jump to navigation

Takutlah Akan Murkan Dan Hukuman Tuhan Maret 4, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Rabu 04 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Takutlah Akan Murka Tuhan

(1 Samuel 3: 11 – 16)

 

“Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.” (ay.14)

             

Tuhan akan melakukan murkaNya kepada Eli dan anak-anaknya sebab kedua anak Eli telah melakukan yang tidak benar dihadapan Tuhan; sedangkan Eli lalai melakukan tugasnya sebagai orang tua, dia tidak menasihati atau memarahi anak-anaknya melakukan perbuatan yang tidak benar di Bait Allah dan di luar bait Allah. Dosa keluarga Eli tidak dapat dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selama-lamanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa hukuman dan murka Tuhan tidak dapat dihalangi atau di tunda, tetapi akan dilakukan. Kalau kita membaca 1 Samuel 4 disana kita temukan bagaimana Eli dan anak-anaknya mati sangat mengenaskan.

Kalau Tuhan murka atas dosa anak-anak Eli dan Tuhan melakukan murkaNya tersebut, saat ini juga hal yang demikian bisa terjadi. Hukuman Tuhan tidak hanya terjadi pada akhir zaman ketika Yesus datang keduakalinya. Saat ini, murka Tuhan juga dapat berlangsung, walaupun tidak persis sama seperti yang terjadi kepada Eli dan anak-anaknya. Karena itu takutlah akan murka Tuhan, sehingga kita mau meninggalkan dosa dan kembali kepada kehendak Tuhan. Korban-korban atau persembahan tidak berkuasa menghalangi murka dan hukuman Tuhan. Memang korban dan persembahan perlu untuk dilakukan sebagai tanda bahwa kita bersyukur atas perbuatan Tuhan di dalam hidup kita. Tetapi Tuhan lebih suka atas pertobatan yang kita lakukan.

Kenapa manusia saat ini masih melakukan dosa? Itu disebabkan karena  manusia tidak takut lagi akan murka dan hukuman Tuhan. Manusia sudah lebih takut kepada manusia dari pada kepada Tuhan, manusia sudah lebih takut kepada hukum yang dibuat manusia daripada hukum yang diperintahkan oleh Tuhan. Manusia merasa bahwa hari penghakiman, neraka hanyalah cerita belaka. Jadi, kalau kita menginginkan hidup kita  tetap berjalan  di dalam kehendak dan aturan Tuhan, maka kita harus hidup di dalam takut akan murka dan hukuman-Nya. Harus kita ingat, jika Tuhan berkuasa mengampuni dan menyelamatkan manusia, Dia juga berkuasa menghukum dan menyatakan murkaNya kepada manusia karena dosa-dosanya.   

 

Doa:       Ya Tuhan, ingatkan kami untuk senantiasa hidup dalam takut akan murkaMu dan penghukumanMu. Sehingga kami hidup di dalam kebenaran dan keadilan di dunia ini. Kami hidup sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Iklan

Takut Karena Dosa Maret 4, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Selasa 03 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Takut Karena Dosa

( Kejadian 3: 9 – 19 )

 

“ Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau? Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” (ay.9-10)

 

 Kenapa Adam bersembunyi dari hadapan Tuhan penciptanya? Karena Adam telah berdosa di hadapan Tuhan, dia telah melanggar perintah Tuhan; akibatnya Adam dan Hawa takut bertemu dan berhadapan dengan Tuhan. Ketakutan tersebut membuat Adam dan Hawa mencari kambing hitam, Adam berkata bahwa perempuan yang ditempatkan Tuhan disisinya yang menjadi awal pelanggaran terjadi, sedangkan Hawa berkata bahwa ular itu yang memperdayakannya sehingga melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan benar tersebut. Akibat pelanggaran mereka Tuhan menghukum manusia dan ular tersebut bahkan tanah pun turut terkutuk karena pelanggaran tersebut. Tuhan membuat permusuhan antara ular sipenggoda dengan perempuan tersebut yang berlangsung sampai kepada keturunan mereka. Hal itulah yang kita lakukan hingga saat ini, dimana kita hidup di medan pertempuran melawan kuasa dan godaan iblis, tetapi Yesus Kristus yang datang ke tengah-tengah dunia ini, dengan kematian dan kebangkitanNya telah mengalahkan kuasa iblis, dosa dan kematian.

