jump to navigation

Menyanyikan Kebesaran Tuhan Februari 27, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
2 comments

Renungan Malam Jumat 27 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Menyanyikan Kebesaran Tuhan  

 ( Ulangan 32: 1 – 4 )

 

 “Pasanglah telingamu, hai langit, aku mau berbicara, dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulutku.” (ay.1)

 

            Nas ini adalah sebahagian dari nyanyian yang diperdengarkan oleh Musa ditengah-tengah persekutuan umat Israel. Musa memperdengarkan nyanyian yang sekaligus juga pengajaran kepada umat Israel adalah atas perintah Tuhan. Yang dinyanyikan Musa adalah kebesaran Tuhan; dimana dengan nyanyian tersebut dimaksudkan untuk menanamkan kesan kepada Israel bahwa seluruh keberadaan mereka merupakan hasil dari kesetiaan dan kemurahan Allah. Tuhan sendiri menuntun dan memelihara mereka. Dengan memahami nyanyian Musa yang menyanyikan kebesaran perbuatan Tuhan diharapkan umat Israel tetap menjaga kesetiaan mereka kepada Tuhan.

            Secara alegoris Musa mengajak supaya langit dan bumi mendengarkan suara nyanyiannya; yang sebenarnya dia ajak untuk memasang telinga dan mendengarkan nyanyiannya adalah bangsa Israel yang akan memasuki tanah perjanjian. Dengan memasang telinga, Musa mengharapkan nyanyian dan pengajarannya menitik laksana hujan, menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas  tumbuh-tumbuhan. Perkataan-perkataan ini menggambarkan bahwa apa yang hendak disampaikannya adalah sesuatu yang sangat penting dan bermamfaat bagi umat kehidupan bangsa Israel ke masa depan di tanah perjanjian, tanah Kanaan; sebab yang akan dinyanyikan Musa adalah mengenai keberadaan Tuhan. Dalam nyanyiannya Musa mengajarkan bahwa Tuhan adalah gunung batu, pekerjaanNya sempurna,  segala jalan-Nya adil, Allah setia dan tiada kecuranga, Tuhan itu adil dan benar. Dengan mengetahui keberadaan Tuhan tersebut, Musa mengajak bangsa Israel untuk memberikan kemuliaan, hormat dan kekuasaan kepada Tuhan.

            Saudara-saudara, sama seperti Musa kita juga diajak untuk menyanyikan kebesaran dan rahmat Tuhan di dalam kehidupan kita. Banyak hal yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini, tetapi sampai sekarang kita masih dapat berdiri dan melanjutkan perjalanan kita sebab Tuhan gunung batu bagi kita. Tuhan setia menyertai dan memelihara kehidupan kita. Pekerjaan-pekerjaan Tuhan begitu sempurna di dalam kehidupan kita sehingga segala sesuatu dapat kita lewati dengan sukacita. Bagaimanakah hidup yang Menyanyikan kebesaran Tuhan? Dengan mempersembahkan kehidupan kita hanya untuk memuliakan Tuhan. Selamat menyanyikan kebesaran Tuhan.

             

 

Doa:    Ya Tuhan Bapa kami di dalam sorga, kami mengaku bahwa hanya karena kasih setiaMu yang menyertai dan memelihara kehidupan kami. Kuatkan kami dengan Roh Kudus untuk menyanyikan kebesaranMu di dalam kehidupan kami. Amin.

