secara bersama-sama atau ada teman (dua orang atau lebih), ada teman bicara atau bercanda, maka perjalanan akan terasa cepat tiba di tempat yang dituju.

            Dalam dunia ini, kita sedang melakukan perjalanan menyongsong kedatangan Tuhan yang keduakalinya ke dunia ini, menyongsong kerajaan Allah tiba di bumi dalam segala kepenuhannya. Bagaimanakah kita harus hidup dalam perjalanan menyongsong kedatangan Tuhan keduakalinya? Kita harus hidup bagi Allah, berjalan bersama dengan Dia dan di jalan yang ditunjukkan-Nya. Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, kita hendaknya berjalan demi nama Tuhan Allah kita. Apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan tersebut kita harus setia kepada Tuhan, kita tidak kalah dengan pergumulan-pergumulan di dunia ini sehingga kita mencari yang lain menjadi teman seperjalanan. Keadaan dan situasi seperti apa pun yang menghadang di depan kita, perjalanan tetap harus kita lanjutkan bersama-sama dengan Tuhan dan melakukan segala sesuatu demi nama-Nya seterusnya dan selamanya. Hidup kita menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa dan  bagi orang-orang disekeliling kita (bnd. 2 Petrus 3:11-12).

            Berjalanlah demi nama Tuhan, lakukan segala sesuatu demi nama Tuhan, sebab dengan berjalan dan melakukan segala sesuatu demi nama Tuhan. Maka perjalanan hidup yang kita lakukan tidak akan pernah membosankan sebaliknya perjalanan kita akan indan dan akan sampai ke  garis akhir biar pun kita harus menghadapi tantangan dan hambatan. Selamat berjalan demi dan bersama dengan Tuhan.   

    

Doa:       Bapa kami di dalam sorga. Tuntunlah kami dalam perjalanan kami di dunia ini. Ajarlah kami untuk senantiasa berjalan dan melakukan segala sesuatu demi nama-Mu. Berilah iman percaya kepada kami bahwa biarpun kami menghadapi tantangan dan hambatan di dunia ini kami tidak goyah karena kami berjalan bersama-sama dengan Engkau. Amin.

Persembahan Buah Dari Kasih Setia Dan Pengenalan Akan Allah Desember 15, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Senin, 15 Desember 2008

 

Persembahan Buah Dari Kasih Setia dan Pengenalan Akan Allah

 

Hosea 6 : 6

 

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan,

dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran”

 

               Hosea nabi yang melayani di tengah-tengah umat Israel  disaat ketidakadilan, penyembahan berhala, dan kejahatan merajalela. Untuk menunjukkan dosa umatNya, Tuhan memerintahkan Hosea mengawini seorang wanita sundal (Hosea 1:2). Namun demikian Tuhan juga menunjukkan bahwa Dia tetap mengasihi umatNya, hal tersebut ditunjukkan dengan memerintahkan Hosea menerima kembali isterinya yang sudah bersundal dan berzinah (Hosea 3:1). Hosea menegor kasih setia umat yang hanya pura-pura, mereka rajin membawa korban sembelihan dan korban-korban bakaran ke Bait Suci tetapi mereka juga melakukan ketidakadilan dan menyembah Baal. Korban sembelihan dan korban bakaran yang demikian tidak disukai oleh Tuhan. Yang sungguh-sungguh diminta Tuhan dari umatNya adalah: 1) kasih setia yaitu kasih yang kokok, kasih yang setia sebagai tanggapan terhadap kasih Tuhan; 2) Tuhan juga mengharapkan pengenalan akan diri-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan mereka yaitu yang berkuasa di dalam kehidupan umatNya.

               Dalam kehidupan kita saat ini korban sembelihan dan korban bakaran adalah persembahan yang merupakan tanggapan kita (syukur kita) atas berkat yang telah kita terima dari Tuhan. Kita harus hati-hati memahami nas ini bahwa Allah tidaklah mau melarang kita memberikan persembaha. Sebaliknya kita didorong untuk memberikan persembahan kita kepada Tuhan dengan dasar kasih setia dan pengenalan kita akan Allah. Kita mengasihi Tuhan dengan kasih setia walaupun dalam hidup ini kita harus menghadapi berbagai macam pergumulan. Kesetiaan itu muncul dari pengenalan kita akan Allah yang berkuasa atas kehidupan kita.

               Apakah yang disukai Tuhan dari kehidupan kita? Kasih setia dan pengenalan akan Dia. Apabila kita telah hidup di dalamnya maka persembahan yang kita persembahkan kepada-Nya pastilah juga akan menyukakan hati Tuhan.