Dalam kehidupan kita saat ini, hanya orang-orang yang melakukan dosa dan kesalahanlah yang hidupnya selalu di hantui rasa takut. Kita takut berhadapan dengan manusia apalagi berhadapan dengan Tuhan. Pe-Mazmur dalam Mazmur 24:3-4 mengatakan: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu”.

Oleh sebab itu, dalam hidup kita di dunia ini, hiduplah di dalam perintah dan kehendak Tuhan. Dengan pertolongan Roh Kudus berusahalah melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, berusahalah hidup sesuai dengan Hukum Tuhan. Dengan hidup di dalam kehendak Tuhan kita mempunyai keberanian datang kehadiratNya. Jika kita melakukan dosa dan pelanggaran, hendaknya kita mau mengaku dosa dan melakukan pertobatan, jangan mencoba membenarkan diri dengan mencari kambing hitam dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain, kepada keadaan. Dengan mengaku dosa dan bertobat,  Tuhan akan menerima kita sebab Dia adalah Allah yang Maha pengasih dan pengampun. 

 

 

Doa:       Ya Tuhan, tuntun kami dengan Roh Kudus untuk hidup mendengar dan melakukan firman, hukum dan aturanMu supaya kami hidup. Jika kami melakukan dosa dan pelanggaran tuntun kami kepada pertobatan dan mau datang kehadapanMu mengaku dosa sebab Engkau maha pengasih dan pengampun. Amin.

Lekatkan Hatimu Kepada Tuhan Maret 2, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 02 Maret 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Lekatkan Hatimu Kepada Tuhan

(Mazmur 91: 14 – 16)

 

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”(ay.14)

 

 Hati adalah pusat yang mengendalikan manusia, segala sesuatu yang ditunjukkan seseorang di dalam perbuatan dan perkataan berasal dari hati. Apa yang kita tunjukkan di dalam kehidupan kita sehari-hari sangat tergantung kepada siapa hati kita lekatkan. Pertanyaan bagi kita saat ini adalah: hati kita melekat kepada siapa? Kepada Tuhankah ataukah kepada dunia ini. Firman Tuhan hari ini adalah suatu janji keselamatan. Dengan tegas Tuhan menyatakan bahwa Dia akan menyelamatkan orang yang melekatkan hatinya dan percaya kepada Tuhan. Tuhan akan menyelamatkan dari segala bahaya (ay.14), menyertai dan memuliakan dia (ay.15) dengan memberikan keselamatan kepadanya (ay.16).

Seperti apakah orang yang melekatkan hatinya kepada Tuhan? Seseorang yang melekatkan hatinya kepada Tuhan adalah  yang “mengenal namaNya” artinya mengakui Tuhan di dalam seluruh kehidupannya dan hidup digerakkan oleh hidup yang takut kepada Tuhan. Jika kita hidup di dalam takut akan Tuhan maka doa dan permohonan kita  akan didengarkan oleh Tuhan dan Dia akan “menyertai kita di dalam setiap kesesakan” yang kita hadapi. Tuhan “Menyertai” berarti Dia melindungi dan menolong kita dalam perjalanan hidup yang sedang kita jalani dan yang akan kita jalani (masa depan). Tuhan akan menyertai kita di tengah ancaman serta tantangan hidup. Tuhan akan “memuliakan” kita artinya memberkati kita dengan memberikan keselamatan, khususnya dengan panjang umur. Namun haruslah kita menyadari dan mengingat bahwa seseorang yang melekatkan hatinya dan percaya kepada Tuhan hidupnya  tidak mencobai Tuhan dengan menguji apakah Dia setia dengan firman-Nya atau tidak. Tetapi orang yang melekatkan hatinya dan percaya kepada Tuhan menyerahkan diri kepada Tuhan dan taat kepadaNya.