Iklan

Yang Mengandalkan Tuhan Tidak Akan Dipermalukan Februari 26, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 26 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Yang Mengandalkan Tuhan Tidak Akan Dipermalukan

( Mazmur 31: 2 – 9 )

 

“Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!” (ay.2-3)

 

Pe-mazmur sedang mengalami situasi yang genting di dalam hidupnya. Nama baik pe-mazmur dijatuhkan oleh para musuhnya, ia dicela (Mzm.31:12) oleh persekongkolan orang (Mzm.31:21), ia dikejar-kejar (Mzm.31:16), dia ditinggalkan orang (Mzm.31:12-13), menderita sakit (Mzm.31:10-11), dipermalukan, seakan-akan ia tidak lagi orang dikasihi Tuhan, bahkan dia adalah orang yang dibuang Tuhan (Mzm.31:23). Dalam situasi yang genting tersebut pe-mazmur berdoa dan meminta tolong kepada Tuhan; situasi yang genting tersebut membuat pe-mazmur memohon supaya Tuhan bersegera melepaskan dia. Pe-mazmur menyerahkan permasalahan hidup yang dihadapinya kepada Tuhan dengan harapan bahwa dia tidak akan malu oleh karena musuh-musuhnya. Pe-mazmur hanya mengandalkan Tuhan dan dengan penuh percaya dia berkata: “ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku”.  Bagi pe-mazmur sebagai penolong Tuhan itu sangat terbukti dan setia, bagi pe-mazmur Tuhan adalah gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan yang menyelamatkan, penuntun dan pembimbing.

Bagaimana dengan kita saat ini. Siapakah yang kita andalkan di dalam kehidupan kita? Pada masa-masa sulit dan genting kepada siapakah kita berlindung? Nas ini mengingatkan kita hanya Tuhanlah yang harus kita andalkan. Tuhan tidak akan membiarkan kita dipermalukan oleh dunia ini dan oleh musuh-musuh kita sebaliknya Tuhan akan meluputkan kita dengan keadilanNya. Dia tidak akan menyerahkan kita ke tangan musuh-musuh kita, tetapi Dia akan membebaskan kita dari segala kesesakan yang kita hadapi. Hidup percaya dan mengandalkan Tuhan itu artinya di dalam hidup kita tidak ada ilah-ilah lain, sebab Tuhan membenci orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi pergumulan-pergumulan di dunia ini, kita tidak perlu takut dan khawatir sebab kita mempunyai Tuhan yang telingaNya tajam mendengar teriakan kita minta tolong dan pertolonganNya tidak pernah terlambat selalu tepat pada waktunya. Selamat mengandalkan Tuhan.

 

  

Doa:    Ya Tuhan. Engkaulah tempat perlindungan dan kubu pertahanan yang menyelamatkan kami. Kami berserah dan percaya hanya kepadaMu jangan biarkan kami dipermalukan dan binasa oleh karena musuh-musuh kami. Amin.

Di Dalam Kesesakan, Berserulah Kepada Tuhan Februari 23, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 23 Pebruari  2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Di Dalam Kesesakan, Berserulah Kepada Tuhan

(2 Samuel 22: 1 – 7, 47)

 

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.”(ay.7)

 

Nas kita ini adalah sebagian dari nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. Artinya nyanyian syukur ini lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya; dimana dia diselamatkan dan dilepaskan dari mara bahaya yang mengancam hidupnya. Di ay.5-6 digambarkan seperti apa kesesakan yang dialami oleh Daud: “gelora-gelora maut mengelilinginya, banjir-banjir jahanam menimpanya, tali-tali dunia orang mati telah membelitnya, dan perangkap-perangkap maut terpasang di depannya”.  Dari gambaran tersebut kita dapat menyimpulkan betapa berbahayanya kehidupan yang sedang dihadapi pe-mazmur yaitu Daud, secara logika hampir-hampir tidak mungkin untuk selamat. Tetapi di dalam kesesakan tersebut Daud melakukan hal yang benar dengan berseru dan berteriak kepada Tuhan yang adalah gunung batu dan tempat perlindungan, perisai dan tanduk keselamatan, kota benteng tempat pelarian dan juruselamat. Tuhan mendengar seruan pe-mazmur dari baitNya dan  teriakannya minta tolong masuk ketelinga Tuhan. Itu artinya Tuhan menyelamatkan pe-mazmur dari marabahaya yang menghimpitnya dan dari kecelakaan yang akan menimpanya.