              

                

Doa:    Bapa kami di dalam sorga. Kami memohon kiranya Roh Kudus dicurahkan dalam kehidupan kami sehingga kami hidup di dalam kasih setia dan kami mengenal Engkau adalah yang berkuasa di dalam kehidupan kami. Kiranya kami memberikan persembahan di atas dasar kasih setia kepadaMu dan pengenalan akan Engkau. Amin.  

Tuhan Yesus Batu Penjuru Desember 13, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Sabtu, 13 Desember  2008

 

Tuhan Yesus Batu Penjuru

 

Yesaya 28 : 16

 

“Sebab itu beginilah firman Tuhan Allah: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah”

 

Dasar atau fondasi salah satu bagian yang sangat menentukan dalam ketahanan sebuah bangunan yang didirikan di atasnya. Jika kwalitas fondasi hanya untuk dua tingkat bangunan jangan dicoba-coba membangun menjadi tiga tingkat sebab akan roboh diterpa oleh angin, badai dan gempa. Dalam nas ini Yesaya menubuatkan bahwa Tuhan sendiri akan meletakan fondasi yang teguh di Sion dengan menggunakan batu teruji dan berharga. Fondasi tersebut ditanam dalam-dalam di bawah tanah, sehingga benar-benar kokoh dan tidak tergoyahkan oleh angin ribut atau air banjir yang melanda. Hal ini menunjukkan kasih setia Tuhan yang telah dibuktikan sepanjang masa. Batu penjuru ini sangat vital dan penting sehingga kemudian istilah batu penjuru ini dipakai untuk menggambarkan peranan Tuhan Yesus  dalam sejarah keselamatan manusia. Jika umat Israel sungguh percaya, maka umatNya akan bebas dari “gelisah” dalam menghadapi serangan bangsa-bangsa lain.

Dalam kehidupan kita saat ini banyak hal yang dapat membuat hidup kita dihantui kegelisahan. Krisis ekonomi, keadaan yang tidak tentram, intimidasi kelompok tertentu kepada kelompok yang lain, semua hal tersebut dapat membuat seseorang itu jatuh ke dalam kegelisahan. Gelisah tentang hari esok, mengenai masa depan, gelisan dan khawatir tentang apa yang akan diminum dan akan dimakan. Keadaan yang dibelenggu kegelisahan dapat mengakibatkan hidup tidak bergairah, tidak ada semangat dan pada akhirnya bisa mengakibatkan penyakit jasmani dan rohani. Karena itu gelisah harus dihindari dari kehidupan kita kalau kita mau menang sampai akhirnya dalam pergumulan kita di dunia ini.

            Apa yang harus kita miliki supaya tidak jatuh ke dalam kegelisahan? Dasar yang teguh, kuat, teruji dan berharga dan hal itu hanya kita temukan jika kita percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus sebab Dia-lah batu yang teruji, batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh yang dinubuatkan Yesaya dalam nas ini. Rasul Paulus mengatakan: “karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus”  (1 Kor.3:11). Percayalah kepada Yesus dan jadikanlah Dia menjadi dasar hidup maka kita tidak akan gelisah sebaliknya tetap semangat dan berpengharapan bahkan di situasi yang sulit sekalipun.

 

Doa:       T’rima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengutus AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, menjadi batu penjuru yang mahal dalam kehidupan kami sehingga kami kuat dan kokoh menghadapi pergumulan-pergumulan  di dunia ini. Amin.

Masa Depan Yang Baru Desember 12, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Jumat, 12 Desember  2008

 

Masa Depan Yang Baru

 

Yesaya 11 : 1 – 2

 

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dan pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan”

 

Firman Tuhan seperti pedang bermata dua, pada satu sisi bisa merupakan ancaman dan di sisi lain memberi penghiburan. Sisi ancaman kebinasaan karena pemberontakan telah diberitakan Yesaya pada psl. 10: 33-34; dalam nas ini disampaikan berita penghiburan yaitu kehidupan yang baru yang ajaib dan masa depan yang baru. Disebut kehidupan yang baru dan masa depan yang baru karena secara luar biasa Tuhan menumbuhkan suatu tunas dari tunggul Isai yaitu dari kerajaan Yehuda yang tidak luput dari hukuman Tuhan sehingga kehilangan kemuliaannya. Digambarkan bahwa pohonya telah ditebang yang tinggal hanya tunggul-tunggulnya saja. Dari tunggul yang sebenarnya tidak diharapkan lagi untuk bertunas tetapi Tuhan mengeluarkan tunas baru dari akarnya suatu tunas yang kuat dan subur sehingga akan tumbuh menjadi taruk yang berbuah. Tunas yang keluar dari tunggul Isai ini merupakan nubuatan mengenai Mesias yang akan datang untuk membawa kehidupan baru dan masa depan yang baru bagi umatNya Israel dan bagi umat manusia. Dalam diri Sang Mesias Roh Tuhan akan bekerja sepenuhnya yaitu roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan.