Oleh sebab itu, lekatkanlah hatimu kepada Tuhan dan kenallah Tuhan dengan benar; maka Tuhan akan meluputkan hidup kita dari mara bahaya, membentengi kita dalam menghadapi tantangan kehidupan dan pencobaan-pencobaan dunia ini. Walaupun kita hidup di dalam dunia ini tetapi kita tidak sama dengan dunia ini, sebaliknya kita menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini. Jalanilah hidup ini dengan sukacita dan penuh pengharapan sebab Tuhan menjadi benteng hidup kita, Dia menyertai kita sebagai sahabat dan milikNya.

 

Doa:    Ya Tuhan. Dalam dunia ini ajar kami untuk selalu melekatkan hati kami dan percaya kepadaMu. Sehingga kami menjalani hidup di dunia ini dengan sukacita dan damai sejahtera sebab Engkau yang menyertai dan meluputkan kami dari segala mara bahaya. Amin.

Menyanyikan Kebesaran Tuhan Februari 27, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
2 comments

Renungan Malam Jumat 27 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Menyanyikan Kebesaran Tuhan  

 ( Ulangan 32: 1 – 4 )

 

 “Pasanglah telingamu, hai langit, aku mau berbicara, dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulutku.” (ay.1)

 

            Nas ini adalah sebahagian dari nyanyian yang diperdengarkan oleh Musa ditengah-tengah persekutuan umat Israel. Musa memperdengarkan nyanyian yang sekaligus juga pengajaran kepada umat Israel adalah atas perintah Tuhan. Yang dinyanyikan Musa adalah kebesaran Tuhan; dimana dengan nyanyian tersebut dimaksudkan untuk menanamkan kesan kepada Israel bahwa seluruh keberadaan mereka merupakan hasil dari kesetiaan dan kemurahan Allah. Tuhan sendiri menuntun dan memelihara mereka. Dengan memahami nyanyian Musa yang menyanyikan kebesaran perbuatan Tuhan diharapkan umat Israel tetap menjaga kesetiaan mereka kepada Tuhan.

            Secara alegoris Musa mengajak supaya langit dan bumi mendengarkan suara nyanyiannya; yang sebenarnya dia ajak untuk memasang telinga dan mendengarkan nyanyiannya adalah bangsa Israel yang akan memasuki tanah perjanjian. Dengan memasang telinga, Musa mengharapkan nyanyian dan pengajarannya menitik laksana hujan, menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas  tumbuh-tumbuhan. Perkataan-perkataan ini menggambarkan bahwa apa yang hendak disampaikannya adalah sesuatu yang sangat penting dan bermamfaat bagi umat kehidupan bangsa Israel ke masa depan di tanah perjanjian, tanah Kanaan; sebab yang akan dinyanyikan Musa adalah mengenai keberadaan Tuhan. Dalam nyanyiannya Musa mengajarkan bahwa Tuhan adalah gunung batu, pekerjaanNya sempurna,  segala jalan-Nya adil, Allah setia dan tiada kecuranga, Tuhan itu adil dan benar. Dengan mengetahui keberadaan Tuhan tersebut, Musa mengajak bangsa Israel untuk memberikan kemuliaan, hormat dan kekuasaan kepada Tuhan.

