jump to navigation

HKBP KERNOLONG MERAYAKAN ULANG TAHUN KE-89 November 18, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in My Diary.
3 comments

HKBP KERNOLONG RESSORT JAKARTA

BER-ULANG TAHUN KE- 89

 

Sekelumit Sejarah HKBP Jakarta

 

I.      Pendahuluan

Gereja HKBP Kernolong Ressort Jakarta (dulu disebut HKBP Jakarta Ressort Jakarta) adalah gereja HKBP pertama di luar Sumatera. Pada awal abad ke XX terjadi migrasi besar-besaran ke luar Tapanuli terutama ke Sumatera Timur. Karena pendidikan formal yang telah pernah mereka peroleh, maka orang-orang Batak tidak sulit untuk mendapat pekerjaan sebagai tenaga buruh atau pegawai di perkebunan, di perusahaan-perusahaan maupun di kantor-kantor swasta dan pemerintah. Hal itu lebih mendorong lagi terjadinya mobilitas sosial di kalangan masyarakat Batak baik secara horizontal maupun vertical.

Masyarakat Batak kemudian berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak-anaknya. Semakin lama daerah perantauan orang Batak semakin meluas. Mulailah orang Batak pergi merantau ke Semenanjung Malaya dan juga ke pulau Jawa.

 

II.    Perintis HKBP di Jakarta

         Dengan selesainya Perang Batak pada tahun 1907 hubungan komunikasi antara Tapanuli dan dunia luar semakin lancer.  Demikianlah pada awal abad ke XX mulailah datang beberapa pemuda Batak Kristen merantau ke Jakarta yang pada waktu itu masih disebut Batavia.

         Salah seorang pemuda Batak Kristen yang pertama datang merantau ke Jakarta tepatnya tahun 1907 ialah Simon Hasibuan, seorang tamatan Seminari Pansurnapitu. Oleh karena Pemuda Kristen Batak jumlahnya masih sedikit dan kebaktian berbahasa Batak belum ada maka mereka menumpang ke jemaat-jemaat yang ada di Jakarta. Akan tetapi jumlah pemuda Batak itu setiap tahun semakin bertambah.

         Menurut F. Harahap dan M. Nababan yang sudah berada di Jakarta sejak tahun 1910-an, pada tahun 1917 sudah ada di Jakarta lebih kurang 30 orang Batak yang beragama Kristen. Lima diantaranya sudah berkeluarga, sedangkan yang lainnya adalah pelajar di Ambach School (Sekolah Tehnik) di Kampung Jawa Kota dan Perawat di RS Salemba dan RS PGI Cikini yang sekarang. Sebagian besar dari mereka tinggal di Sawah Besar.

         Karena belum adanya jemaat Batak, maka para pemuda ini bergerejanya berganti-ganti dari satu jemaat ke jemaat yang lain, yaitu: Indische Kerk (Gereja Protestan di Indonesia), Gereformeerde Kerk (Gereja Kristen Indonesia), Gereja Methodis dan Gereja Katolik. Dari sekilan banyak jemaat di Jakarta, jemaat Kwitang-lah yang lebih sering didatangi oleh para pemuda Batak. Ds. L.  Tiemersma sebagai pendeta jemaat Gereformeerde Kerk (Gereja Kristen Indonesia) sangat gigih memberikan pelayanan kepada orang Batak Kristen meskipun ada larangan dari Pemerintah Hindai Belanda. Pada tahun 1917 Ds. L. Tiemersma meminta agar para pemuda Batak menghadiri kebaktian di jemaat mereka di Hollands Cinesche School di Gang Chasse disamping rumah Ds.L. Tiemersma. Kebaktian dilakukan bersama-sama dengan orang Tonghoa, Ambon, Menado, dan Jawa di dalam bahasa Melayu. Ds.L. Tiemersma sangat suka bilamana mendengarkan para orang Batak tadi menyanyikan koor lengkap dengan empat suara. Setelah kebaktian berlangsung 4 bulan lamanya, pada tanggal 10 Oktober 1917 Ds. L. Tiemersma bersama dengan Guru F. Harahap memprakarsai untuk menyewa tiga buah rumah, satu untuk ditempati Guru F. Harahap dan dua lagi untuk ditempati pemuda Batak lainnya. Sewa ketiga rumah tersebut ditanggung oleh Gereja Kwitang. Letak rumah yang disewa tersebut di perbatasan Sawah Besar dan Kebun Jeruk No.18. 