            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Ketika kita mengalami kesesakan kepada siapakah kita berseru meminta pertolongan? Siapakah yang kita jadikan sebagai gunung batu, tempat perlindungan, perisai dan kota benteng tempat pelarian ketika kita menghadapi pergumulan hidup yang menghimpit kita?  Di dalam kesesakan yang kita hadapi berserulah kepada Tuhan dan Dia akan bertindak untuk menyelamatkan kita. Firman Tuhan dalam Mazmur 50:15 mengatakan: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Berseru dan berteriak kepada Tuhan menunjukkan hidup yang berserah dan mempercayakan hidup hanya kepada Tuhan tidak kepada yang lain. Dengan nas ini kita diingatkan untuk tidak takut dan khawatir akan kesesakan-kesesakan yang kita hadapi di dunia ini. Kita mempunyai Tuhan yang setia mendengarkan seruan dan teriakan kita minta tolong.

Tuhan menyelamatkan kita dari kesesakan, apakah yang menjadi jawaban kita akan keselamatan tersebut? Sama seperti Daud kita terpanggil untuk memuji Tuhan. Di dalam puji-pujian Daud menyaksikan: “TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku (ay.47).  

 

Doa:    Ya Tuhan, dalam dunia ini kami sering menghadapi situasi yang membuat kami mengalami kesesakan; kami memohon kiranya Tuhan menyelamatkan kami. Dengan Roh Kudus ingatkan kami untuk berseru dan berteriak hanya kepadaMu dan memuji serta memuliakan namaMu sebab Engkau gunung batu, kota benteng keselamatan kami. Amin.

Tuhan Bersama Kita Februari 21, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Sabtu 21 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Bersama Kita

( Yosua 5: 13 – 15 )

 

“Jawabnya: “Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: “Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” (ay.14)

           

            Yosua mendapat penglihatan ketika dia melayangkan pandangannya, dia melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya dengan pedang terhunus ditangannya. Yosua bertanya: “kawankah engkau atau lawan”?. Laki-laki tersebut menjawab: “dia bukan lawan tetapi dia adalah Balatentara Allah”. Mendengar laki-laki tersebut memperkenalkan dirinya adalah Balatentara Allah, Yosua sujud menyembah dan berkata: “apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?”. Yosua mempersiapkan dirinya untuk mendengar apa yang akan disampaikan Tuhan kepadanya melalui Balatentaranya. Oleh Balatentara Tuhan, Yosua diperintahkan untuk membuka kasutnya sebab tanah tempat dimana dia berdiri adalah kudus. Kejadian tersebut menyadarkan Yosua akan kehadiran Allah yang tidak tampak bersama BalatentaraNya, yang siap berperang bersama dengan umatNya yang setia.

Dalam dunia saat ini, walaupun tidak mustahil terjadi, mungkin kita tidak mengalami seperti apa yang dialami oleh Yosua, dimana kita bertemu dengan Balatentara Tuhan. Namun, pengalaman Yosua ini mengajarkan kita bahwa kita tidak sendiri dalam pergumulan yang kita hadapi dalam dunia ini. Ada kuasa-kuasa rohani yang berperang demi kita; kita memiliki Roh Kudus yang senantiasa mendampingi kita sebagai penolong dan pelindung kita (Yoh.14:16-23). Kita tidak perlu khawatir akan apa pun yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini. Asal kita setia kepadaNya, kita mengimani dan percaya bahwa Tuhan bersama-sama dan dekat dengan kita untuk menyertai dan memelihara kehidupan kita; maka kita akan dapat menghadapi setiap pergumulan-pergumulan hidup di dunia ini.