            Saudara-saudara, sama seperti Musa kita juga diajak untuk menyanyikan kebesaran dan rahmat Tuhan di dalam kehidupan kita. Banyak hal yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini, tetapi sampai sekarang kita masih dapat berdiri dan melanjutkan perjalanan kita sebab Tuhan gunung batu bagi kita. Tuhan setia menyertai dan memelihara kehidupan kita. Pekerjaan-pekerjaan Tuhan begitu sempurna di dalam kehidupan kita sehingga segala sesuatu dapat kita lewati dengan sukacita. Bagaimanakah hidup yang Menyanyikan kebesaran Tuhan? Dengan mempersembahkan kehidupan kita hanya untuk memuliakan Tuhan. Selamat menyanyikan kebesaran Tuhan.

             

 

Doa:    Ya Tuhan Bapa kami di dalam sorga, kami mengaku bahwa hanya karena kasih setiaMu yang menyertai dan memelihara kehidupan kami. Kuatkan kami dengan Roh Kudus untuk menyanyikan kebesaranMu di dalam kehidupan kami. Amin.

Yang Mengandalkan Tuhan Tidak Akan Dipermalukan Februari 26, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 26 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Yang Mengandalkan Tuhan Tidak Akan Dipermalukan

( Mazmur 31: 2 – 9 )

 

“Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!” (ay.2-3)

 

Pe-mazmur sedang mengalami situasi yang genting di dalam hidupnya. Nama baik pe-mazmur dijatuhkan oleh para musuhnya, ia dicela (Mzm.31:12) oleh persekongkolan orang (Mzm.31:21), ia dikejar-kejar (Mzm.31:16), dia ditinggalkan orang (Mzm.31:12-13), menderita sakit (Mzm.31:10-11), dipermalukan, seakan-akan ia tidak lagi orang dikasihi Tuhan, bahkan dia adalah orang yang dibuang Tuhan (Mzm.31:23). Dalam situasi yang genting tersebut pe-mazmur berdoa dan meminta tolong kepada Tuhan; situasi yang genting tersebut membuat pe-mazmur memohon supaya Tuhan bersegera melepaskan dia. Pe-mazmur menyerahkan permasalahan hidup yang dihadapinya kepada Tuhan dengan harapan bahwa dia tidak akan malu oleh karena musuh-musuhnya. Pe-mazmur hanya mengandalkan Tuhan dan dengan penuh percaya dia berkata: “ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku”.  Bagi pe-mazmur sebagai penolong Tuhan itu sangat terbukti dan setia, bagi pe-mazmur Tuhan adalah gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan yang menyelamatkan, penuntun dan pembimbing.

Bagaimana dengan kita saat ini. Siapakah yang kita andalkan di dalam kehidupan kita? Pada masa-masa sulit dan genting kepada siapakah kita berlindung? Nas ini mengingatkan kita hanya Tuhanlah yang harus kita andalkan. Tuhan tidak akan membiarkan kita dipermalukan oleh dunia ini dan oleh musuh-musuh kita sebaliknya Tuhan akan meluputkan kita dengan keadilanNya. Dia tidak akan menyerahkan kita ke tangan musuh-musuh kita, tetapi Dia akan membebaskan kita dari segala kesesakan yang kita hadapi. Hidup percaya dan mengandalkan Tuhan itu artinya di dalam hidup kita tidak ada ilah-ilah lain, sebab Tuhan membenci orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi pergumulan-pergumulan di dunia ini, kita tidak perlu takut dan khawatir sebab kita mempunyai Tuhan yang telingaNya tajam mendengar teriakan kita minta tolong dan pertolonganNya tidak pernah terlambat selalu tepat pada waktunya. Selamat mengandalkan Tuhan.

 

  

Doa:    Ya Tuhan. Engkaulah tempat perlindungan dan kubu pertahanan yang menyelamatkan kami. Kami berserah dan percaya hanya kepadaMu jangan biarkan kami dipermalukan dan binasa oleh karena musuh-musuh kami. Amin.