Berita dalam nas ini juga menjadi berita penghiburan bagi kita saat ini. Di saat kehidupan yang semakin sulit karena krisis ekonomi, terjadi pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan, kita bertanya: apakah masih ada kehidupan yang baru dan masa depan yang baru yang lebih baik? Tuhan Yesus Kristus yang  adalah tunas yang keluar dari tunggul Isai telah datang ke tengah-tengah dunia ini membawa kehidupan baru dan masa depan yang baru bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Percaya kepada Yesus Kristus dan hidup di dalam Dia, segala pergumulan akan dapat kita lalui, keputusasaan tidak akan menghantui kehidupan kita sebaliknya kita tetap berpengharapan di dalam Dia ada masa depan yang penuh harapan dalam hidup saat ini terlebih dalam kehidupan yang akan datang.

 

Doa:    Ya Tuhan, kami mengucapkan terima kasih karena Engkau melalui AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, menyediakan bagi kami kehidupan yang baru dan masa depan yang baru. Berikan kepada kami iman dan pengharapan yang teguh dan kokoh, bahwa Tuhan dapat melakukan melebihi dari apa yang kami doakan dan pikirkan. Amin.

Bertobat Dan Berbuah Desember 11, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Khotbah Minggu.
add a comment

Khotbah Minggu, Adven III, 14 Desember 2008

Nas: Lukas 3: 7 – 14

 

BERTOBAT DAN BERBUAH

 

 

1.   Minggu-minggu adven (minggu 14 Des adalah adven III) adalah minggu-minggu bagi orang-orang percaya menurut kelender gereja sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Di satu sisi minggu-minggu adven dipergunakan sebagai persiapan untuk perayaan Natal peringatan hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu di Betlehem. Persiapan-persiapan perayaan Natal dengan membentuk kepanitiaan adalah penting, tetapi yang lebih penting adalah minggu-minggu adven menjadi waktu dan persiapan bagi orang-orang percaya menantikan Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang keduakalinya (meskipun setiap hari dan disetiap waktu kita harus selalu siap dan mempersiapkan diri).  

2.  Kalau kita membaca nas Lukas 3: 7 – 14 ini kita menemukan tiga hal yang menjadi cara kita mempersiapkan diri dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Keduakalinya sekaligus juga sebagai bukti nyata akan sukacita kita merayakan peringatan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dunia ini 2000 tahun yang lalu (artinya sukacita kita tidak hanya dalam acara ritual-ritual saja yang menghabiskan tidak sedikit dana, daya dan pikiran).

 

a. Hidup dalam pertobatan (ay.7-9)

Orang Yahudi sangat membanggakan status mereka sebagai keturuan Abraham dan umat pilihan Allah. Mereka tidak ragu sedikit pun bahwa merekalah bangsa yang dikasihi Allah. Menurut mereka Allah hanya akan menghakimi bangsa-bangsa lain sedangkan mereka akan diselamatkan atau tidak akan dihakimi karena mereka orang Yahudi, karena mereka keturunan Abraham (umat pilihan Allah). Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa hak istimewa yang di dasarkan atas ras sama sekali tidak berarti apa-apa dihadapan Allah (ay.8); penghakiman Allah berlaku baik untuk orang Yahudi maupun non-Yahudi. Selamat dari penghakiman Allah adalah dengan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya (bnd. Yoh.14:6); dalam hidup di dunia ini membuahkan buah pertobatan (bnd. Yak.2:17) sebab setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya dimana kapak sudah tersedia setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (bnd. Wahyu 14:13).