Oleh sebab itu, di dalam iman percaya bahwa Tuhan bersama dengan kita konsekuensinya adalah dalam setiap kejadian yang kita hadapi hendaknyalah menumbuhkan pertanyaan di dalam diri kita: “apakah yang hendak dikatakan Tuhan di dalam hidup kita?”. Kita juga meninggalkan segala perbuatan yang tidak dikehendakiNya dan kita hidup di dalam kekudusan. Hidup di dalam kekudusan artinya mempersembahkan hidup kita menjadi milik dan kepunyaan Allah untuk Dia pergunakan melakukan kehendakNya.             

               

 

Doa:       Bapa kami di dalam sorga. Teguhkan iman percaya kami akan kehadiranMu di dalam setiap kejadian yang kami alami di dunia ini bahwa kami tidak sendirian, tetapi Engkau senantiasa bersama-sama dengan kami sehingga kami tidak khawatir, takut dan putus asa. Kuatkan kami untuk melakukan kehendakMu dalam kehidupan kami. Amin.

Percaya Dan Taat Akan Diselamatkan Februari 20, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Jumat 20 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Percaya Dan Taat Akan Diselamatkan  

 ( Keluaran 12: 21 – 23 )

 

“Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi” (ay.23)

 

            Untuk membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, Tuhan menulahi bangsi Mesir dengan sepuluh tulah. Pada saat Tuhan akan melaksanakan tulah yang ke-sepuluh yaitu kematian anak sulung baik manusia maupun binatang dari anak sulung hamba sampai anak sulung raja Firaun; Dia melalui hambaNya Musa memerintahkan bangsa Israel untuk mengambil anak domba Paskah untuk disembelih dan darahnya disapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu rumah. Pada saat Tuhan menjalani Mesir untuk menulahinya, apabila Ia melihat darah pada pintu rumah maka Tuhan akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk dalam rumah tersebut untuk menulahinya.

            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mengambil dan menyembelih kambing domba dan menyapukan darahnya di ambang atas dan pintu rumah yang diperintahkan Tuhan bukanlah sesuatu perkara yang sulit untuk dilaksanakan. Namun untuk melaksanakannya dibutuhkan kepercayaan dan ketaatan untuk melakukannya. Bangsa Israel melakukan seperti yang diperintahkan oleh Tuhan melalui Musa, dan pada saat Tuhan menjalani Mesir  pemusnah tidak memasuki rumah-rumah bangsa Israel sedangkan di dalam rumah-rumah bangsa Mesir bahkan di istana raja Firaun terjadi ratapan dan perkabungan karena kematian anak sulung.

            Bagaimana dengan kita saat ini? Di tengah-tengah dunia yang penuh dengan pergumulan dan penderitaan saat ini, apakah kita tetap percaya dan taat kepada Tuhan Yesus Kristus? Dia-lah anak domba Paskah yang menyelamatkan dunia  ini dari kuasa dosa dan kematian dengan darahNya yang ditumpahkan di Golgota. Kepada kita Tuhan Yesus Kristus sudah mengajarkan untuk tidak takut dan khawatir, Dia juga menjanjikan penyertaanNya kepada kita sampai kepada akhir zaman dan Dia juga mengajarkan kepada kita bagaimana hidup sebagai orang-orang percaya dan sudah diselamatkan . Apakah kita percaya dan taat kepada setiap firman yang diucapkanNya? Jika kita percaya dan taat maka kita akan diselamatkan dari segala bentuk pergumulan dan penderitaan yang kita hadapi di dunia ini. Percayalah kepada Tuhan dan taatlah akan firman dan perintahNya maka kita akan diselamatkan dari pergumulan dan penderitaan di dunia ini.

 

Doa:    Ya Tuhan Bapa kami di dalam sorga, ajar kami agar senantiasa percaya dan taat kepadaMu. Kuatkan kami dengan Roh KudusMu supaya kami tetap percaya, taat dan setia kepadaMu walaupun dalam dunia ini kami menghadapi berbagai macam pencobaan dan penderitaan. Hanya di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, dengarlah doa dan permohonan kami ini. Amin.