Di Dalam Kesesakan, Berserulah Kepada Tuhan Februari 23, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Senin 23 Pebruari  2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Di Dalam Kesesakan, Berserulah Kepada Tuhan

(2 Samuel 22: 1 – 7, 47)

 

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.”(ay.7)

 

Nas kita ini adalah sebagian dari nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. Artinya nyanyian syukur ini lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya; dimana dia diselamatkan dan dilepaskan dari mara bahaya yang mengancam hidupnya. Di ay.5-6 digambarkan seperti apa kesesakan yang dialami oleh Daud: “gelora-gelora maut mengelilinginya, banjir-banjir jahanam menimpanya, tali-tali dunia orang mati telah membelitnya, dan perangkap-perangkap maut terpasang di depannya”.  Dari gambaran tersebut kita dapat menyimpulkan betapa berbahayanya kehidupan yang sedang dihadapi pe-mazmur yaitu Daud, secara logika hampir-hampir tidak mungkin untuk selamat. Tetapi di dalam kesesakan tersebut Daud melakukan hal yang benar dengan berseru dan berteriak kepada Tuhan yang adalah gunung batu dan tempat perlindungan, perisai dan tanduk keselamatan, kota benteng tempat pelarian dan juruselamat. Tuhan mendengar seruan pe-mazmur dari baitNya dan  teriakannya minta tolong masuk ketelinga Tuhan. Itu artinya Tuhan menyelamatkan pe-mazmur dari marabahaya yang menghimpitnya dan dari kecelakaan yang akan menimpanya.

            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Ketika kita mengalami kesesakan kepada siapakah kita berseru meminta pertolongan? Siapakah yang kita jadikan sebagai gunung batu, tempat perlindungan, perisai dan kota benteng tempat pelarian ketika kita menghadapi pergumulan hidup yang menghimpit kita?  Di dalam kesesakan yang kita hadapi berserulah kepada Tuhan dan Dia akan bertindak untuk menyelamatkan kita. Firman Tuhan dalam Mazmur 50:15 mengatakan: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Berseru dan berteriak kepada Tuhan menunjukkan hidup yang berserah dan mempercayakan hidup hanya kepada Tuhan tidak kepada yang lain. Dengan nas ini kita diingatkan untuk tidak takut dan khawatir akan kesesakan-kesesakan yang kita hadapi di dunia ini. Kita mempunyai Tuhan yang setia mendengarkan seruan dan teriakan kita minta tolong.

Tuhan menyelamatkan kita dari kesesakan, apakah yang menjadi jawaban kita akan keselamatan tersebut? Sama seperti Daud kita terpanggil untuk memuji Tuhan. Di dalam puji-pujian Daud menyaksikan: “TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku (ay.47).  

 

Doa:    Ya Tuhan, dalam dunia ini kami sering menghadapi situasi yang membuat kami mengalami kesesakan; kami memohon kiranya Tuhan menyelamatkan kami. Dengan Roh Kudus ingatkan kami untuk berseru dan berteriak hanya kepadaMu dan memuji serta memuliakan namaMu sebab Engkau gunung batu, kota benteng keselamatan kami. Amin.

Tuhan Bersama Kita Februari 21, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Sabtu 21 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Bersama Kita

( Yosua 5: 13 – 15 )

 

“Jawabnya: “Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: “Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” (ay.14)

           

            Yosua mendapat penglihatan ketika dia melayangkan pandangannya, dia melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya dengan pedang terhunus ditangannya. Yosua bertanya: “kawankah engkau atau lawan”?. Laki-laki tersebut menjawab: “dia bukan lawan tetapi dia adalah Balatentara Allah”. Mendengar laki-laki tersebut memperkenalkan dirinya adalah Balatentara Allah, Yosua sujud menyembah dan berkata: “apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?”. Yosua mempersiapkan dirinya untuk mendengar apa yang akan disampaikan Tuhan kepadanya melalui Balatentaranya. Oleh Balatentara Tuhan, Yosua diperintahkan untuk membuka kasutnya sebab tanah tempat dimana dia berdiri adalah kudus. Kejadian tersebut menyadarkan Yosua akan kehadiran Allah yang tidak tampak bersama BalatentaraNya, yang siap berperang bersama dengan umatNya yang setia.