 

III.  Surat Keliling Immanuel

         Tidak lama kemudian dimuat pemberitahuan dalam “Surat Keliling Immanuel” yang dicetak di Laguboti. Pemberitahuan yang merupakan iklan itu berbunyi:

 

Boa-Boa

 

Manang ise sian hamoe ama manang ina,

na naeng marsoeroe ianakkonmoena toe Betawi,

parsikkola manang mandjalahi karedjo,

asa torang diboto hamoe baritana,

tu ahoe ma ibana di soeroe ro.

Alamathoe: F. Harahap, tinggal di perbatasan ni

Sawah Besar dohot Keboen Djeroek No. 18 Betawi

 

         Sesudah pengumuman tersebut beredar maka berdatanganlah para pemuda Batak Kristen ke Jakarta, dua atau tiga orang setiap bulan. Pada umumnya para pemuda ini cukup rajin datang ke gereja, karena disamping ingin menghadiri kebaktian, mereka ingin juga saling bertemu satu dengan yang lain. Lama kelamaan jumlah orang Batak di Jakarta pun makin banyak. Beberapa diantaranya ada yang dapat berbahasa Belanda dan Melayu (Indonesia), tetapi lebih banyak pemuda Batak tersebut yang praktis hanya menguasai bahasa Batak. Oleh karenanya wajarlah kalau beberapa dari orang Batak meminta supaya diadakan saja kebaktian berbahasa Batak agar mereka dapat memahami khotbah-khotbah yang disampaikan. Permintaan ini disampaikan kepada Ds.L. Tiemersma yang kemudian menyetujuinya.

 

IV.   Kebaktian Berbahasa Batak Yang Pertama

         Keinginan untuk melakukan kebaktian ber-bahasa Batak tersebut akhirnya terwujud dengan suasana yang baik pada tanggal 20 September 1919 – tanggal inilah yang oleh rapat panitia ulang tahun ke-89 dan majelis ditetapkan menjadi hari lahirnya HKBP Kernolong Ressort Jakarta. Kebaktian ber-bahasa Batak ini dipimpin oleh Guru S. Hasibuan, F, Harahap dan Sutan Harahap. Anggota jemaat sementara sudah mencapai 50 0rang. Diantaranya terdapat Merari Siregar, salah satu pelopor Bahasa Indonesia yang kemudian terkenal dengan bukunya: Azab dan Sengsara. Karena kebutuhan akan pelayanan yang lebih baik maka diputuskan untuk meminta ke HKBP Pusat di Tarutung untuk mengutus seorang pendeta yang dapat menjadi pelayan penuh di Huria Kristen Batak di Jakarta. Pada bulan Maret 1922 tibalah di Jakarta dari Sipirok Pdt. Mulia Nainggolan beserta keluarga (isteri dan tiga orang anak).

 

V.     Usaha-Usaha untuk membangun Gereja HKBP pertama di Jakarta

         Pada tahun 1927 Pdt. Mulia Nainggolan memasuki masa pension, dan yang menggantikan beliau adalah Pdt. Peter Tambunan, ayahanda dari Dr. A.M. Tambunan, bekas Menteri Sosial RI. Begitu datang ke Jakarta maka Pdt. Peter Tambunan memberitahukan kepada jemaat tekadnya untuk mendirikan gedung gereja milik HKBP. Selanjutnya dengan tidak kenal lelah Pdt. Peter Tambunan berusaha agar semua anggota jemaat ikut serta memikirkannya. Dengan bantuan Ny. Ds. Gouw Khiam Kiet yang memberikan bantuan F.500 jemaat yang dipimpin Pdt. Peter Tambunan melakukan cara-cara pengumpulan dana sbb:

·        para pekerja kantor mengedarkan inteekenlijst di kantor masing-masing

·        para pemuda dan pelajar mengedarkan di luar

·        pendeta dan para penetua (sintua) mengumpulkan uang di kalangan orang-orang terkemuka dan jemaat-jemaat di Jakarta serta sekitarnya.

·        Gaji dari para pekerja masing-masing dipotong tiap bulan 25 %.