Tinggalkan Dukacita. Lakukan Pengutusan Tuhan Februari 19, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 19 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tinggalkan Dukacita. Lakukan Pengutusan Tuhan

(1 Samuel 15: 35b – 16:3)

 

“Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku” (16:1)

 

Tuhan memerintahkan raja Saul untuk menumpas bangsa Amalek tanpa belas kasihan; namun yang dilakukan raja Saul tidaklah demikian. Dia dan rakyatnya tidak menumpas semua bangsa Amalek, mereka menyelamatkan Agag raja Amalek menjadi tawanan dan merampas harta bendanya. Karena ketidaktaatan Saul tersebut, Tuhan menyesal telah mengangkatnya menjadi raja. Tapi Samuel abdi Tuhan itu merasa berdukacita dengan apa yang dialami raja Saul, sehingga dia berusaha menolak perintah Tuhan untuk pergi ke Betlehem, kepada Isai, untuk mengurapi seorang dari antara anak-anak Isai yang menjadi raja atas Israel. Selain berdukacita atas apa yang dialami raja Saul, Samuel juga takut jika Saul mengetahu bahwa dia pergi ke Betlehem untuk mengurapi seorang yang menjadi raja Israel, dia akan dibunuh raja Saul. Tuhan bertanya kepada Samuel: “berapa lama lagi dia akan berdukacita”? Dia mempunyai tugas yaitu menjalankan atau melakukan pengutusan Tuhan yang diterimanya yaitu mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja atas Israel menggantikan Saul yang telah ditolak oleh Tuhan. Itu artinya Samuel tidak boleh dibelenggu oleh dukacita sebab apa yang terjadi kepada Saul adalah keputusan dan otoritas Tuhan. Samuel harus melakukan tugas dan tanggungjawabnya yaitu sebagai wakil Tuhan untuk mengurapi yang menjadi raja di Israel.

Dalam dunia ini kita tidak terlepas dari rasa dukacita, bisa saja karena kita berpisah dengan orang yang kita cintai karena kematian, karena kita kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita, karena kita atau orang yang dekat dengan kita mengalami penderitaan, dll. Nas ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu lama larut dan dibelenggu oleh dukacita. yang sedang kita alami. Sebaliknya kita diingatkan bahwa kita harus melanjutkan  kehidupan kita di dunia ini sebagai utusan Tuhan. Banyak pekerjaan atau tanggungjawab yang harus kita lakukan; dimana semua itu tidak dapat kita lakukan kalau dukacita yang menguasai kehidupan kita. Oleh sebab itu, tinggalkan dukacita dan lakukanlah apa yang menjadi tugas kita sebagai utusan Tuhan di tengah-tengah dunia ini.

 

  

Doa:       Ya Tuhan yang kami sembah di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus. Jika kami mengalami dukacita jangan biarkan dukacita itu menghalangi kami melakukan tugas dan tanggungjawab kami sebagai utusanMu di dunia ini. Amin.

Tuhan Memampukan Kita Februari 18, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Rabu 18 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Memampukan Kita  

(Keluaran 3: 10 – 12)

 

“Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (ay.12)

             

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab di dalamnya terdapat tanggungjawab yang besar, apalagi memimpin sebuah bangsa.  Sang pemimpin dituntut memiliki hikmat menghadapi bangsanya sendiri dan menghadapi bangsa-bangsa disekitarnya. Musa dipanggil dan diutus Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, dimana tugasnya yang pertama adalah menemui Firaun, raja Mesir, untuk meminta bangsa Israel diperbolehkan dia bawa keluar dari Mesir. Pengutusan tersebut sangat berat dirasakan oleh Musa sehingga dia berkata kepada Tuhan: “siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”. Musa menyadari keterbatasan dan ketidaksanggupannya mengemban tugas yang mulia dan berat tersebut, dia merasa tidak mampu melaksanakan tugas tersebut. Tuhan tidak membiarkan hidup di dalam keragu-raguan; Tuhan meneguhkan Musa untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut; Tuhan tidak membiarkan Musa sendirian menemui Firaun tetapi Tuhan akan menyertainya. Sebagai tanda akan penyertaan Tuhan tersebut kepada Musa disampaikan bahwa setelah Musa membawa keluar umat Israel dari Mesir maka dia akan beribadah kepada Allah di gunung Horeb.   