Dalam dunia saat ini, walaupun tidak mustahil terjadi, mungkin kita tidak mengalami seperti apa yang dialami oleh Yosua, dimana kita bertemu dengan Balatentara Tuhan. Namun, pengalaman Yosua ini mengajarkan kita bahwa kita tidak sendiri dalam pergumulan yang kita hadapi dalam dunia ini. Ada kuasa-kuasa rohani yang berperang demi kita; kita memiliki Roh Kudus yang senantiasa mendampingi kita sebagai penolong dan pelindung kita (Yoh.14:16-23). Kita tidak perlu khawatir akan apa pun yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini. Asal kita setia kepadaNya, kita mengimani dan percaya bahwa Tuhan bersama-sama dan dekat dengan kita untuk menyertai dan memelihara kehidupan kita; maka kita akan dapat menghadapi setiap pergumulan-pergumulan hidup di dunia ini.

Oleh sebab itu, di dalam iman percaya bahwa Tuhan bersama dengan kita konsekuensinya adalah dalam setiap kejadian yang kita hadapi hendaknyalah menumbuhkan pertanyaan di dalam diri kita: “apakah yang hendak dikatakan Tuhan di dalam hidup kita?”. Kita juga meninggalkan segala perbuatan yang tidak dikehendakiNya dan kita hidup di dalam kekudusan. Hidup di dalam kekudusan artinya mempersembahkan hidup kita menjadi milik dan kepunyaan Allah untuk Dia pergunakan melakukan kehendakNya.             

               

 

Doa:       Bapa kami di dalam sorga. Teguhkan iman percaya kami akan kehadiranMu di dalam setiap kejadian yang kami alami di dunia ini bahwa kami tidak sendirian, tetapi Engkau senantiasa bersama-sama dengan kami sehingga kami tidak khawatir, takut dan putus asa. Kuatkan kami untuk melakukan kehendakMu dalam kehidupan kami. Amin.

Percaya Dan Taat Akan Diselamatkan Februari 20, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Jumat 20 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Percaya Dan Taat Akan Diselamatkan  

 ( Keluaran 12: 21 – 23 )

 

“Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi” (ay.23)

 

            Untuk membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, Tuhan menulahi bangsi Mesir dengan sepuluh tulah. Pada saat Tuhan akan melaksanakan tulah yang ke-sepuluh yaitu kematian anak sulung baik manusia maupun binatang dari anak sulung hamba sampai anak sulung raja Firaun; Dia melalui hambaNya Musa memerintahkan bangsa Israel untuk mengambil anak domba Paskah untuk disembelih dan darahnya disapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu rumah. Pada saat Tuhan menjalani Mesir untuk menulahinya, apabila Ia melihat darah pada pintu rumah maka Tuhan akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk dalam rumah tersebut untuk menulahinya.

            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mengambil dan menyembelih kambing domba dan menyapukan darahnya di ambang atas dan pintu rumah yang diperintahkan Tuhan bukanlah sesuatu perkara yang sulit untuk dilaksanakan. Namun untuk melaksanakannya dibutuhkan kepercayaan dan ketaatan untuk melakukannya. Bangsa Israel melakukan seperti yang diperintahkan oleh Tuhan melalui Musa, dan pada saat Tuhan menjalani Mesir  pemusnah tidak memasuki rumah-rumah bangsa Israel sedangkan di dalam rumah-rumah bangsa Mesir bahkan di istana raja Firaun terjadi ratapan dan perkabungan karena kematian anak sulung.