Dalam pada itu diminta juga bantuan dari Zending Consul Dr. Slotemaker de Bruine dan Mr. Van Helsdingen (anggota kehormatan panitia pembangunan gereja). Demikianlah maka berkat bantuan ke-tiga tokoh dan bantuan yang cukup banyak dari GKI Kwitang terkumpullah uang sebanyak F.10.000. Disamping itu diadakan juga kollekte khusus di tanah Batak untuk menambah biaya yang sudah terkumpul.

Sesudah uang itu tersedia, maka Pdt. Peter Tambunan mengutus J.K. Panggabean, E. Sutan Harahap dan St. Henok Silitonga menghadap Burgemeester (walikota), meminta tempat gereja yang akan di bangun itu. Tanah yang diberikan ialah tanah di Gang Kernolong 37 di tempat gereja HKBP sekarang ini berdiri. Adapun aannemer (pemborong) yang banyak memberikan bantuannya membangun gedung gereja Kernolong ialah almarhum J.M. Sitinjak dari jalan Muria Menteng salah seorang tokoh lama di Jakarta.

 

VI.   Peletakan Batu Pertama Gereja HKBP Kernolong

         Peletakan batu pertama pembangunan gereja HKBP Kernolong dilakukan pada tanggal 21 Nopember 1931, yang dilakukan oleh isteri Walikota Batavia yaitu Nyonya De Jonge didampingi Ny. Nelly Harahap. Kurang lebih setengah tahun kemudian, yakni pada tanggal 8 Mei 1932 gedung gereja yang diidamkan itupun selesai di bangun. Acara pembukaan gedung gereja dihadiri oleh Gubernur Jenderal, Walikota, Kepala Polisi, Kepala Departemen Keungan, Kepala Departemen Kesehatan, Kepala Departemen Pendidikan dan Agama, para pemimpin sekolah-sekolah Kristen, demikian juga utusan dari berbagai gereja di Jakarta. HKBP Pusat diwakili oleh Pdt. Edward Muller.

 

VII. Renovasi Gereja

         Pada tahun 1979 majelis mulai memikirkan kemungkinan pembangunan gereja yang baru namun karena terbatasnya biaya pembangunan tersebut belum bisa terlaksana, yang dapat diperbaiki hanya pagar gereja. Baru pada tahun 1986 gereja HKBP Kernolong dapat melakukan pembangunan dengan merobohkan gereja yang dibangun tahun 1931. Dengan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada pengasihan Tuhan Yesus Kristus, Panitia melakukan tugasnya selama lima (5) tahun dan gedung gereja yang baru telah berdiri seperti sekarang ini, terdiri dari ruang ibadah di lt 2 (ada juga balkon)  dan ruang Serba Guna yang disewakan untuk pesta dan pertemuan-pertemuan lainnya. Pada hari Minggu, 10 Maret 1991 dilaksanakan penahbiasan/peresmian gedung gereja HKBP Kernolong oleh Ephorus HKBP Pdt. Dr. S.A.E. Nababan.

         Para pendeta yang pernah melayani HKBP Ressort Jakarta (Jakarta Kalimantan):

         1.    Pdt. Mulia Nainggolan                             :     1922 – 1927

         2.    Pdt. Peter Tambunan                              :     1928 – 1939

         3.    Pdt. Melanthon Pakpahan                      :     1939 – 1951

         4.    Pdt. Kondar Simatupang                         :     1951 – 1960

         5.    Pdt. Alfred Silitonga                                 :     1960 – 1971

         6.    Pdt. P.W.T. Simanjuntak, STh               :     1971 – 1974

         7.    Pdt. T.P. Hutagalung                               :

         8.    Pdt. A.B. Siahaan                                      :     1974 – 1976

         9.    Pdt. B. Napitupulu                                   :     1976 – 1980

         10.  Pdt. H.D. Sidabutar, STh                        :     1980 – 1984

         11.   Pdt. E.J.P. Sihombing, STh                    :     1984 – 1988

         12.  Pdt. D.M.T. Hutagalung, STh                 :     1988 – 1993

         13.  Pdt. K. Simaibang, STh                           :     1993 – 1997

         14.  Pdt. M.K.H. Sirait, STh                           :     1997 – 1999

         15.  Pdt. Rafles Lumban Raja, STh               :     1999 – 2003

         16.  Pdt. P.M.H. Simangunsong, SMTh        :     2003 – 2007

         17.  Pdt. Sabar PD. Simanungkalit                :     2007 – sekarang

 