Bisa saja terjadi dalam kehidupan kita di dunia ini mengalami hal seperti yang dialami Musa. Kepada kita diberikan atau dipercayakan suatu tanggungjawab; kita merasakan tanggungjawab tersebut berat dan kita merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Memang jika kita hanya mengandalkan diri kita sendiri kita tidak mampu menjalankan tanggungjawab tersebut dengan baik dan bertanggungjawab, mis: sebagai seorang pemimpin dalam pemerintahan atau swasta, sebagai seorang suami atau orangtua, sebagai hamba Tuhan yang memimpin jemaat, sebagai seorang yang memberitkan injil, dll. Tetapi bersama dengan Tuhan segala tanggungjawab dapat kita laksanakan dengan baik dan kita pertanggungjawabkan kepada manusia terlebih kepada Tuhan.

Saudara-saudara,  setiap pekerjaan atau pun pelayanan yang sedang kita lakukan dan gumuli saat ini, sepanjang kita melakukannya sesuai dengan kehendak Tuhan; maka Dia pasti menyertai dan memberikan kekuatan kepada kita, serta memampukan kita untuk melakukan dengan baik dan bertanggungjawab. Mungkin kita akan berhadapan dengan Firaun-Firaun zaman sekarang yang mencoba menghalang-halangi dan menggagalkan kita melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut; tetapi hal tersebut akan dapat kita lalui dimana Tuhan mempergunakan  segala potensi yang ada pada kita untuk melaksanakannya.

Akhirnya, hidup beribadah adalah jawaban kita atas penyertaan Tuhan yang memampukan kita melakukan tugas dan tanggungjawab kita. Hidup beribadah itu berarti kita hidup mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

 

Doa:    Kami puji dan muliakan namaMu, ya Tuhan kami,.yang menyertai kami dalam setiap kehidupan kami.  Engkau memampukan kami dalam melakukan tugas dan tanggungjawab kami. Bentuklah hidup kami menjadi ibadah yang berkenan dihadapanMu. Amin.

Mendengar Dan Melakukan Firman Tuhan Februari 17, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Selasa 17 Januari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Mendengar Dan Melakukan Firman Tuhan

( Ulangan 32: 44 – 47 )

 

“…Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.” (ay.46-47)

 

            Nas di atas adalah nasihat Musa yang terakhir kepada bangsa Israel yang akan memasuki tanah perjanjian, tanah Kanaan. Inti dari nasihat Musa adalah agar bangsa Israel taat di dalam setiap perkataan yang telah disampaikannya yaitu hidup mengasihi Tuhan dengan segala kekuatan, jiwa dan akal budi mereka. Mereka tidak boleh berpindah dan percaya kepada allah lain; yang nantinya mereka temui di tanah Kanaan. Pengajaran dan nasihat dari Musa ini juga harus diperintahkan dan diajarkan kepada anak-anak mereka sehingga dari generasi ke generasi akan tumbuh umat yang setia dan taat kepada Tuhan dan kepada hukum dan aturanNya. Mendengar dan melakukan apa yang diajarkan Musa bukanlah sesuatu yang sia-sia, sebab apa yang diajarkan Musa bukanlah perkataan yang hampa tetapi perkataan itu adalah sumber hidup bagi bangsa Israel. Dengan mendengar dan melakukan apa yang disampaikan Musa bangsa Israel akan diberkati dengan berkat panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka (bnd. Hukum Taurat ke-5).