            Bagaimana dengan kita saat ini? Di tengah-tengah dunia yang penuh dengan pergumulan dan penderitaan saat ini, apakah kita tetap percaya dan taat kepada Tuhan Yesus Kristus? Dia-lah anak domba Paskah yang menyelamatkan dunia  ini dari kuasa dosa dan kematian dengan darahNya yang ditumpahkan di Golgota. Kepada kita Tuhan Yesus Kristus sudah mengajarkan untuk tidak takut dan khawatir, Dia juga menjanjikan penyertaanNya kepada kita sampai kepada akhir zaman dan Dia juga mengajarkan kepada kita bagaimana hidup sebagai orang-orang percaya dan sudah diselamatkan . Apakah kita percaya dan taat kepada setiap firman yang diucapkanNya? Jika kita percaya dan taat maka kita akan diselamatkan dari segala bentuk pergumulan dan penderitaan yang kita hadapi di dunia ini. Percayalah kepada Tuhan dan taatlah akan firman dan perintahNya maka kita akan diselamatkan dari pergumulan dan penderitaan di dunia ini.

 

Doa:    Ya Tuhan Bapa kami di dalam sorga, ajar kami agar senantiasa percaya dan taat kepadaMu. Kuatkan kami dengan Roh KudusMu supaya kami tetap percaya, taat dan setia kepadaMu walaupun dalam dunia ini kami menghadapi berbagai macam pencobaan dan penderitaan. Hanya di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, dengarlah doa dan permohonan kami ini. Amin.

Tinggalkan Dukacita. Lakukan Pengutusan Tuhan Februari 19, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Kamis 19 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tinggalkan Dukacita. Lakukan Pengutusan Tuhan

(1 Samuel 15: 35b – 16:3)

 

“Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku” (16:1)

 

Tuhan memerintahkan raja Saul untuk menumpas bangsa Amalek tanpa belas kasihan; namun yang dilakukan raja Saul tidaklah demikian. Dia dan rakyatnya tidak menumpas semua bangsa Amalek, mereka menyelamatkan Agag raja Amalek menjadi tawanan dan merampas harta bendanya. Karena ketidaktaatan Saul tersebut, Tuhan menyesal telah mengangkatnya menjadi raja. Tapi Samuel abdi Tuhan itu merasa berdukacita dengan apa yang dialami raja Saul, sehingga dia berusaha menolak perintah Tuhan untuk pergi ke Betlehem, kepada Isai, untuk mengurapi seorang dari antara anak-anak Isai yang menjadi raja atas Israel. Selain berdukacita atas apa yang dialami raja Saul, Samuel juga takut jika Saul mengetahu bahwa dia pergi ke Betlehem untuk mengurapi seorang yang menjadi raja Israel, dia akan dibunuh raja Saul. Tuhan bertanya kepada Samuel: “berapa lama lagi dia akan berdukacita”? Dia mempunyai tugas yaitu menjalankan atau melakukan pengutusan Tuhan yang diterimanya yaitu mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja atas Israel menggantikan Saul yang telah ditolak oleh Tuhan. Itu artinya Samuel tidak boleh dibelenggu oleh dukacita sebab apa yang terjadi kepada Saul adalah keputusan dan otoritas Tuhan. Samuel harus melakukan tugas dan tanggungjawabnya yaitu sebagai wakil Tuhan untuk mengurapi yang menjadi raja di Israel.

Dalam dunia ini kita tidak terlepas dari rasa dukacita, bisa saja karena kita berpisah dengan orang yang kita cintai karena kematian, karena kita kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita, karena kita atau orang yang dekat dengan kita mengalami penderitaan, dll. Nas ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu lama larut dan dibelenggu oleh dukacita. yang sedang kita alami. Sebaliknya kita diingatkan bahwa kita harus melanjutkan  kehidupan kita di dunia ini sebagai utusan Tuhan. Banyak pekerjaan atau tanggungjawab yang harus kita lakukan; dimana semua itu tidak dapat kita lakukan kalau dukacita yang menguasai kehidupan kita. Oleh sebab itu, tinggalkan dukacita dan lakukanlah apa yang menjadi tugas kita sebagai utusan Tuhan di tengah-tengah dunia ini.