  

b.  Hidup harus saling menolong (ay.10-11)

     Orang banyak bertanya: “apakah yang harus kami perbuat”? Pertanyaan ini muncul setelah Yohanes Pembaptis menegaskan hak istimewa sebagai keturuan Abraham sama sekali tidak berarti apa-apa dihadapan Allah. Yang harus mereka lakukan adalah mereka menunjukkan cara hidup yang berkenan dihadapan Tuhan, cara hidup yang dikehendaki Tuhan yaitu mengasihi sesama manusia. Injil sosial yang diamanatkan Yohanes Pembaptis disini yaitu bahwa Allah tidak akan membebaskan seseorang yang mempunyai terlampau banyak sementara yang lainnya hampir tidak mempunyai apa-apa. Dalam hal ini dituntut hidup di dalam berkeadialan melalui hidup yang mau berbagi dengan sesama.

 

c.  Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik (ay.12-14)

     Dalam menantikan kedatangan Tuhan yang keduakalinya kita tidak diperintahkan untuk meninggalkan pekerjaan atau kesibukan yang sudah kita lakukan selama ini seperti yang dilakukan kelompok tertentu (kelompok Sdr. Manampin Sibuea di Bandung). Sebaliknya kita diperintahkan untuk tetap mengerjakan pekerjaan kita dengan baik. Seorang pemungut cukai jadilah pemungut cukai yang baik (jangan korupsi); seorang serdadu jadilah serdadu yang baik (jangan merampas); seorang parhalado jadilah parhalado yang baik (sahat ula tohonanmi) dst, bersukacita dengan apa yang kita dapatkan dari bekerja dengan baik. Tugas dan kewajiban manusia adalah melayani Allah melalui pekerjaan dimana Allah telah menempatkan kita. 

 

3.  Renungan

     a.   Bagaimana Yesus menjumpai kita apabila Dia datang keduakalinya? Bila kita belum siap, inilah saatnya mempersiapkan diri. Kita perlu mengambil keputusan untuk bertobat artinya berubah di dalam hati dan pikiran; dari seseorang yang tidak percaya menjadi percaya, dari seseorang yang  melakukan hal yang jahat menjadi seseorang yang melakukan perbuatan yang baik.

     b.   Pertobatan akan menjadi pertobatan yang berkenan dihadapan Tuhan jika pertobatan itu menghasilkan buah yang baik yaitu dengan hidup saling menolong dan melakukan pekerjaan kita dengan baik.

Seorang Anak Telah Lahir Untuk Kita Desember 11, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Harian, Kamis, 11 Desember 2008

 

Seorang Anak Telah Lahir Untuk Kita

 

Yesaya 9 : 5

 

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”

 

Nas ini menubuatkan kelahiran Mesias, Yesus Kristus. Yesaya mencatat empat nama bagi Sang Putera yang akan menandai tugasNya sebagai Mesias yaiitu: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal dan Raja Damai. Sebagai Penasihat Ajaib Dia adalah hikmat sempurna yang memiliki kata-kata kekal; Allah yang Perkasa menunjukkan di dalam Dia kepenuhan ke-Allahan akan berdiam secara jasmaniah; Bapa yang Kekal menunjukkan Dia datang bukan hanya memperkenalkan Bapa sorgawi tetapi Dia sendiri bertindak terhadap umatNya secara kekal bagaikan seorang bapa yang penuh belas kasihan melindungi dan menyediakan  kebutuhan anak-anakNya, dan sebagai Raja Damai pemerintahan yang akan didirikanNya mendamaikan Allah dengan manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian, mendamaikan manusia dengan dirinya, sesama dan alam sekitarnya.

 Dia lahir untuk kita. Dia datang untuk kita. Apakah kita telah menerima-Nya dan membuka pintu hati kita untuk Dia? Menerima Anak Yang Telah Lahir yaitu Mesias itu artinya kita membuka diri untuk mengalami penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita di dunia ini. Dia menjadi penasihat ajaib bagi kita yang memberikan nasihat dan jalan keluar bagi kita di setiap pergumulan yang alami. Dengan keperkasaan-Nya kita akan dijaga dan dilindungi, sebagai Bapa, Dia menyediakan kebutuhan kita anak-anakNya. KehadiranNya ditengah-tengah kita mendatangkan dan menciptakan kedamaian.

Di Minggu-minggu adven ini kita diingatkan supaya lebih sungguh-sungguh mempersiapkan hati kita menjadi palungan bagi Mesias, menjadi tempat dimana Dia berdiam dan berkuasa di dalam kehidupan kita. Kita jangan terlena hanya untuk persiapan-persiapan yang sifatnya ritual-ritual.

 

 

Doa:    Terpujilah Engkau, ya Allah Bapa kami, karena Engkau telah mengutus AnakMu  lahir ke tengah-tengah dunia  ini supaya kami selamat dan hidup di dalam damai sejahtera. Amin.