            Kita sudah menerima banyak pengajaran sejak kita masih sekolah minggu hingga saat ini. Pertanyaan bagi kita saat ini adalah apakah kita sudah menjadi pelaku firman Tuhan ataukah kita masih dalam tahan mendengar saja. Dalam Mazmur 119:105 disebutkan: Firman adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”; dalam 2 Timotius 3: 16 – 17 dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Itu artinya bahwa firman Tuhan yang kita dengarkan bukanlah perkataan yang hampa dan sia-sia tetapi perkataan yang berasal dari Tuhan yang mendatangkan dan memberikan kehidupan bagi kita, kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang. Dengan hidup di dalam firman Tuhan, hidup di dalam aturah, hukum dan kehendakNya, kemanapun kita pergi dan melangkah kita akan memperoleh sukacita dan kebahagiaan bahkan disaat kita menghadapi pergumulan dan penderitaan.

            Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, manusia hidup tidak hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang dikatakan Tuhan. Hal inilah yang sangat penting disadari dan diajarkan kepada setiap orang dari generasi ke generasi sehingga manusia itu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Selamat mendengar dan melakukan firman Tuhan.

 

Doa:       Ya Tuhan, tuntun kami dengan Roh Kudus untuk hidup mendengar dan melakukan firman, hukum dan aturanMu supaya kami hidup. Amin.

Hukuman Mendahului Keselamatan Februari 16, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 16 Pebruari  2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Hukuman Mendahului Keselamatan

(Yesaya 6: 9 – 13)

 

“Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh”(ay.9-10)

 

Tuhan mengutus Yesaya untuk menyampaikan nubuatan yang berisi hukuman kepada bangsa Israel, bangsanya sendiri. Tugas tersebut sangat berat dan penuh dengan risiko, terlebih lagi Tuhan mengeraskan hati umatNya. UmatNya di minta mendengar dengan sungguh-sungguh berita yang disampaikan Yesaya tetapi untuk mengerti berita tersebut umatNya tidak diperbolehkan Tuhan; umatNya diminta melihat dengan sungguh-sungguh tetapi untuk menanggap umatNya tidak diperbolehkan. Yesaya diberi tugas untuk membuat telinga umat berat mendengar dan mata mereka melekat tertutup supaya tidak melihat, tidak mendengar dan tidak mengerti. Hati umat dikeraskan supaya mereka tidak berbalik kepada Tuhan dan menjadi sembuh. Hal ini tentu sangat mengherankan dan bertentangan dengan kemurahan dan kesucian Tuhan yang selalu menghendaki adanya pertobatan dan keselamatan bagi umatNya. Karena itu Yesaya bertanya: “berapa hal tersebut akan terjadi”? Sampai berapa lami kekerasan hati yang mendatangkan hukuman tersebut berlangsung?. Tuhan menjawab Yesaya sampai kota-kota yang lengang tidak ada yang mendiami, di rumah-rumah tidak ada manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. Nubuatan ini menunjukkan kepada pembuangan yang akan mereka alami, dimana bangsa Babel mengepung dan menaklukkan mereka. Bangsa Israel terbuang ke Babel dan Yerusalem tinggal reruntuhan dan puing-puing, menjadi kota perkabungan.

Kenapa Tuhan mengeraskan hati umatNya? Tuhan mengeraskan hati umatNya bukanlah supaya mereka binasa untuk seterusnya atau Tuhan berencana melenyapkan keberadaan umatNya. Sebaliknya Tuhan mempunyai rencana besar bagi umatNya yaitu rencana keselamatan yang ajaib dan unik, dimana dari “sisa yang diselamatkan” Tuhan akan membangkitkan tunas yang kudus. Nubuatan ini menunjuk kepada Yesus, Dialah tunas kudus yang lahir dari tunggul Isai. Hukuman Tuhan merupakan pendahuluan rencana keselamatan yang akan dilakukanNya.