 

  

Doa:       Ya Tuhan yang kami sembah di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus. Jika kami mengalami dukacita jangan biarkan dukacita itu menghalangi kami melakukan tugas dan tanggungjawab kami sebagai utusanMu di dunia ini. Amin.

Tuhan Memampukan Kita Februari 18, 2009

Posted by Agus Dasa Silitonga in Renungan Harian Palito.
add a comment

Renungan Malam Rabu 18 Pebruari 2009

Dari Almanak HKBP Bacaan Malam Hari

 

Tuhan Memampukan Kita  

(Keluaran 3: 10 – 12)

 

“Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (ay.12)

             

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab di dalamnya terdapat tanggungjawab yang besar, apalagi memimpin sebuah bangsa.  Sang pemimpin dituntut memiliki hikmat menghadapi bangsanya sendiri dan menghadapi bangsa-bangsa disekitarnya. Musa dipanggil dan diutus Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, dimana tugasnya yang pertama adalah menemui Firaun, raja Mesir, untuk meminta bangsa Israel diperbolehkan dia bawa keluar dari Mesir. Pengutusan tersebut sangat berat dirasakan oleh Musa sehingga dia berkata kepada Tuhan: “siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”. Musa menyadari keterbatasan dan ketidaksanggupannya mengemban tugas yang mulia dan berat tersebut, dia merasa tidak mampu melaksanakan tugas tersebut. Tuhan tidak membiarkan hidup di dalam keragu-raguan; Tuhan meneguhkan Musa untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut; Tuhan tidak membiarkan Musa sendirian menemui Firaun tetapi Tuhan akan menyertainya. Sebagai tanda akan penyertaan Tuhan tersebut kepada Musa disampaikan bahwa setelah Musa membawa keluar umat Israel dari Mesir maka dia akan beribadah kepada Allah di gunung Horeb.   

Bisa saja terjadi dalam kehidupan kita di dunia ini mengalami hal seperti yang dialami Musa. Kepada kita diberikan atau dipercayakan suatu tanggungjawab; kita merasakan tanggungjawab tersebut berat dan kita merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Memang jika kita hanya mengandalkan diri kita sendiri kita tidak mampu menjalankan tanggungjawab tersebut dengan baik dan bertanggungjawab, mis: sebagai seorang pemimpin dalam pemerintahan atau swasta, sebagai seorang suami atau orangtua, sebagai hamba Tuhan yang memimpin jemaat, sebagai seorang yang memberitkan injil, dll. Tetapi bersama dengan Tuhan segala tanggungjawab dapat kita laksanakan dengan baik dan kita pertanggungjawabkan kepada manusia terlebih kepada Tuhan.

Saudara-saudara,  setiap pekerjaan atau pun pelayanan yang sedang kita lakukan dan gumuli saat ini, sepanjang kita melakukannya sesuai dengan kehendak Tuhan; maka Dia pasti menyertai dan memberikan kekuatan kepada kita, serta memampukan kita untuk melakukan dengan baik dan bertanggungjawab. Mungkin kita akan berhadapan dengan Firaun-Firaun zaman sekarang yang mencoba menghalang-halangi dan menggagalkan kita melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut; tetapi hal tersebut akan dapat kita lalui dimana Tuhan mempergunakan  segala potensi yang ada pada kita untuk melaksanakannya.

Akhirnya, hidup beribadah adalah jawaban kita atas penyertaan Tuhan yang memampukan kita melakukan tugas dan tanggungjawab kita. Hidup beribadah itu berarti kita hidup mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

 

Doa:    Kami puji dan muliakan namaMu, ya Tuhan kami,.yang menyertai kami dalam setiap kehidupan kami.  Engkau memampukan kami dalam melakukan tugas dan tanggungjawab kami. Bentuklah hidup kami menjadi ibadah yang berkenan dihadapanMu. Amin.