         Pendeta lain yang pernah diperbantukan di HKBP Ressort Jakarta:

1.      Pdt. H. Surtan Marpaung, STh

2.      Pdt. Alboin Simanungkalit, STh

3.      Pdt. S. Pasaribu

4.      Pdt. D. Simangunsong

5.      Pdt. Taksir Sidabutar, STh

6.      Pdt. D. Hasibuan

7.      Pdt. E. G. Simanjuntak

8.      Pdt. Agus Dasa Silitonga (sekarang)

 

Para Sintua, Guru Huria, Bibelvrow dan Pendeta yang pernah melayani sebagai Guru Huria di HKBP Kernolong:

1.   Gr. P.W. Situmeang                                  :     1951 – 1954

2.   St. M. Silitonga                                          :     1959 – 1979

3.   St. T. Simatupang                                     :     1979 – 1981

4.   St. G. Siregar                                             :     1981 – 1983

5.   Gr. A. Siahaan                                            :     1981 – 1983

6.   Gr. D.S. Turnip                                          :     1987 – 1990

7.   Gr. Hotler Sitompul                                  :     1990 – 1994

8.   Gr. N.W. Bancin                                         :     1994 – 1998

9.   Biv. S. br. Sitorus                                      :     1998 – 2001

10. Pdt. R.T.L. br. Purba                                :     2001 – 2005       

 

VIII. HKBP Kernolong Ressort Jakarta Saat ini

         Perkembangan dan pengembangan kota Jakarta yang terus maju membuat jemaat gereja HKBP Kernolong semakin berkurang, dan perlu diketahui saat ini seperempat dari jumlah keluarga anggota jemaat HKBP Kernolong adalah na mabalu (tercatat HKBP Kernolong 400 KK). Perlu juga diketahui dari 400 KK tersebut tidak banyak lagi yang bertempat tinggal di lingkungan gereja tetapi sudah tersebar di Jakarta Pusat, bahkan di luarnya (Parserahan). Walaupun demikian, HKBP Kernolong tetap melakukan pelayanannya yaitu Tri Tugas Panggilan Gereja (Koinonia, Marturia dan Diakonia) dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Status sebagai Gereja tua tidak membuatnya menjadi bermalas-malasan, apa yang dapat dilakukan untuk kemuliaan Tuhan akan terus dilakukan.

 

IX.   Perayaan Ulang Tahun ke-89 dan Pesta Huria tahun 2oo8

         HKBP Kernolong yang berulang tahun ke-89 pada tanggal 20 September melakukan puncak perayaan pada Hari Minggu tanggal 16 Nopember 2008. Diharapkan untuk ulangtahun ke-90 tahun depan dapat dilakukan di bulan September. Pada perayaan tahun ini berbagai kegiatan dilakukan antara lain:

·        Fashion Show untuk anak-anak sekolah minggu

·        Lomba bercerita untuk sekolah minggu dan remaja

·        Lomba Solo Vocal untuk sekolah minggu, remaja dan dewasa

·        Lomba Paduan Suara antar weik

·        Lomba Tenis Meja putra/putri, dan

·        Lomba catur putra.

Pada puncak acara tanggal 16 Nopember 2008 dilakukan Ibadah Ucapan Syukur yang dipimpin Pdt. SPD. Simanungkalit (pendeta HKBP Ressort Jakarta) dan dilanjutkan perayaannya di Gedung Serbaguna sekaligus mengumpulkan dana untuk membiayai program dari Gereja HKBP Kernolong (khususnya program seksi-seksi).   

Perlombaan

Perlombaan

 

 X.    Penutup

         Tuhan Yesus, Raja Gereja, kiranya memberkati gerejaNya (jemaat dan majelisnya) untuk lebih meningkatkan pelayanannya di tengah-tengah dunia ini. HKBP Kernolong Ressort Jakarta, suatu ketika mungkin engkau tinggal hanya bangunan yang bersejaran yang berdiri megah karena jemaatmu sudah tersebar. Namun demikian engkau telah melakukan hal yang luar biasa untuk kemuliaan Tuhan dan selama masih ada waktu dan kesempatan tetaplah lakukan tugas panggilanmu, sebab pada waktunya semua yang di kolong langit ini akan mengalami hal yang sama. Semua akan kembali kepada penciptaNya. HKBP Kernolong kami mencintaimu, jadilah menjadi jemaat / gereja yang “Small but beautiful”. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Baptisan Kudus Palito Teopilus November 11, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in My Diary.
10 comments
Pdt. SPD Simanungkalit (Pdt.HKBP Ressort Jakarta) melayani pembabtisan Palito Teopilus