Kalau kita melihat yang terjadi disekeliling kita dimana kejahatan semakin merajalela, KKN masih tetap merajalela di tengah-tengah bangsa kita. Mungkin bisa timbul pertanyaan di dalam diri kita: “apakah Tuhan sedang mengeraskan hati manusia itu sehingga tidak bertobag”? Bisa saja. Tetapi nas ini mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan bukanlah rencana kecelakaan dalam hidup umat pilihanNya, sebaliknya rencana Tuhan adalah rencana keselamatan dan masa depan yang penuh harapan. Pada waktunya Tuhan akan membangkitkan dan menghadirkan seorang yang dapat memimpin dan membawa pembaharuan.

 

 

Doa:    Ya Tuhan, kami memuliakan namaMu karena Engkau merencanakan keselamatan bagi kami; meskipun kami harus mengalami terlebih dahulu pergumulan dan penderiitaan. Ajar kami senantiasa untuk memiliki hati yang taat. Amin.

Setiap Kemenangan Berasal Dari Tuhan Februari 14, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Sabtu 14 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Setiap Kemenangan Berasal Dari Tuhan

( Mazmur 44: 6 – 9 )

 

“Sebab bukan kepada panahku aku percaya, dan pedangku pun tidak memberi aku kemenangan, tetapi Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu” (ay.7-8)

           

            Dalam dunia ini tentu kita pernah mengalami sesuatu masalah yang berat yang menguras tenaga dan pikiran kita untuk menghadapinya dan mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Atau kita mungkin pernah merasa terancam oleh tindakan yang jahat dari orang lain, kita di fitnah dll. Merupakan kebahagiaan dan sukacita ketika dari semua masalah tersebut kita dapat bebas dan selamat artinya kita memperoleh kemenangan. Dan untuk itu kita mengadakan kebaktian ucapan syukur, misalnya kebaktian ucapan syukur karena terlepas dari kecelakaan atau marabahaya.

            Nas ini mengingatkan kita bahwa kemenangan yang kita peroleh tersebut bersumber dari Allah; hal tersebut terjadi bukan karena kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri. Bukan karena kita mempunyai panah atau pedang, kita mempunyai pengetahuan atau keahlian sehingga kita memperoleh kemengangan. Tetapi kemenangan itu adalah pemberian Tuhan dimana untuk sampai kepada kemenangan tersebut segala potensi yang ada pada kita dipergunakan oleh Tuhan. Pengetahuan dan keahlian, kegigihan dan ketabahan, kesetiaan dan ketaatan, keseriusan dan kesungguhan yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan dan itu juga yang dipergunakanNya untuk memberikan kepada kemenangan terhadap segala lawan kita yaitu si Iblis, penderitaan dan pergumulan-pergumulan hidup yang kita hadapi di dunia ini, dan juga orang-orang yang mungkin membenci dan tidak senang dengan keberadaan kita. Oleh sebab itu, hiduplah mengandalkan Tuhan dan percaya kepadaNya. Bersama dengan Tuhan kita tidak akan kalah menghadapi setiap hal yang terjadi di dunia ini; sebaliknya kemenangan demi kemenangan akan dikaruniakan kepada kita.

            Apa yang menjadi respon kita terhadap kemenangan yang dikaruniakan Tuhan tersebut? Ayat 9 mengatakan: orang-orang yang telah menerima kemenangan dituntut untuk hidup menyanyikan puji-pujian sepanjang hari dan mengucap syukur bagi nama Tuhan untuk selama-lamanya. Selamat berkemenangan dan memuji Tuhan.     

Doa:    Ya Tuhan, kami memuji Engkau karena dalam segala hal yang kami hadapi di dunia ini Engkau mengaruniakan kepada kami kemenangan. Ajar kami untuk selalu mengandalkan dan percaya kepadaMu dalam menjalani hidup kami di dunia ini. Amin.