Pdt. SPD Simanungkalit (Pdt.HKBP Ressort Jakarta) melayani pembabtisan Palito Teopilus

 

Palito

Palito

Sebagai keluarga Kristus (pengikut Kristus) salah satu tanggungjawab orangtua adalah membawa anak untuk menerima Baptisan Kudus. Tugas dan tanggungjawab itulah yang kami (saya dan isteri) lakukan pada hari Minggu tanggal 2 Nopember 2008, di HKBP Kernolong Ressort Jakarta.

Tiga pertanyaan pendeta saya jawab dengan tegas; pengakuan iman juga saya ucapkan dengan jelas dan tegas. Namun, ketika saya dan isteri saya di altar dan pendeta membaptis Palito, saya tidak bisa menahan air mata; saya terharu dan bersyukur kepada Tuhan karena berkat yang dikaruniakanNya dalam kehidupanku dan isteriku. Saya teringat, ketika Palito belum hadir di tengah-tengah keluargaku, setiap melakukan pembaptisan kudus saya selalu berdoa di dalam hati: “Tuhan, kapan Engkau memberi kesempatan untuk membawa anak ke altar ini untuk dibaptis”. Air mata suka cita dan syukur, itulah air mataku. Kiranya Tuhan memberikan kepadaku dan isteriku kekuatan dan hikmat membesarkan Palito sesuai dengan kehendakNya.

Sekarang Palito sudah menjadi warga kerajaan Allah, dia sudah menjadi pewaris kehidupan yang kekal; dia sudah mati di dalam dosa bersama-sama dengan Yesus di dalam kematianNya dan bangkit bersama-sama dengan kebangkitan Yesus ke dalam hidup baru. Palito selamat bertumbuh dan bertambah di dalam Tuhan. 

Berbagi Sukacita Oktober 4, 2008

Posted by Agus Dasa Silitonga in My Diary.
4 comments

Ajaib Tuhan. Doa dan Penantian telah terjawab

 

Tanggal 26 September 2008 pukul 11.00 WIB adalah waktu yang sangat membahagiakan dan bersejarah dalam hidupku dan istriku. Lebih dari 4 tahun kami menantikan kehadirannya, doa dan harapan tidak pernah putus, melakukan pengobatan juga dijalani, sebab doa dan harapan harus juga dibarengi dengan perbuatan. Tidak hanya aku dan istriku yang berdoa, semua orang yang mengasihi kami juga berdoa, keluarga, sahabat dan jemaat yang aku layani juga berdoa untuk kebahagiaan kami, untuk penantian kami.

Ajaib Tuhan itulah yang terucap di dalam hatiku, air mataku menetes melihat kejadian yang bersejarah tersebut di kamar bersalin. Air mataku menete dengan penuh syukur kepada Tuhan ketika dokter yang melakukan operasi caesar menarik ciptaan Tuhan yang ajaib dari perut intriku. Aku menangis dan bersyukur kepada Tuhan menyambut kehadiran si buah hatiku dengan istriku. Palito Teopilus itulah nama bayi yang baru lahir itu kunamakan. Aku beri nama Palito dengan doa dan harapan kiranya anak yang Tuhan titipkan ini kelak menjadi terang, menjadi anak sukacita bagi setiap orang terlebih bagi Tuhan.  Teopilus kunamakan dia dengan harapan dia tetap dikasihi Tuhan sepanjang hidupnya dan dia juga tetap setia menjadi sahabat dan kekasih Tuhan.

Ajaib Tuhan…Ajaib Tuhan. Doa dan penantian selama kurang lebih 4 tahun telah terjawab. Kini tanggungjawab untuk membesarkan, merawat dan memperkenalkannya kepada Tuhan telah diamanatkan kepada aku dan istriku. Kiranya Tuhan memberi kekuatan kepada kami menjadi orangtua yang baik dan kiranya Palito Teopilus senantiasa dalam pemeliharaan Tuhan. Ajaib Engkau, ya Tuhan, bagiMu tidak ada yang mustahil.

(Salam Kasih: Pdt. Agus Dasa Silitonga / Dian Ambarini Aritonang)